• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Tak Kenal Lelah, Disperpa Kota Magelang Dorong Produksi dan Diversifikasi Ternak Kelinci Di Masa Pandemi Covid 19

on .

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang tak kenal lelah untuk terus mendorong masyarakat mengembangkan agribisnis ternak kelinci. Terbukti selama 2 (dua) hari sejak selasa hingga rabu, 15-16 September 2020, Disperpa bekerjasama dengan Komunitas Kelinci Kota Magelang, giat menggelar kegiatan pelatihan berbasis kelinci di aula Disperpa. Kegiatan pelatihan yang menerapkan protokol kesehatan covid 19 itu pada hari pertama fokus pada Budidaya Ternak Kelinci, sedangkan hari kedua fokus pada Manajemen Pemasaran Ternak Kelinci. Kegiatan ini diikuti 15 peternak yang tergabung dalam komunitas kelinci Kota Magelang. Didukung narasumber dari Republik Terwelu, kegiatan ini dimaksudkan untuk terus mendorong masyarakat Kota Magelang dalam agribisnis ternak kelinci dan mendukung upaya pengembangan Integrated Urban Farming (Pertanian Perkotaan Terpadu) di Kota Sejuta Bunga. Selesai pelatihan, para peserta memperoleh paket bahan percontohan masing-masing berupa sepasang ternak kelinci dan pakan sebagai modal awal budidaya kelinci.

 

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko ditemui di ruang kerjanya, jumat (18/09/2020) menegaskan kembali pentingnya ternak kelinci sebagai bagian tak terpisahkan dalam pengembangan Integrated Urban Farming di Kota Magelang, khususnya di masa pandemi covid 19. Menurutnya potensi masyarakat Kota Magelang untuk terus mengembangkan ternak kelinci sangat besar, terutama di masa pandemi covid 19 ini. Peluang untuk menjadi sumber pendapatan baru masyarakat juga sangat terbuka berkaca pada tren kebutuhan daging kelinci dan ternak kelinci sebagai hewan kesayangan yang terus meningkat dengan ceruk pasar masih sangat terbuka. “Saya melihat atensi masyarakat Kota Magelang juga sangat baik. Mudah-mudahan agribisnis ternak kelinci ini dapat berkembang dengan segenap diversifikasi produknya seiring pengembangan Urban Farming sekaligus berkontribusi dalam peningkatan kesejahteraanpeternak kelinci,”tegasnya.

Terinformasi dalam kesempatan pelatihan ini empat narasumber membagikan pengalamannya dalam beternak kelinci dan sejumlah motivasi kepada para peserta. Adapun fokus materi pelatihan yang disampaikan keempat narasumber dari komunitas kelinci “Republik Terwelu” itu yaitu PengenalanTeknis Budidaya Kelinci(Basuki dan Muhklasin) dan Manajemen Pemasaran dan Diversifikasi Produk Olahan Kelinci (Aryono Septa dan Agung Soewarno). Secara umum untuk sukses dalam agribisnis ternak kelinci perlu sinergitas antara pengembangan budidaya dan manajemen pemasaran ternak kelinci. Sukses beternak kelinci sangat penting, namun jauh lebih penting lagi aspek pemasaran perlu dikuasai peserta sebagai tolok ukur berjalannya ternak kelinci secara berkesinambungan. Kendala pasti banyak, namun dengan niat dan usaha tentunya peluang ekonomi dapat kita ciptakan dari ternak kelinci,cetus Aryono Septa, salah satu narasumber.

Terkait budidaya ternak kelinci, para narasumber kompak menyatakan bahwa beternak kelinci itu tidak sulit tetapi peserta juga tidak boleh dianggap mudah. Kuncinya peternak harus memiliki kasih sayang dan perhatian kepada ternak kelinci. Dirangkum dari narasumber, potensi pasar ternak kelinci sangat besar karena jaminan harga daging per kilogram yang stabil dari waktu ke waktu, yaitu di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram hidup. Belum lagi bicara potensi olahan rica dari tulang dan kerajinan kulit kelinci. Potensi penjualan sate kelinci juga sangat besar. Bisa dibayangkan bila berbicara pasar angkringan, 1 angkringan biasanya membutuhkan 40 tusuk sate perhari. Kalau ada 5 angkringan saja yang menjual sate daging kelinci artinya ada potensi penjualan 200 tusuk sate/hari dengan margin keuntungan 100%. Asumsi itu diungkap salah satu narasumber, Agung Soewarno yang saat ini banya kberkecimpung di bidang usaha kuliner dan Coffee Shop.

