• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Kembalikan Fungsi Sungai, Disperpa Kota Magelang Tebar 270 Ribu Benih Ikan Di Perairan Umum Kota Magelang

on .

MAGELANG- Untuk ketiga kalinya di tahun 2019, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari jumat (18/10/2019) menggelar tebar benih ikan (restocking) nila, nilem, tawes dan karper di perairan wilayah Kota Magelang. Kegiatan simbolis dipusatkan di sekitaran bantaran Kali Bening di jalan Genie Tentara Pelajar, Sanden-Kramat Selatan. Sejumlah pihak berperan aktif mengikuti kegiatan ini antara lain pihak kelurahan Kramat Selatan, pemuka dan tokoh masyarakat, kelompok pembudidaya ikan, Masyarakat Perikanan Kota Magelang (MPKM), mahasiswa Universitas Tidar Kota Magelang dan warga masyarakat sekitar.

 Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko didampingi Sekretaris Disperpa, Susmiyati dan sejumlah stafnya mengatakan benih ikan yang ditebar untuk tahap ketiga mencapai 270 ribu ekor ikan. Benih ikan berasal dari kegiatan Pengelolaan dan Pengembangan Cabang Dinas Kelautan Wilayah Selatan DKP Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan tebar benih ikan (restocking) digelar di lebih dari 10 lokasi perairan umum Kota Magelang. Eri menegaskan kegiatan tebar benih ikan menjadi agenda rutin berkelanjutan yang dilaksanakan di perairan umum Kota Magelang dengan melibatkan seluruh kalangan masyarakat dan sejumlah stakeholder. Pengelolaan perairan umum, lanjutnya, merupakan salah satu upaya kegiatan perikanan dalam memanfaatkan sumberdaya secara berkesinambungan sehingga perlu dilakukan secara bijaksana. “Kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan umum melalui kegiatan penangkapan dan budidaya punya kecenderungan semakin tidak terkendali, dimana jumlah tangkap tidak lagi seimbang dengan daya pulihnya,”jelasnya. 

Sementara itu, Kasi Perikanan Disperpa, Windo Atmoko menambahkan kegiatan restocking ini juga sudah rutin dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Terkait hal tersebut dia menegaskan perlunya dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing melalui instansi dan pelaku usaha perikanan. Manfaat kegiatan restocking ini, lanjutnya, terutama menambah stock ikan tangkapan untuk ditebarkan di perairan umum yang dianggap telah mengalami krisis akibat padat tangkap atau tingkat pemanfaatannya yang berlebihan. “Jadi sebenarnya tujuan restocking selain menambah stok ikan agar dapat dipanen sebagai ikan konsumsi, juga bertujuan mengembalikan fungsi dan peran perairan umum khususnya sungai sebagai ekosistem akuatik yang seimbang,”ujarnya.

          Terinformasi Disperpa Kota Magelang menjalin kerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah untuk menyelenggarakan kegiatan tebar benih ikan (restocking) di perairan wilayah Kota Magelang. Kegiatan ini memiliki 3 tujuan sekaligus. Pertama untuk menambah populasi ikan dalam perairan. Kedua untuk mengembangkan jenis ikan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk konsumsi atau pemancingan. Dan ketiga untuk menjaga keseimbangan populasi ikan di perairan. Alasan pemilihan keempat jenis ikan yang ditebar berupa nila, nilem, tawes dan karper dengan pertimbangan keempatnya dikenal sebagai ikan lokal yang dapat berkembang di perairan Kota Magelang. (among_wibowo, red)

Siap-Siap, Disperpa Kota Magelang-Republik Terwelu Target Pecahkan Rekor Nasional di “Battle Of Giant 2” Magelang Rabbit Festival

on .

MAGELANG-Setelah sukses pada gelaran kontes kelinci Magelang Rabbit Festival bertajuk “Battle of Giant 1” yang pertama tahun lalu, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang bekerjasama dengan komunitas kelinci Republik Terwelu kembali menghelat “Battle of Giant 2” di Eks Karesidenan (Bakorwil) Kedu pada 9 Nopember 2019 mendatang. Sejumlah kontes kelinci berbagai kelas bertaraf Nasional itu nantinya bakal digelar. Target utama kegiatan memecahkan Rekornas jumlah peserta kontes melampaui 100 peserta. Selain itu kegiatan ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait potensi bisnis ternak kelinci sekaligus mendorong harga daging ternak kelinci hidup yang lebih baik di wilayah Magelang dan sekitarnya.

