Kembangkan Pangan Lokal, Disperpa Gelar Pelatihan Olahan Buah-Buahan

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG - Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang tanggal 11-13 Maret 2019 lalu kembali menggelar pelatihan produk olahan berbahan baku buah bagi 45 orang anggota kelompok PKK di Kota Magelang. Kegiatan yang dihelat selama 3 hari tersebut diharapkan dapat mendukung pemantapan ketahanan pangan di Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko menyatakan bahwa pengembangan diversifikasi pangan akan semakin efektif apabila didukung oleh ketersediaan aneka ragam bahan pangan melalui pengembangan pengolahan pangan lokal dan perilaku konsumen. mengkonsumsi aneka ragam pangan. Pemanfaatan pangan lokal yang bersumber dari aneka umbi, sayur dan buah sudah banyak dikembangkan dengan dijadikan olahan pangan.

Buah adalah jenis bahan pangan yang mudah ditemukan dan banyak manfaatnya. Manfaat buah-buahan untuk tubuh sangat banyak dan beragam. Buah umumnya merupakan salah satu kebutuhan untuk hidup sehat, yaitu sebagai sumber vitamin dan dapat mencegah penyakit tertentu. Buah memiliki sifat yang mudah rusak dan mudah busuk, sehingga kadar keawetannya kurang. Oleh karena itu ada baiknya buah-buahan diolah terlebih dahulu. Sehingga lebih awet dan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari buah tersebut.

Meskipun di Kota Magelang belum banyak dibudidayakan aneka tanaman buah-buahan, akan tetapi ketersediaan buah di Kota Magelang dapat tercukupi dari daerah sekitar yang masuk ke pasar Kota Magelang. sehingga masyarakat dengan mudah memperoleh aneka macam buah-buah yang dibutuhkan. Sehingga sangat potensial untuk dikembangkan dalam diversifikasi konsumsi pangan melalui pengolahan pangan berbahan buah-buahan.

Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan Bidang Pangan Disperpa Kota Magelang, M.Makfud menambahkan bahwa pelatihan digelar untuk meningkatkan keterampilan dan motivasi masyarakat dalam pengembangan diversifikasi tanaman dan pengolahannya. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di 3 lokasi yaitu Aula Disperpa Kota Magelang, SMKN 1 Temanggung dan Dapur Seruni Berbah Kabupaten Sleman DIY.

Selama 3 hari peserta mendapatkan sejumlah materi pelatihan olahan pangan berbahan baku buah-buahan, terbagi menjadi 3 season kegiatan yaitu teori, praktek dan motivasi.

  • Season 1 (hari pertama) teori bertempat di Aula Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, dengan 2 narasumber yaitu (1) Narasumber dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakartadisampaikan oleh :Dr.Ir. Rofandi Hartanto, M.P. , (2) Narasumber dari SMKN 1 Temanggung
  • Season 2 (hari kedua) praktek pembuatan olahan pangan berbahan baku buah-buahan di SMKN 1 Temanggung. Adapun olahan pangan yang dipraktekkan antara lain dodol papaya, sari buah sirsak, sirup buah jambu biji merah, pisang aroma
  • Season 3 (hari ketiga) observasi lapangan ke Dapur Seruni Dusun Gamelan, Jetak, Desa Sendangtirto, Berbah, Kab. Sleman. Didampingi 2 narasumber yaitu Ratna Perwira dan Suyadi, peserta melakukan observasi lapangan. Dalam observasi lapangan ini, peserta diberikan motivasi untuk melakukan usaha pengolahan pangan dengan bahan organ pohon pisang. Semua organ pohon pisang dapat dijadikan olahan pangan seperti kerupuk kulit pisang, sirup daun pisang, semprong bonggol pisang, manisan kulit pisang, sambal pisang, dendeng bonggol pisang, serundeng pisang, stick jantung pisang dan teh akar pisang. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan demo/praktek pembuatan sambal pisang.(among_wibowo, red)

Puskeswan Kota Magelang Maju Lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional 2019

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kota Magelang tahun ini (2019,red) berjuang meraih prestasi pada lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional. Lomba pelayanan publik bidang pertanian sub sektor peternakan yang diselenggarakan Kementerian Pertanian tersebut dimulai sejak tahun 2015 dan dilaksanakan dua tahun sekali.

Kepala Puskeswan, drh Heru Trisusila, senin (18/3) membenarkan informasi tersebut. Menurutnya Puskeswan sebagai salah satu unit pelayanan pada Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang itu layak mengikuti lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional yang ke-3 karena memiliki beberapa keunggulan dalam pelayanan. Juara pertama dokter hewan berprestasi tingkat Jateng tahun 2017 itu menerangkan, sebelum menjadi puskeswan yang berkantor di Jalan Pahlawan Nomor 8, statusnya masih unit pelayanan bergabung dengan Kantor  Disperpa Kota Magelang.

