• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Preview Agri Flori Expo Ke-3: Diresmikan Walikota Magelang, Disperpa Siapkan Hadiah Puluhan Juta Rupiah Pada Kontes Aglaonema AFE 2019

on .

MAGELANG-Perhelatan akbar Agri Flori Expo (AFE) 2019 di Gedung Ahmad Yani Magelang hari jumat-minggu, 20-22 September 2019 dipastikan berlangsung semarak dan meriah. Tak kurang 23 stand kelompok tanaman hias binaan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang, 27 stand multi produk dan 35 stand kuliner turut meramaikan kegiatan tahunan ini. Gelaran AFE 2019 pun terasa semakin istimewa karena direncanakan diresmikan langsung oleh Walikota Magelang, Sigit Widyonindito dan dihadiri sejumlah pejabat dari Kementerian Pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, pejabat di lingkup Pemerintah Kota Magelang dan para tokoh masyarakat, khususnya penggiat tanaman hias dan bunga di Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko saat didampingi Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto, menyatakan kesiapannya terkait perhelatan AFE yang ke-3. Disperpa Kota Magelang, lanjutnya, selaku pelaksana kegiatan sudah jauh-jauh hari melakukan persiapan dan koordinasi intensif dengan para stake holder pelaku usaha agribisnis tanaman hias dan bunga di sejumlah daerah di Pulau Jawa. “Insya Allah Disperpa sudah ready menghelat pelaksanaan AFE 2019 dan para stake holder, juga sejumlah komunitas tanaman hias dan bunga akan berusaha tampil all out dalam gelaran AFE tahun ini,”katanya.

Eri menjelaskan penyelenggaraan AFE yang ke-3 ini mengusung tema “Modernisasi Pertanian Kota Magelang Sebagai Upaya Mewujudkan Petani Yang Lebih Sejahtera”. Melalui penyelenggaraan AFE ini, Disperpa memberikan fasilitasi dan kesempatan bagi binaan Disperpa mulai dari pelaku budidaya dan usaha tanaman hias, tanaman anggrek, pembudidaya ternak, pembudidaya perikanan dan pengrajin olahan makanan produk pertanian untuk mempromosikan produk-produknya dengan konsep bursa dan pameran. Selain bursa dan pameran, kegiatan juga akan dimeriahkan dengan sejumlah kegiatan lomba dan turnamen.”Harapan kami para pelaku usaha binaan Disperpa dapat meraup keuntungan dari transaksi jual beli secara maksimal dan memperluas jejaring pemasaran produknya,”tandasnya.

Ditempat terpisah, Kepala Seksi Prasarana dan Sarana Pertanian, Yhan NoercahyoWibowo menambahkan bahwa stand bursa dan pameran ini terdiri dari stand para pelaku usaha tanaman hias, tanaman anggrek, hidroponik, peternak kelinci, pelaku usaha aquascape, dan olahanlidahbuaya. Kegiatan ini dibuka untuk masyarakat umum mulai pukul 09.00 s/d 21.00 WIB tanpa dipungut biaya sama sekali alias gratis. Selain gratis, pengunjung juga akan diberikan bibit secara gratis setiap hari selama persediaan masih ada. Di AFE 2019, tutur Yhan, pengunjung dapat menyaksikan lomba-lomba pendukung kegiatan AFE 2019 antara lain Lomba Cipta Menu Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA), Lomba Merias, The Voice Magelang, Lomba Modern Dance Anak, Turnamen Mobile Legend dan Lomba Senam Sport For All. “Kegiatan dipastikan semakin menarik dengan kehadiran sejumlah youtubers di penutupan AFE,”ujarnya.

Menurut Yhan, puncak kegiatan yang tak boleh dilupakan adalah gelaran Kontes Aglaonema tingkat Nasional yang dilaksanakan pada hari minggu, 20 September 2019. Sejumlah peserta dari penjuru Indonesia dipastikan mengikuti kontes Aglaonema. Mereka yang hadir antara lain dari Jakarta, Bandung, Bogor, Medan, Kediri, Malang, Karanganyar, Salatiga, Ambarawa, Semarang, Sleman, Yogyakarta, Sumpyuh dan Cilacap.“Kontes Aglaonema akan memperebutkan total hadiah puluhan juta rupiah dengan door prize utama satu buah sepeda motor,”tandasnya. (among_wibowo, red)


Wawali Kota Magelang Apresiasi Disperpa, 2,5 Kuintal Beras TTI Ludes Dalam Sekejap di Opening CFD Sunmor Sport Center

on .

