• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Magelang Rabbit Road Show: Menggali Potensi Agribisnis Baru di Kota Magelang

Paguyuban Guyup Rukun Peternak Kelinci (GRPK) Magelang dengan dukungan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang pada hari minggu lalu (2 Desember 2018,red) sukses menggelar Magelang Rabbit Road Show di Artos Mall Magelang. Ratusan anggota GRPK se-Magelang hadir mengikuti kegiatan tersebut untuk membiasakan diri bertransaksi jual-beli, sekaligus beradu dalam kontes. Hal ini mengingat di Kota Magelang meski sudah mulai banyak bermunculan peternak kelinci, namun masih kurang mendapat edukasi. Terutama terkait usaha jual-beli yang pada saat ini dinilai cukup menjanjikan sebagai ladang bisnis.

Ariyono Septa, Ketua Panitia Kegiatan menyatakan, sejak berdirinya pada Desember 2017 lalu sampai sekarang anggota yang bergabung dalam GRPK mencapai 150 peternak. Rata-rata setiap anggota memiliki 4 ekor berpasangan yang potensial terus berkembang. “Peternaknya banyak, tapi tidak banyak yang mengerti bisnisnya. Kebanyakan malah sering tertipu pengepul/tengkulak yang mengaku kelinci tidak laku dan berharga murah, sehingga peternak rugi,” ujarnya di sela road show.

kelinci

Dalam kesempatan itu dia menambahkan, tengkulak seringkali membeli kelinci potong di peternak dengan harga per ekor yang tidak sampai ratusan ribu rupiah. Padahal, seharusnya kelinci dibeli dengan harga per kilogram yang mencapai Rp 35.000-Rp 50.000 per kilogram. “Rata-rata kelinci dijual setelah sampai sekitar 3 kilogram atau berusia 3 bulan. Kalau peternak punya sepasang dan sebulan beranak 4-12 ekor, maka bisa dihitung berapa rupiah yang bisa didapat setiap bulan. Dari pengalaman, peternak bisa mengantongi omset Rp 4-5 juta/bulan,” katanya.

Dengan dukungan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang, kesadaran berbisnis ini yang coba dipertegas kepada peternak kelinci. Para peternak di Magelang berkumpul untuk berbagi ilmu bersama, sekaligus melakukan penjualan langsung ke pengunjung mall. “Kami adakan juga kontes untuk jenis Flemish Giant, New Zealand dan Rex. Flemish Giant diikuti 19 ekor, New Zealand 24 ekor, dan Rex 7 ekor. Penilaian memakai standar Arba (American Rabbit Breeding Asociation) dengan juri Erdos Pinilih,” jelasnya.

Di tiga jenis itu, para peserta beradu guna memperebutkan gelar Best of Breed dan Best Opposite Breed. Peserta sangat antusias mengikuti kontes ini, sehingga untuk jenis Flemish Giant mampu memecahkan rekor nasional sebanyak 19 ekor. “Event di Magelang selalu memecahkan rekor nasional dan diperhitungkan di Indonesia bersama Bandung. Ini tidak lepas dari sejarah kelinci berkualitas banyak datang dari Magelang dan Bandung, mengingat jaman Presiden Soeharto dulu kelinci benar-benar dikembangkan di sini,” imbuhnya. (among, red)

 

 

 

DISPERPA KOTA MAGELANG GALAKKAN GERAKAN TEBAR BENIH IKAN DI PERAIRAN UMUM

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, selasa 23 Oktober 2018, di sela-sela kegiatan Kampanye Gemarikan di playground hotel Puri Asri Magelang mengajak sekitar 300 orang perwakilan anak-anak (siswa-siswa SD se-Kota Magelang, red) melakukan tebar benih ikan di perairan umum, khususnya di bantaran sungai Progo. Dalam kegiatan tersebut dilaksanakan penebaran 50 ribu benih ikan berbagai jenis di bantaran sungai Progo.

 Tebar Ikan

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, Ir. Eri Widyo Saptoko, M.Si menyatakan kegiatan penebaran benih ikan di lakukan rutin setiap tahun. “Kita menyediakan ribuan benih untuk disebar di seluruh wilayah perairan di Kota Magelang, di antaranya di Sungai Progo ini kita menebarkan 50 ribu benih ikan berbagai jenis, seperti nila, mujahir, karper dan nilem," katanya.