Sekretaris Disperpa, Susmiyati didampingi Kabid Peternakan dan Perikanan, Hadiono hari jumat (18/10/2019) menyatakan optimismenya kegiatan kontes kelinci pada 9 Nopember nanti mampu memecahkan Rekornas sebagaimana yang ditargetkan. Disperpa, lanjutnya, sangat mendukung upaya diversifikasi daging yang dilakukan sehingga konsumsi daging masyarakat tidak hanya bertumpu pada daging sapi dan daging ayam, tetapi juga daging kelinci yang dikenal menyehatkan itu. Ditegaskannya di sejumlah daerah daging kelinci sudah mulai banyak dikonsumsi masyarakat dalam berbagai produk olahan. Dia mencontohkan di Sleman sudah marak pebisnis sate hingga rica-rica berbahan baku kelinci. “Mudah-mudahan kegiatan Battle of Giant 2 ini nantinya dapat menjadi dorongan besar untuk masyarakat Kota Magelang dan sekitarnya mengembangkan sekaligus mengkonsumsi daging kelinci secara rutin,”tandasnya.

Sementara itu, Aryono Septa Nugroho, Ketua Komunitas Republik Terwelu menuturkan Magelang Rabbit Festival “Battle of Giant 2” nantinya dilaksanakan di Bakorwil (Eks Karesidenan) Kedu mulai pukul 08.00 hingga selesai. Kegiatan direncanakan dibuka Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang dan dimeriahkan dengan kesenian REOG Kota Magelang. Sejumlah kegiatan lomba dan kontes kelinci yang digelar antara lain Kontes Utama (Main Event) Flemish Giant (BoB,BosB, Best Magelang), New Zealand (BoB,BosB, Best Magelang) dan Rex (BoB,BosB, Best Magelang) serta Kontes Penunjang (Side Event) berupaLomba Adu Bobot (FG,NZ, Rex) dan Lomba Mewarnai Tingkat pelajar SD. “Tak tanggung-tanggung, agar kontes semakin kredibel juri yang kami dihadirkan juga bertaraf Nasional antara lain Adi Rosdiantorodan Erdos Pinilih. Kami juga bekerjasama dengan Puskeswan untuk screening peserta lomba adu bobot kelinci,”jelasnya.

Terkait pelaksanaan lomba, Septa mentargetkan jumlah peserta bisa tembus 100 peserta. Tahun lalu, lanjutnya, jumlah peserta baru di kisaran 71 peserta. Selain itu pihaknya berupaya ada pemecahan Rekornas kembali dari tahun lalu. Rekor Nasional yang dibidik antara lain Rekornas peserta Flemish Giant Nasional 31 ekor dan peserta New Zealand Nasional 45 ekor. “Tahun lalu Rekor Nasional untuk kategori Flemish Giant sudah mampu dipecahkan Battle of Giant dengan peserta 30 ekor. Sedangkan untuk kategori New Zealand Rekor Nasional masih dikangkangi Kelinci Gayeng Semarang dengan peserta 42 ekor,”tukasnya.

       Terpisah, Sugiyanto, Kasi Petyernakan pada Disperpa menaruh harapannya agar penyelenggaraan Battle of Giant 2 dapat lebih meningkatkan minat masyarakat Kota Magelang untuk beternak kelinci dan mengkonsumsi produk olahan kelinci. Menurutnya usaha kelinci sejalan dengan program Urban Farming yang sedang digagas dan dijalankan Disperpa dan secara ekonomi sangat menguntungkan karena hampir tidak ada limbah ternak yang terbuang. Untuk jenis kelinci, dia mengungkapkan masyarakat bisa memilih jenis kelinci Flemish Giant, New Zealand atau Rex. “Ketiga jenis ini menjadi tolok ukur dalam standar harga daging kelincihidup yang saat ini sudah ada di kisaran 35 ribu-40 ribu,”pungkasnya. (among_wibowo, red)

Menilik SLPHT Minggu Ke-10: Padi Masuki Fase Generatif, Disperpa Tekankan Kewaspadaan Dini Terhadap OPT Walang Sangit

on .