         Terpisah, Kasi Peternakan, Sugiyanto berharap kegiatan inidi masa pandemi covid 19 menjadi embrio baru terus berkembangnya ternak kelinci dan usaha masyarakat berbasis kelinci hingga ke varian produknya seperti sate, abon, rica dan nugget.“Diversifikasi produk tentunya kami harapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru masyarakat selama menghadapi pandemi covid 19 sekaligus berkontribusi lebih baik dalam pengembangan Urban Farming di Kota Magelang,pungkasnya. (among_wibowo, red)

Walikota Magelang Kurban 4 Sapi, Hari Pertama Tim Disperpa-Untidar-PDHI Langsung Awasi Pemotongan 852 Hewan Kurban

on .

MAGELANG-Walikota Magelang, Sigit Widyonindito seusai shalat Idul Adha, hari jumat (31/07/2020) bersama jajarannya melakukan safari dan penyerahan sapi kurban ke 4 lokasi, masing-masing Masjid Agung, Kampung Menowo RW 2 Kelurahan Kedungsari, Kampung Dudan Kelurahan Tidar Utara, dan Samban Kidul RW 6 Kelurahan Panjang. Dalam kesempatan itu, Sigit mengajak masyarakat untuk disiplin menerapkan pola hidup sehat dan memaknai hari raya Idul Adha tahun 1441 H/2020 M sebagai momentum untuk mawas diri di tengah ujian menghadapi ancaman pandemi Covid-19. “Perayaan Idul Adha tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kita sedang diuji betul. Masyarakat harus waspada, mawas diri, agar terhindar dari penyakit. Kalau sehat maka produktifitas kita tinggi,”tegasnya.

Sigit mengatakan, safari Idul Adha bersama Forpimda merupakan ajang memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya protokol kesehatan guna mencegah penyebaran virus corona. Namun tanpa mengurangi esensi dari peringatan Idul Adha itu sendiri.“Safari kali ini sambil mengedukasi masyarakat tentang Covid-19. Kota Magelang yang sudah melandai akhir-akhir ini ada pergerakan, karena masyarakat tidak patuh.Ada pemahaman yang keliru kalau kondisi sudah biasa padahal covid-19 masih ada, masih mengancam,” tandasnya.

Sigit, lebih lanjut mengungkapkan bahwa masyarakat boleh beraktifitas, namun harus dengan protokol kesehatan yang ketat. Ia mencontohkan shalat Idul Adha di Masjid Agung kali ini, seluruh jamaah wajib pakai masker, dicek suhu tubuh sebelum masuk masjid, jaga jarak antarjamaah dan prosedur kesehatan lainnya. Termasuk saat penyembelihan, masyarakat diminta untuk memperhatikan ketentuan pencegahan Covid-19.

Sementara itu terkait pengawasan dan pemeriksaan hewan qurban tahun ini, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang menerjunkan tim dibantu personil dosen dan mahasiswa Universitas Tidar (Untidar) serta Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Kota Magelang. Secara rinci tim pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban terdiri dari 28 personil Disperpa, 21 personil dosen-mahasiswa Untidar dan 2 personil PDHI. Setiap kelurahan rata-rata diampu 2-3 orang personil. Mereka ditugaskan ke seluruh wilayah kelurahan yang ada di Kota Magelang, kecuali daerah yang terindikasi zona merah Covid 19.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pengarahannya sebelum pelaksanaan kegiatan di lapangan menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Untidar dan PDHI Kota Magelang atas sinergi dan kerjasama yang baik dalam kegiatan ini. Menurutnya, tujuan semua pihak yang terlibat tak lain untuk kepentingan dan kebaikan masyarakat Kota Magelang. Untuk itu Eri meminta para personilnya dapat bertugas menjalankan fungsi pendataan, pengawasan dan pemeriksaan terhadap hewan kurban di wilayah penugasan masing-masing.

       Lebih lanjut, Eri mendorong para petugas untuk tidak lelah mengingatkan masyarakat akan pentingnya penerapan protokol kesehatan Covid 19. “Data hewan kurban dicollect sebaik mungkin, lakukan pemeriksaan ante mortem dan post mortem sebagaimana mestinya. Dan jangan lupa selalu sampaikan masyarakat untuk patuh terhadap protokol kesehatan (jaga jarak, gunakan masker dan rajin cuci tangan, red),”pesan Eri di halaman kantor Disperpa kepada para petugas sebelum terjun ke wilayah pemantauannya.

Terkait hasil pendataan hewan kurban pada hari pertama, Kasi Peternakan, Sugiyanto menjelaskan dari hasil rekapitulasi pemotongan hewan kurban di 17 kelurahan hingga pukul 18.30, jumlah hewan kurban yang disembelih mencapai 852 ekor dengan rincian 204 ekor sapi, 575 ekor domba dan 73 ekor kambing. Dari hasil pemeriksaan post mortem, dijumpai 18 kasus cacing hati (Fasciola hepatica), 3 diantaranya afkir dan 1 kasus paru-paru afkir. “Terhadap kasus tersebut sudah dilakukan pengamanan melalui proses penyitaan dan pemusnahan,”tandasnya.