Harapan dari kegiatan tersebut, generasi muda khususnya anak-anak usia sekolah dapat lebih mencintai dunia perikanan sekaligus upaya meningkatkan angka konsumsi ikan di Kota Magelang yang masih 22, 5 kg per kapita per tahun. Lebih rendah dari angka konsumsi ikan nasional yang mencapai 31,4 kg per kapita per tahun. Meskipun demikian angka konsumsi ikan Kota Magelang masih menduduki rangking ke-12 dari 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah (among,red)

KEMENTAN TANTANG KOTA MAGELANG HASILKAN PRODUK FLORIKULTURA KUALITAS EKSPOR

Kota Magelang boleh mengklaim sebagai kota sejuta bunga kini menghadapi tantangan untuk dapat menghasilkan produk florikultura, baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Tidak tanggung-tanggung, yang memberikan tantangan adalah Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Dr. Ir. Sarwo Edi Wibowo, MP saat hadir dalam pembukaan Agri-Flori Expo 2018 hari Jumat, 14 September 2018 di Gedung Ahmad Yani Magelang.

Kementan sejauh ini mendorong setiap daerah untuk mampu menghasilkan produk buah dan florikultura (tanaman berbunga dan hias) yang dapat diekspor. Sebab, pasar luar negeri masih sangat potensial untuk dijelajahi. Ia pun mengajak Pemkot Magelang untuk mulai menghasilkan produk florikultura berkualitas sebagai komoditas ekspor. “Kementan sangat berharap Pemkot Magelang melalui Dinas Pertanian dan Pangan mampu menghasilkan produk florikultura. Apalagi Kota Magelang memiliki roadmap menjadi Kota Sejuta Bunga yang idealnya memiliki basis produksi berbagai jenis bunga yang spesifik,” katanya.

agri flori

Dalam kesempatan itu Sarwo mencontohkan kelompok tani di Slawi, KabupatenTegal, setiap harinya mampu memproduksi 30 kg bunga melati dengan luasan lahan 1.500 m2. Sebanyak 20 kg di antaranya diambil eksportir untuk diekspor bersama hasil produksi dari kelompok lain. Itu baru satu kelompok petani saja,” tuturnya.

Ditambahkannya, Kementerian Pertanian memiliki program pengembangan kawasan buah dan florikultura yang bisa dimanfaatkan daerah-daerah. Termasuk Kota Magelang, yang dilihatnya malah belum mengajukan usulan bantuan ke pihaknya. Padahal, Kementerian Pertanian siap membantu kelompok tani di daerah-daerah dari berbagai aspek mulai bibit, pupuk, hingga pasar.

Dia juga menyampaikan bahwa saat ini negara tujuan ekspor komoditas florikultura mayoritas masih di ASEAN dan sebagian Asia. Namun tidak sedikit pula yang sampai ke Belanda, Amerika Serikat, dan Australia dengan berbagai jenis tanaman berbunga dan hias. Dan yang tak kalah menggembirakan pasar lokal pun masih tetap potensial, seperti Jakarta dan Bandung.

Sementara itu menanggapi tantangan dari Kementerian Pertanian, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mengaku, inspirasi dan tantangan dari Kementerian Pertanian harus ditangkap. Bahkan ia memiliki angan-angan Kota Magelang seperti Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang berhasil mengembangkan florikultura. “Usulan Pak Direktur (Sarwo Edi Wibowo, red) itu bagus, harus ditangkap. Hal ini sejalan dengan ikon yang kita miliki, yakni Kota Sejuta Bunga,” ungkapnya.

Sigit mengakui bahwa slogan Kota Sejuta Bunga saat ini justru ditangkap daerah sebelah (Kabupaten Magelang, red) dengan munculnya beberapa taman bunga masyarakat, seperti taman bunga matahari dan celosia. Bahkan, mampu menjadi destinasi wisata baru yang dengan cepat populer di masyarakat. “Saya justru bangga dengan adanya taman bunga itu. Slogan Kota Sejuta Bunga itu bukan hanya untuk Kota Magelang saja, tapi Magelang secara keseluruhan (Magelang Raya),” lanjutnya.

Khusus untuk Kota Magelang menurut Sigit perlu terus berinovasi untuk mengembangkan konsep pertanian perkotaan (urban farming) yang memanfaatkan pekarangan rumah. Termasuk mengembangkan kampung bunga dan kampung organik di setiap kelurahan di Kota Magelang. (among, red)