MAGELANG – Memasuki minggu kesepuluh pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT), Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari rabu (16/10/2019) menekankan petani akan pentingnya meningkatkan kewaspadaan dini terhadap resiko serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Walang Sangit, terutama pada saat tanaman padi sawah memasuki fase generatif. Kegiatan yang sudah berlangsung selama 2 bulan ini semakin menarik diikuti dan mampu memberikan edukasi konsep SLPHT kepada sekitar 25 petani anggota poktan Subur Makmur Magelang. Kegiatan juga diikuti oleh Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dan Penyuluh Pertanian Kota Magelang.

Sebagian tanaman refugia sudah mulai berbunga dan menarik perhatian masyarakat

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pesan yang disampaikan Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ahmad Sholikhun meminta petani untuk terus meningkatkan pengetahuan, wawasan dan ketrampilan dalam produksi padi sawah dengan pendekatan SLPHT. Menurutnya, pendekatan SLPHT akan semakin memandirikan petani dalam mengatasi sejumlah masalah hama dan penyakit tanaman dengan solusi yang ramah lingkungan. Dijelaskannya penggunaan pestisida dan bahan kimia untuk pertanian dari waktu ke waktu akan semakin ditekan karena dapat berakibat buruk bagi kesehatan masyarakat. “Di masa mendatang seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, produk-produk pertanian yang sehat dan ramah lingkungan(bila memungkinkan sampai level organik) akan semakin diminati,”tegasnya.

Petani berdiskusi dalam kelompok kecil untuk memaparkan pengamatan di petak masing-masing

Sementara itu, I Made Redana, POPT yang juga bertindak sebagai fasilitator kegiatan menguraikan pentingnya kewaspadaan terhadap OPT khususnya walang sangit pada masa generatif tanaman padi sawah. Serangan walang sangit dapat menurunkan kualitas beras yang dihasilkan petani karena butiran beras menjadi tidak mulus dan cenderung kusam. Untuk itu, dia memberikan pengetahuan kepada para petani untuk pembuatan Plant Growth Promoting Regulator (PGPR) dan Bakteri Merah. PGPR, lanjutnya, sangat penting sebagai bioprotectan yang akan melindungi tanaman dari serangan OPT selama fase yang dialaminya (sebagai imunisasi). Sedangkan Bakteri Merah sangat baik untuk memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam kesempatan ini Made mengupas kebutuhan bahan-bahan dan cara pembuatannya. “Bahan-bahan semua ada di sekitar kita, mohon disiapkan untuk praktek kita minggu depan. Mudah-mudahan semakin manfaat untuk mengawal pertanaman padi bapak ibu semua,”pesannya kepada para petani yang hadir.

Kolase kegiatan petani saat pengamatan tanaman di petak SLPHT dan petak Petani

Terkait progress pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi sawah pada kegiatan SLPHT, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya menilai sangat baik. Among menjelaskan varietas padi Ciherang yang ditanam di lahan SLPHT dapat tumbuh optimal. Secara rata-rata tinggi tanaman mencapai 70-80 cm, lebih tinggi dibandingkan petak petani yang hanya mencapai 60-70 cm. Sedangkan dari sisi jumlah anakan produktif rata-rata 20-25 anakan, lebih banyak dibandingkan petak petani yang hanya di kisaran 18-21 anakan. “Indikator tersebut sebagai awalan saja, yang terpenting nanti fase pada saat padi bunting (pengisian bulir) harus dimaksimalkan,”katanya.

Untuk memaksimalkan pengisian bulir padi, Among punya jurus pamungkas. Sebagaimana musim-musim sebelumnya dia membuat pupuk cair yang mengandung unsur hara makro Kalium plus sejumlah hara mikro lainnya yang sejak lama diraciknya sendiri. Petani binaannya di Kecamatan Magelang Tengah seringkali memanfaatkan pupuk tersebut untuk kegiatan penyemprotan rutin guna meningkatkan bobot gabah padinya. “Alhamdulillah selain bisa menambah bobot gabah (mentes), menurut pengalaman petani, beras yang dihasilkan lebih putih dan bersih. Dan pada SLPHT kali ini pun resepnya akan tetap sama,”ungkapnya.

      Selain itu dia juga mengingatkan petani untuk terus merawat tanaman refugia bunga matahari dan kenikir yang tumbuh subur di sekitar pematang sawah. “Mudah-mudahan tanaman refugia ini nantinya dapat menjadi daya tarik tersendiri ketika pelaksanaan panen ubinan yang direncanakan akhir Nopember mendatang,”tukasnya. (amw, red)