Puskeswan Kota Magelang yang saat ini baru menginjak usia tiga tahun (berdiri sejak berdiri 16 Maret 2016) ditangani 3 dokter hewan yaitu drh. Heru Trisusila, drh. Arif Febrianto dan drh. Farida Chandra Kumala serta 5 orang tenaga paramedis dan 3 orang groomer (petugas yang memandikan binatang). Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pelayanan vaksinasi rabies, pelayanan pemeriksaan kebuntingan dan gangguan reproduksi, pelayanan medik reproduksi dengan USG, dan pelayanan kesehatan hewan ( pemeriksaan rawat jalan, operasi bedah minor dan operasi bedah mayor).

Pelayanan lainnya antara lain perawatan hewan (grooming/mandi), inseminasi buatan, rawat inap sehat, rawat inap sakit dan pemeriksaan penerbitan surat keterangan kesehatan hewan. ‘’Jenis binatang yang dilayani meliputi ternak sapi, domba, kambing, ayam, kucing, iguana, ular, kura-kura, burung, ayam termasuk ayam Bangkok dan aneka jenis unggas. Adapun pasien tidak hanya dari Kota Magelang, tetapi juga dari Kabupaten Magelang dan  Kabupaten Temanggung,’’ ujarnya.

Heru menegaskan terkait tarif pelayanan harganya relatif  terjangkau. Menurutnya untuk biaya pelayanan kesehatan Rp 30 ribu, bedah minor Rp 50 ribu, bedah mayor Rp 100 ribu, inseminasi buatan Rp 30 ribu, rawat inap sehat Rp 25 ribu/hari, rawat inap sakit Rp 35 ribu/hari dan biaya USG Rp 60 ribu. ‘’Untuk makanan binatang bawa sendiri atau beli di koperasi Puskeswan. Karena makanan binatang seperti kucing tidak sama, tergantung pemiliknya,’’ tandasnya.

Terinformasi rata-rata pasien yang dilayani Puskewan setiap tahunnya mencapai 630 hewan baik hewan piaran, ternak dan lainnya. Penyakit hewan kecil kebanyakan disebabkan virus seperti muntah, angka kematiannya tinggi untuk kucing. Hewan besar seperti sapi biasanya cacingan.

Di akhir wawancara, terkait persiapan menghadapi lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional tahun ini, Puskeswan terus mempersiapkan empat aspek penilaian yang terdiri atas 22 sub aspek. ‘’Syaratnya harus mempunyai indeks kepuasaan masyarakat (IMP) yang dikeluarkan Bagian Organisasi Pemkot Magelang, nilai minimal 75. Nilai Puskeswan Kota Magelang 78,23,’’ terangnya (among_wibowo, red)

Aloe vera, Komoditas Idola Baru di Kota Magelang

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG,-Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang melalui kegiatan Pengembangan Urban Farming menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Lidah Buaya (Aloe vera)di lahan sempit selama 3 hari mulai 4-6 Maret 2019. Rangkaian kegiatan ini diikuti 70 peserta dari 3 kecamatan di Kota Magelang. Tampil sebagai instruktur antara Sutardi,Api, MMA (Widyaiswara Bapeltan Soropadan) dan Imam Rodli, SPt, MMA (Pimpinan P4S Rama Vera, Wates- Kulon Progo DIY) dan Cory Febry Astuti (Selmutz Magelang). Seperti biasanya metode pelatihan menggunakan komposisi 40% teori dan 60 % praktek tentang budidaya dan pengolahan Aloe vera yang lebih baik.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting sebagai modal dasar peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian Kota Magelang untuk mewujudkan pengembangan komoditas ikonik Aloe vera dalam rangka menunjang pengembangan kegiatan Urban Farming di Kota Magelang. Kegiatan yang menghadirkan sejumlah narasumber dan praktisi itu diharapkan mampu memberikan bekal ketrampilan bagi masyarakat di Kota Magelang. “Kami berharap ke depan bisa muncul beberapa dari peserta ini yang sukses sebagai pelaku agribisnis Aloe vera di Kota Magelang,”tambahnya.

Terkait pelaksanaan kegiatan, dijelaskan Agus, pada hari pertama peserta menerima materi Dinamika Kelompok dan Praktek Budidaya Aloe vera. Kemudian pada hari kedua dilanjutkan dengan materi Olahan Aloe vera dan praktek pengolahan Aloe vera menjadi ice cream, nata de aloe dan teh Aloe vera. “Selanjutnya untuk lebih memberikan wawasan tentang diversifikasi dan legalisasi produk, pada hari terakhir peserta diberikan bekal praktek pengolahan Aloe vera menjadi selai dan minuman squash serta materi Perijinan Sertifikasi P-IRT.

