• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Kembangkan SKPG, Disperpa Targetkan Penurunan Angka Balita Gizi Buruk di Kota Magelang

on .

MAGELANG-Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang pada hari rabu (19/02/2020) di Aula Dinas Pertanian dan Pangan Jl. Kartini No.3 Magelang menggelar Kegiatan Penanganan Daerah Rawan Pangan. Kegiatan fokus pada pembinaan keluarga dan pemantauan pertumbuhan balita kategori gizi buruk oleh Disperpa bersama Dinas Kesehatan, Puskesmas, Bappeda, Badan Pusat Statistik (BPS), Disperindag dan DP4KB. Tujuannya untuk menekan angka balita kategori gizi buruk di Kota Magelang.

 

Kepala Disperpa Kota Magelang Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Cahyaning Dwi Ratri mengatakan bahwa kegiatan pembinaan dan pemantauan terhadap keluarga yang mempunyai balita kategori gizi buruk merupakan implementasi dari UU Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Target utama kegiatan, lanjutnya, untuk menurunkan angka balita gizi buruk di Kota Magelang. Lebih lanjut, Ratri menjelaskan bahwa kegiatan ini sebagai bagian dari pendekatan pencegahan rawan pangan di Kota Magelang melalui pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). “Pengembangan SKPG salah satunya lakukan dengan peramalan situasi pangan dan gizi, termasuk peramalan ketersediaan pangan dan pemantauan pertumbuhan balita,”ujarnya.

 

Secara rinci Ratri mengungkapkan bahwa 20 balita gizi buruk tersebut berasal dari Kecamatan Magelang Selatan (8 balita), Kecamatan Magelang Tengah (7 balita) dan Kecamatan Magelang Utara (5 balita) yang merupakan rekomendasi dari masing-masing Puskesmas. “Selain pembinaan, kepada mereka diberikan pula stimulan paket sembako dan susu sebagai wujud kepedulian dan intervensi Pemerintah Kota Magelang melalui Disperpa,”tandasnya.

 

Pada akhir kegiatan, Ratri memaparkan kepada pihak keluarga sasaran, bahwa gizi merupakan unsur yang sangat penting di dalam tubuh seorang balita. Dengan gizi yang baik, tubuh balita akan sehat dan dapat melakukan aktivitas secara baik. Gizi harus dipenuhi justru sejak masih anak-anak bahkan balita, karena selain penting untuk pertumbuhan badan, juga penting untuk perkembangan otak. “Untuk itulah, saya mohon pengertian para orang tua untuk lebih memperhatikan kebutuhan gizi anak agar tidak mengalami gizi buruk,disamping juga mengetahui apa dan bagaimana kurang gizi itu dan dampaknya bagi anak,”imbuhnya. (among_wibowo, red)

Sukseskan Magelang Moncer Serius, Disperpa Tingkatkan Kompetensi Pecinta Aquascape di Kota Magelang

on .

MAGELANG – Demi mensukseskan Ayo Ke Magelang 2020 melalui tagline Magelang Moncer Serius, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang terus berupaya meningkatkan kompetensi masyarakat Kota Magelang. Salah satunya melalui Pelatihan Aquascape (baca:seni taman di dalam air dengan media kotak kaca) yang dihelat di aula Disperpa selama 3 hari mulai senin–rabu (10-12/02/2020). Pelatihan diikuti belasan warga Kota Magelang pecinta seni aquascape dari kalangan pemuda hingga orang tua.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko menegaskan Disperpa sebagai dinas teknis akan terus dukungan dan pendampingan pengembangan bisnis aquascape yang kini terus berkembang dan menjadi tren di masyarakat. Hal ini sebagai salah satu upaya Pemerintah Kota Magelang melalui Disperpa untuk memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) agar dapat terus berkiprah di tengah keterbatasan sumber daya alam (SDA). Selain itu kegiatan ini diharapkan mampu mendorong sektor pertanian, pangan, peternakan dan perikanan Kota Magelang yang semakin Modern, Cerdas, Sejahtera dan Religius.