MAGELANG –Wakil Walikota Magelang, Windarti Agustina hari minggu (15/09/2019) memberikan apresiasi kepada stand Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang atas partisipasinya dalam perhelatan Opening Car Free Day Sunday Morning di area Sport Center Kota Magelang, Sanden-Kramat Selatan. Dalam kesempatan kunjungan ke stand Disperpa, Windarti didampingi Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko memberikan arahan dan motivasi agar Disperpa terus menjadi garda terdepan dalam menjaga ketersediaan pangan masyarakat di Kota Magelang. “Teruslah berkarya yang terbaik untuk Kota yang kita cintai ini dan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan ketahanan pangan,”katanya kepada para ASN dan THL Disperpa yang hadir.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko mengatakan instansinya tak kenal lelah untuk terus mempromosikan beras medium untuk pasar Toko Tani Indonesia (TTI) pada setiap gelaran CFD. Selain itu pihaknya juga terus mendorong dan mensupport Gapoktan Sri Rejeki mencapai target penyediaan 30 ton beras medium sebagaimana yang ditargetkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui kegiatan LUPM ini. Seperti diketahui, lanjutnya, realisasi produksi hingga awal September sudah mencapai 16 ton. “Masih ada 3 bulan berjalan untuk mengejar target yang telah ditetapkan. Insya Allah dengan respon positif dari masyarakat, Gapoktan Sri Rejeki sebagai produsen beras akan semakin bersemangat mencapai targetnya,”tegasnya.

Dalam even perdana Opening Car Free Day Sunday Morning yang digagas Pemerintah Kota Magelang itu, kegiatan dimeriahkan dengan senam massal, modern dance, hiburan musik organ tunggal dan stand kuliner dan UMKM. Beras medium TTI yang dipasarkan stan Disperpa pun ludes dalam sekejap. Tak sampai 3 jam, 2,5 kuintal beras kemasan 5 kg yang dibanderol Rp 44.000 atau Rp 8.800/kg itu habis diborong pengunjung. Puluhan pengunjung silih berganti datang membeli beras medium kebanggaan Kota Magelang. Respon positif masyarakat tentunya semakin menebalkan asa bagi Disperpa maupun Gapoktan Sri Rejeki untuk meningkatkan produksi dan pemasaran beras medium di Kota Magelang.

Terinformasi penyediaan beras medium untuk Toko Tani Indonesia (TTI) sudah berjalan sejak akhir Mei 2019. Pemerintah Kota Magelang melalui Disperpa menugaskan Gapoktan Sri Rejeki Kelurahan Magelang sebagai operator kegiatan yang dikenal dengan Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM). Dalam kegiatan tersebut, Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) memberikan bantuan dalam bentuk alat dan mesin pertanian untuk prosesing beras senilai kurang lebih Rp 100 juta dan dana operasional Rp 60 juta. Hingga sejauh ini realisasi kegiatan penyediaan beras medium sudah memproduksi sekitar 16 ton beras medium dalam kurun waktu hampir 4 bulan.

          Latar belakang dilaksanakannya kegiatan LUPM tidak lain karena seringnya harga komoditas pangan mengalami fluktuasi yang dapat merugikan petani, pelaku distribusi dan konsumen baik secara ekonomi maupun kesejahteraan. Permasalahan utama yang terjadi selama ini antara lain terjadinya tingginya disparitas harga antara produsen dan konsumen yang mengakibatkan keuntungan tidak proporsional antara pelaku usaha. Harga yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjamin petani (produsen) mendapatkan harga yang layak, sehingga diperlukan keseimbangan harga yang saling menguntungkan, baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen (among_wibowo, red)

 

Disperpa Gelar Pelatihan Pengemasan Daging Ayam Bagi Pedagang Daging Kota Magelang

on .

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari kamis (12/09/2019) menggelar kegiatan pelatihan Pengemasan Daging Ayam di Aula Disperpa. Kegiatan dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan pelaku peternakan, khususnya pedagang daging ayam di Kota Magelang. Selain itu pelatihan diharapkan mampu menyediakan peluang pasar bagi produk peternakan agar mampu bersaing dengan produk pabrikan sehingga pedagang daging dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarganya dalam usaha penyediaan pangan asal hewan yang sehat dan higienes bagi masyarakat. Kegiatan diikuti 40 orang pelaku peternakan yang mayoritas pedagang daging ayam dari pasar tradisional Kota Magelang seperti Pasar Kebonpolo, Pasar Ngasem dan Pasar Tukangan.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutannya mengatakan peran pemerintah dalam hal ini Disperpa sangat penting dalam rangka terjalinnya hubungan antara penjual dan pembeli. Disperpa, lanjutnya, harus hadir untuk memastikan daging yang diedarkan atau diperdagangkan di pasar-pasar Kota Magelang itu sehat, tersedia dalam jumlah yang cukup dan aman. Daging juga harus aman dari kontaminasi penyakit cacing hati dan bakteri Escherichia coli (E.coli). “Maka dari itu perlu adanya jalinan antara penjual dan pembeli, dimana penjual harus bisa menyediakan barang dengan kualitas yang baik dan tidak menipu berat timbangannya,”ujarnya.