        Sugiyanto menambahkan, kegiatan petugas dalam rangka pengawasan dan pemeriksaan hewan kurban masih akan berlanjut esok hari (sabtu, 01/08/2020) hingga beberapa hari ke depan, baik pemotongan yang dilakukan di wilayah kelurahan maupun RPH Kota Magelang. Pihaknya berharap di hari kedua, Tim dapat mengoptimalkan waktu untuk penyisiran lokasi-lokasi pemotongan baru yang pada tahun lalu belum ada. (among_wibowo, red)

Pastikan Kesehatan Hewan, Disperpa Kota Magelang Sidak Depo Penjualan Hewan Qurban

on .

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang bekerja sama dengan tim medis dari Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kota Magelang intensif melakukan sidak pengawasan dan pemeriksaan kesehatan hewan Qurban di sejumlah depo penjualan hewan Qurban. Kegiatan yang berlangsung selama seminggu sejak kamis lalu (23/07/2020) hingga hari ini (30/07/2020) dimaksudkan sebagai tindakan preventif mengantisipasi adanya penyakit hewan menular strategis (PHMS) di tubuh hewan qurban.

 


Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko ditemui di ruang kerjanya hari kamis (30/07/2020) menyatakan untuk mencegah masuk dan beredarnya penyakit hewan menular strategis (PHMS) atau tidak layak konsumsi lainnya, pihaknya intensif melakukan pemeriksaan di sejumlah depo penjualan hewan qurban di Kota Magelang. Selama penyelenggaraan pemotongan hewan qurban tahun ini Disperpa ingin memberikan rasa aman kepada masyarakat sekaligus memastikan hewan qurban yang dijual dalam keadaan layak, sehat dan aman untuk dikonsumsi. “Justru yang paling penting saat ini adalah preventif dan kewaspadaan resiko penularan Covid 19 selama perhelatan pemotongan hewan qurban tahun ini,”tegasnya.

Lebih lanjut Eri menjelaskan bahwa menyisir depo-depo penjualan hewan qurban hingga sebelum pelaksanaan Idul Adha 1441 H, 31 Juli mendatang merupakan tahap awal kegiatan rutin tahunan pengawasan dan pemeriksaan hewan qurban. “Puncaknya kami akan menerjunkan puluhan petugas pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2020 untuk melakukan pengawasan dan pemeriksaan ante mortem dan post mortem terhadap hewan qurban di lokasi-lokasi pemotongan yang tersebar di wilayah Kota Magelang,”jelasnya. 

Senada dengan Kadisperpa, Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan, Hadiono didampingi Kasi Peternakan, Sugiyanto memastikan akan terus melakukan pengawasan dan pemeriksaaan ternak menjelang hingga sesudah pelaksanaan pemotongan hewan qurban. Dari hasil pemeriksaan sementara belum ditemukan ternak yang mengalami kendala kesehatan seperti sakit mata dan diare. Disinggung temuan penyakit berbahaya dan yang dapat membahayakan konsumen, ia memastikan kondisi sampai saat ini masih aman. “Kami belum temukan indikasi temuan penyakit yang berbahaya pada ternak,” tegasnya.

Sugiyanto berharap masyarakat bisa selektif memilih hewan qurban yang layak, sehat dan aman. Kepada para pedagang hewan qurban, Sugiyanto menghimbau agar tetap menjaga kesehatan ternak qurban dengan mengatur pola makan ternak secara teratur. Dia menyebutkan, masyarakat tidak perlu terlalu risau bila hewan kurbannya mengalami sakit fisik karena tidak menimbulkan efek negatif jika dikonsumsi. Kecuali, mengidap penyakit menular seperti anthrax, maka mengonsumsi daging tersebut bisa membahayakan manusia. Berita baiknya, ungkapnya, untuk penyakit menular hingga saat ini belum ditemukan dipastikan semua ternak bebas dari anthrax. “Kami akan terus mengawasi pelaksanaan pemotongan hewan qurban,” ucapnya.

       Terinformasi pemeriksaan fisik ternak dilakukan di semua tempat penjualan hewan qurban di Kota Magelang. Adapun jenis pemeriksaan yang dilakukan antara lain meliputi pemeriksaan mata, gigi, hidung, mulut, dan umur hewan. Selain itu tim Disperpa juga memberikan pengobatan untuk hewan yang mengalami sakit ringan seperti saleb mata dan suntik vitamin. Kalau ternak sakit parah, Tim Disperpa akan merekomendasikan penjual untuk mengobatinya terlebih dahulu sampai sembuh,”ungkap Arif Febriyanto, salah satu dokter hewan Puskeswan yang bertugas memeriksa depo penjualan hewan qurban. (among_wibowo, red)