Eri didampingi Kabid Peternakan, Hadiono mengungkapkan saat ini pecinta aquascape di Kota Magelang terus bertambah. Ttidak hanya digandrungi kaum milenial, tetapi kaum hawa pun juga mulai melirik seni taman di dalam air dengan media kotak kaca ini. Menurutnya peluang bisnis aquascape masih terbuka luas. Sebab, potensi tanaman air, ikan hias berukuran kecil seperti neon, guppy, molly, dan udang-udang hias belum digarap secara optimal. “Kami mengajak masyarakat untuk menekuni aquascape ini sebagai bisnis,” katanya.

Saat ini, lanjut Eri, ada sekitar 63 binaan Disperpa yang sukses menjalani bisnis ini. Terinformasi di salah satu grup media sosial jumlah anggotanya mencapai 8.200 akun yang tidak hanya diikuti pegiat dari Kota Magelang saja, tapi Magelang Raya. “Melihat potensi tersebut kami coba terus menumbuhkan minat aquascape ke masyarakat termasuk pembelajaran ke sekolah-sekolah, karena mirip miniatur ekosistem bawah air. Di sini ada unsur pembelajaran biologi, fisika, kimia, dan lainnya,” tandasnya.

Sementara itu narasumber sekaligus pakar aquascape asal Magelang, Suharto (56) di sela-sela kegiatan mengatakan aquascape merupakan salah satu karya seni yang bisa dikatakan bernilai seni tinggi dan detail. Suharto menyebut harga satu unit aquascape ukuran sedang saja bisa mencapai 700 ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Ia memaparkan untuk dapat mahir aquascape, harus memahami betul bahan-bahan dan isinya seperti apa. Jangan sampai ketika masyarakat mulai berbisnis dan ditanya-tanya konsumen tidak mengerti. “Bisnis ini butuh ketelatenan, pengetahuan, dan peningkatan keterampilan terus menerus,” tegasnya.

Suharto menilai peserta pelatihan saat ini sangat antusias mengikuti pelatihan yang sudah digelar sejak empat tahun lalu ini. Suharto menjelaskan pada hari pertama, peserta berlatih membuat akuarium dan lampu. Selanjutnya pada hari kedua membuat filter atau canester dan pada hari ketiga seni menghias aquascape. “Sebagai pioneer aquarium di Magelang, saya sangat mengapresiasi Disperpa yang konsisten mengadakan pelatihan ini. Selain menambah skill peserta, juga membuka peluang usaha di sektor perikanan yang bisa mereka geluti setelah ikut pelatihan,” ungkapnya.

Lebih lanjut Suharto yang juga pemilik kios Aquarius di Pasar Ikan Sasana Mina ini menilai, bisnis aquascape sangat menjanjikan untuk ditekuni. Disebutkannya ada sekitar 12 kios yang berbisnis akuarium dan aquascape. “Dari 12 kios itu semuanya laris. Tiap minggu pasti ada pasokan tambahan seratusan akuarium dan cepat laku. Ikan hiasnya juga ikut laris. Karena itu menekuni bisnis ini bisa menjadi sumber pendapatan yang layak diandalkan,” imbuhnya.

Terpisah, Kasi Perikanan Disperpa Kota Magelang, Windo mengutarakan, pelatihan ini sudah rutin dilakukan dan tahun ini merupakan edisi keempat. Ia menambahkan, setelah pelatihan peserta mendapatkan semua peralatan yang bisa digunakan untuk modal usaha. Terkait pelatihan, Windo menuturkan setiap kali penyelenggaraan pesertanya berbeda-beda, dan tidak sedikit yang benar-benar berwirausaha aquascape ini. “Pesertanya umum yang ber-KTP Kota Magelang. Dan kita hadirkan narasumber yang ahli di bidangnya dengan harapan peserta mendapatkan pengetahuan dan skill yang mumpuni serta mampu berwirausaha setelahnya,” tandasnya. (among_wibowo, red)

Berikan Rasa Nyaman Perayaan Natal dan Tahun Baru, Tim Gabungan Disperpa Gelar Operasi Penertiban Daging Asal Luar Daerah

on .