Salah satu instruktur pelatihan, Imam Rodli menjelaskan bahwa kiat sukses menjalani bisnis Aloe vera adalah niat ikhlas, ketekunan dan inovasi. Ditambahkannya, komoditas Aloe vera secara budidaya sangat mudah dirawat, sedangkan secara pasca panen relatif mudah dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang terlalu mahal. “Dua kunci lainnya yang tak kalah penting adalah membangun jejaring antar pelaku agribisnis Aloe vera baik di dalam maupun di luar Kota Magelang dan memenuhi batas skala usaha, “tandasnya.

       Sementara itu perwakilan peserta pelatihan, Supartomo, di sela-sela kegiatan mengharapkan agar Disperpa secara kontinyu memberikan pembinaan dan pendampingan komunitas penggiat Aloe vera di Kota Magelang. “Saya mewakili peserta yang hadir, mohon agar Dinas dapat menjembatani kebutuhan peserta setelah pelatihan sehingga dapat terus berkembang ilmu, ketrampilan dan usahanya dalam budidaya, pengolahan dan pemasaran Aloe vera. Syukur-syukur nantinya peserta juga difasilitasi (diajak, red) untuk kunjungan lapang ke lokasi dan industri Aloe vera di luar daerah, khan peserta bisa semakin berkembang wawasannya,”ujarnya. (among_wibowo,red).

Disperpa Kota Magelang Dorong Masyarakat Kembangkan Olahan Pangan Non Beras

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

       Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang mendorong masyarakat untuk melaksanakan diversifikasi pangan dengan mengembangkan olahan pangan non beras. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan lokal yang beragam, mendorong dan meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan atau menciptakan menu pangan berbasis sumberdaya lokal dan membangun budaya keluarga untuk mengkonsumsi aneka ragam jenis pangan.

Terkait dengan hal itu Disperpa menyelenggarakan Pelatihan Pengolahan Pangan Non Beras bagi anggota PKK Kota Magelang dan masyarakat pada akhir pebruari lalu selama 3 hari (26 – 28 Pebruari 2019) ke sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, Ir. Eri Widyo Saptoko, M.Si menyatakan bahwa pangan sebagai kebutuhan manusia yang tidak dapat ditunda-tunda, harus tersedia setiap saat dalam jumlah yang cukup. Berdasarkan atas pentingnya pemenuhan kecukupan pangan, kata Eri, pembangunan di bidang ketahanan pangan harus didahulukan sebagai fondasi bagi pembangunan di sektor lainnya. “Ketahanan pangan akan tercapai apabila ketersediaan pangan merata, terjangkau, serta cukup baik dari segi jumlah, mutu, keamanan maupun keberagamannya,”ujarnya.

Pada hari pertama peserta mendapatkan materi pengantar dan persiapan praktek olahan pangan lokal di aula Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang. Hari kedua peserta melaksanakan kegiatan praktek olahan pangan non beras di Rumah Ketela Borobudur, Kabupaten Magelang. Dan pada hari terakhir, dilaksanakan kunjungan lapangan ke pengolah pangan lokal Super Roti Rumah Bekatul Globalnet di Kabupaten Semarang. Secara umum gambaran kegiatan selama tiga hari sebagai berikut :

Pelatihan hari pertama

Narasumber ibu Maidar pemilik Rumah Ketela Borobudur. Menyampaikan bahwa pangan lokal bisa dijadikan makanan yang tidak kalah menarik dengan pangan yang berbahan baku impor seperti terigu. Pengolahan ini memerlukan kreativitas dan variasi sehingga tercipta hasil masakan yang menarik dan lezat.

Pelatihan hari kedua

Peserta pelatihan praktek mengolah makanan di Rumah Ketela Borobudur. Makanan yang diolah berupa risoles mocaf, talam ubi ungu, egg roll mocaf dan cake pisang.

Pelatihan hari ketiga

Kunjungan ke Super Roti Rumah Bekatul Semarang. Di Super Roti, bekatul beras merah dan biji nangka bisa diolah menjadi berbagai macam roti.

Pelaksanaan kegiatan tersebut, menurut Eri, tak lepas dari upaya penganekaragaman yang dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu melalui pemanfaatan bahan-bahan lokal yang sampai saat ini penggunaannya masih terbatas dan melalui pengembangan teknologi pengolahan untuk memperbaiki proses tradisional yang sudah ada.

Melalui pengembangan teknologi pengolahan diharapkan berbagai sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi produk olahan pangan yang lebih bervariasi, bergizi dan menarik. Pengembangan sumber daya lokal sebagai bahan baku produk olahan pangan dapat mendukung upaya penganekaragaman pangan, memberi nilai tambah, serta menciptakan kesempatan kerja yang baru. (among_wibowo, red)