Eri menegaskan kegiatan pelatihan pengemasan daging ayam sangat penting dipahami para pelaku peternakan khususnya pedagang daging ayam. Menurutnya kemasan disamping menjaga produk lebih sehat dan higienis, kemasan juga dapat meningkatkan citra produk lebih baik sehingga potensi penjualannya pun dapat meningkat. “Pedagang perlu memberikan branding produknya dengan kemasan yang lebih baik. Biarpun di jual di pasar tradisional tapi bila kemasannya bagus akan dapat menarik konsumen berbondong-bondong belanja di pasar tradisional,”katanya.

Eri menambahkan terkait pengemasan yang dimaksud tentunya pembungkus, baik yang berupa kertas, plastik maupun aluminium foil.Secara teknis, banyak keuntungan yang diperoleh melalui pengemasan bahan pangan. Antara lain menekan kerusakan dan memberikan daya tarik bagi konsumen, yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai jualnya. Dalam kegiatan pemasaran, lanjutnya, bentuk kemasan akan memberi nilai positif bagi produknya. Kemasan juga berpeluang menarik konsumen untuk membeli produk daging yang dipasarkan. “Saya yakin produk pangan asal hewan (daging) yang kemasannya menarik tentunya akan mampu bersaing dengan produk olahan pabrik,”tandasnya.

Dalam kesempatan ini, tampil 2 narasumber yaitu Suhartanto (HRD) dan Risty Kartika Santi (Quality Control), keduanya dari PT. Gemilang Setia Sejahtera (GSS) Boyolali. Keduanya menularkan ilmunya kepada segenap peserta yang hadir. Kegiatan semakin lengkap dengan sesi praktek pengemasan daging ayam, sehingga peserta secara teknis dapat mempraktekkannya pada unit usaha masing-masing.

Suhartanto, narasumber pertama menyampaikan materi Manajemen Pengemasan Daging Segar Dalam Rangka Menjaga Mutu Produk. Dia memaparkan arti penting menghasilkan produk ayam yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Kunci suksesnya adalah dengan meningkatkan kualitas SDM, menerapkan sistem keamanan pangan dan halal, serta meningkatkan kualitas pelayanan konsumen. “Kalau di perusahaan kami untuk mencapainya dengan menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP), yaitu sistem untuk memastikan bahwa produk secara konsisten diproduksi dan diawasi sesuai standar kualitas,”jelasnya.

 

Selanjutnya Risty Kartika Santi, narasumber kedua menyampaikan materi Praktek Teknis Pengemasan Daging Segar. Dalam praktek pengemasan, peserta belajar teknis pengemasan daging ayam utuh atau potongan. Sebelum pengemasan tentunya perlu pencatatan label kemasan produk yang akan dikemas. Label berisi keterangan yang dapat berupa gambar atau kata-kata, fungsinya sebagai sumber informasi produk. Label umumnya berisi informasi nama atau merek produk, bahan baku, bahan tambahan komposisi, informasi gizi, tanggal kadaluarsa, isi produk dan keterangan legalitas.Menurut Risty, ketentuan mengenai pemberian label pada produk diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan. “Sesuai UU Nomor 7 tahun 1996, label pangan adalah setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan,”paparnya.

 

Sementara itu pada sesi praktek ada perwakilan pedagang antara lain Umiyati (Pasar Kebonpolo), Fery Aji (Pasar Ngasem) dan Edi Surono (Pasar Tukangan). Setelah kegiatan praktek, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Segenap peserta yang hadir antusias mengikuti kegiatan praktek dan diskusi. Mereka berharap dapat meningkatkan citra produk daging yang dijual di pasar tradisional mampu bersaing dengan produk sejenis di pasar modern, khususnya dari aspek sehat dan higienisnya.

 

Terpisah, Sugiyanto mengungkapkan bahwa selama ini memang ada perbedaan produk daging yang di jual di pasar tradisional dan Depot Daging. Sugiyanto menjelaskan pembedanya adalah segmen pasar. Kalau di pasar tradisional seperti Kebonpolo, Ngasem dan Tukangan, produk daging yang dijual bersifat instan yaitu penyembelihan ayam hari ini harus habis hari ini. Sedangkan pada Depot Daging, daging ayam dalam kemasan beku (plastik vakum).yang dikemas dan berlabel. Keduanya sebenarnya memiliki pangsa pasar atau konsumen masing-masing, tergantung preferensi setiap konsumen. (among_wibowo, red)