MAGELANG-Tim Gabungan Pemerintah Kota Magelang yang terdiri dari Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa), Satpol PP, Bagian Humas Setda, Polresta Magelang Kota, Kejaksaaan Kota Magelang dan Detasemen CPM Magelang hari selasa (24/12/2019) dini hari menggelar operasi penertiban penjualan daging dan hasil ternak di sejumlah titik rawan dan pasar tradisional di Kota Magelang. Pasar tradisional yang menjadi sasaran operasi antara lain pasar Rejowinangun dan pasar Gotong Royong. Dalam operasi tersebut Tim Gabungan berhasil mengamankan sejumlah bahan asal hewan (BAH) yang dinilai tidak layak dikonsumsi masyarakat. BAH tersebut langsung dimusnahkan dengan cara dibakar di kantor Disperpa Jalan Kartini No.3 Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko kamis (26/12/2019) di ruang kerjanya mengapresiasi kinerja Tim Gabungan sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat selama pelaksanaan natal 2019 dan tahun baru 2020, khususnya yang akan membeli daging dan bahan asal hewan lainnya di wilayah Kota Magelang. Eri menyatakan operasi penertiban penjualan daging dan hasil ternak merupakan kegiatan pengawasan peredaran pangan asal hewan yang bersifat rutin dan dijalankan lebih intensif terutama menjelang hari besar keagamaan termasuk natal dan tahun baru. “Operasi penertiban, selain untuk mengedukasi para pedagang daging dan hasil ternak, juga untuk memberikan efek jera bagi para pelaku/pedagang yang melakukan kecurangan,”tegasnya.

Eri menjelaskan bahwa kegiatan Pengawasan Peredaran Pangan Asal Hewan ini didasarkan pada Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2010 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Surat Keputusan Walikota Magelang Nomor : 524/95/112 Tahun 2019 tentang Pembentukan Tim Penertiban Penjualan Daging dan Hasil Ternak Dari Luar Kota Magelang.

Lebih lanjut Eri menambahkan bahwa daging yang berasal dari luar daerah harus dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan dan Asal Daging serta harus diperiksa ulang kesehatannya oleh Dokter Hewan dan/ atau petugas di RPH setempat. Demikian halnya bila daging hendak dibawa ke luar daerah. Ia menegaskan terkait peredaran daging setiap orang dilarang menjual, mengedarkan, menyimpan, mengolah daging dan / atau bagian lainnya yang berasal dari daging ilegal, daging gelonggongan, daging oplosan, daging yang diberi bahan pengawet berbahaya yang dapat berpengaruh terhadap kualitas daging dan daging yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan dan tidak layak konsumsi. “Jika ada yang terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut dapat dikenai sanksi pidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah),”terangnya.

Terinformasi Tim Gabungan dari 6 instansi itu dalam menjalankan operasi penertiban Penertiban Daging Asal Luar Daerah pada hari selasa (24/12/2019) lalu dibagi menjadi 4 kelompok, dengan sasaran tim 1 berada di Disperpa Jalan Kartini No. 3 Magelang sebagai tim pemantau dan pelaporan, tim 2 beroperasi di pasar Gotong Royong, tim 3 menyisir rute alur distribusi jalannya daging sapi glonggongan di kawasan Karanggading Rejowinangun Selatan dan tim 4 beroperasi di pasar Rejowinangun. Seluruh anggota Tim mulai bekerja pukul 01.00 hingga pukul 07.00 mengingat pada interval waktu tersebut peredaran dan perdagangan daging ke pasar-pasar tradisional mulai ramai.

        Terpisah Kasi Peternakan, Sugiyanto mengungkapkan sejumlah temuan hasil operasi antara lain: 1) pada operasi penertiban di pasar Gotong Royong, Tim melakukan sampling terhadap 2 (dua) pedagang daging asal Boyolali membawa daging yang seberat 6 kuintal. Setelah dilakukan pemeriksaan organoleptik dan laboratorium, daging dinyatakan sehat dan layak diedarkan. 2) pada operasi penertiban terhadap pedaging daging di Karanggading, Tim tdk menemukan adanya kegiatan transaksi penjualan daging sapi asal Boyolali, 3) pada operasi penertiban di pasar Rejowinangun, Tim mengambil sampling 55 kg daging milik salah satu pedagang asal Kelurahan Jurangombo Selatan. Hasil pemeriksaan organoleptik dan laboratorium menunjukkan derajat keasaman daging mencapai pH 6,45 (pH normal daging 5,7-6,1). “Dengan pertimbangan hasil pemeriksaan, seluruh daging disita untuk dimusnahkan. Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar,”tandasnya. (among_wibowo, red)