• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Perkuat Image Olahan Jamur, Disperpa Berikan Ketrampilan Olahan Tongseng, Crispy dan Nugget Jamur Tiram

on .

MAGELANG – Disperpa hari rabu (10/4) di Aula Disperpa Jl. Kartini Kota Magelang kembali menyelenggarakan kegiatan pelatihan lanjutan, yaitu Pelatihan Penanganan Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Jamur Tiram bagi Masyarakat Kota Magelang. Kegiatan yang diikuti 70 orang peserta itu menampilkan narasumber Esti Widayati dari Rumah Kripik Jaya Makmur Magelang. Fokus pelatihan kali ini adalah praktek pembuatan jamur crispy, tongseng dan nugget.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto menyatakan penanganan pasca panen (off farm) memegang peranan penting untuk memunculkan added value bagi pelaku usaha agribisnis, tak terkecuali agribisnis jamur. “Kalau keuntungan agribisnis seluruhnya itu 100% maka 60-70% merupakan kontribusi dari pasca panen,”katanya.

Terkait dengan hal tersebut, Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya pada Disperpa mendorong pelaku usaha/hobiis agribisnis jamur untuk lebih menaruh perhatian besar pada penanganan pasca panen yang baik, benar dan berorientasi pasar. Menurutnya prospek bisnis olahan jamur baik pasar lokal maupun nasional masih cukup terbuka. “Masih sangat sedikit pebisnis kuliner berbasis jamur maupun olahan kering jamur. Padahal pasarnya masih menganga untuk dimasuki, mengingat konsumsi jamur saat ini sudah menjadi trend karena menyehatkan tubuh,”tegasnya.

Esti Widayati, narasumber pelatihan, di sela-sela kegiatan menjelaskan bahwa selama ini masyarakat belum terlalu melihat jamur sebagai sebuah peluang menuju pintu kemakmuran. Dia sudah membuktikan bisnis jamur yang ditekuninya dengan brand “Jaya Makmur” itu bisa eksis selama beberapa tahun hingga sekarang. Bahkan sudah rutin mengikuti sejumlah pameran dan menjalin kerjasama pemasaran dengan sejumlah Pusat Oleh-Oleh di Kota Magelang.

Pada pelatihan ini, Esti membagikan 3 resep olahan jamur antara lain pembuatan jamur crispy, tongseng dan nugget. Ketiganya mewakili menu kuliner dan menu oleh-oleh khas Magelang. Praktek berlangsung meriah karena sejumlah peserta sangat antusias mempraktekkan ketiga resep olahan jamur dari Esti sang narasumber. “Wah baru kali ini saya semangat praktek di pelatihan, menunya sangat menarik. Kebetulan kesukaan anak saya sehari-hari mengkonsumsi jamur crispy,” ujar Kezia, salah satu peserta, sambil tersenyum bangga.

Di akhir kegiatan Esti memotivasi 70 peserta yang hadir untuk terus berinovasi dalam menciptakan menu olahan jamur lainnya. Menurut dia jamur merupakan bahan baku makanan yang menyehatkan dan berkhasiat obat, sehingga akan selalu bisa mengikuti trend kuliner masyarakat zaman now. Tinggal bagaimana kita dapat meracik atau membuat resep olahan jamur yang bisa dicintai dan diterima konsumen di pasaran, baik di pasar kuliner maupun di pusat oleh-oleh,”tandasnya. (among_wibowo,red).

Masyarakatkan Urban Farming, Disperpa Kota Magelang Gelar Pelatihan Budidaya dan Pemasaran Jamur Tiram

on .

MAGELANG – Luas lahan pertanian produktif di Kota Magelang dari tahun ke tahun semakin menyempit. Data luas lahan sawah di Kota Magelang tinggal menyisakan 142,85 ha saja. Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang saat ini fokus pada pengembangan pertanian perkotaan (urban farming) di lahan sempit. Berbagai jurus dilakukan untuk menjaga eksistensi sektor pertanian di Kota Magelang. Salah satunya dengan mendorong masyarakat/hobiis untuk mengembangkan agribisnis hortikultura.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Disperpa hari selasa (9/4) di Aula Disperpa Jl. Kartini Kota Magelang menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram bagi Masyarakat Kota Magelang. Kegiatan yang diikuti 70 orang peserta itu diisi oleh 2 narasumber yaitu Muhammad Sumedi Purbo (Sanggar Tani Media Agro Merapi) dan Faris Ikmawanto (Penggiat Bisnis Jamur Tiram Magelang). Adapun tema yang diusung kedua narasumber yaitu Prospek Pengembangan Jamur Tiram di Indonesia dan Strategi Pemasaran Jamur Tiram.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto menyatakan instansinya memang sedang fokus untuk memasyarakatkan urban farming di Kota Magelang dengan sejumlah komoditas. Pemilihan budidaya komoditas jamur tiram bagi masyarakat dengan pertimbangan kemudahan dalam budidaya dan potensi pasar yang masih sangat terbuka. Terkait kegiatan pelatihan, Agus menyatakan tujuannya untuk meningkatkan wawasan dan kompetensi SDM Pertanian dalam Budidaya Jamur Tiram. “Kami mengharapkan pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensi SDM pertanian khususnya dalam budidaya dan pemasaran jamur tiram. Selain itu dapat mendukung dan memperkaya orientasi masyarakat dalam mengembangkan dan memasyarakatkan pertanian perkotaan (urban farming),”jelasnya.

Salah satu narasumber, M. Sumedi Purbo, menyatakan pihaknya sangat antusias mendukung dan siap menjalin kerjasama dalam pengembangan agribisnis jamur tiram di Kota Magelang. Dia menandaskan bahwa sebenarnya filosofi jamur merupakan jalan menuju makmur. Terinformasi sejumlah keunggulan dalam agribisnis jamur, antara lain bahan baku untuk budidaya jamur tiram melimpah, (umumnya berupa pemanfaatan bahan limbah industri), alam di Indonesia mendukung untuk agribisnis jamur sepanjang tahun, tehnologi budidaya relatif sederhana dan tidak perlu lahan luas, ramah lingkungan, bebas pestisida, sehat dan menyehatkan, pangsa pasar terbuka luas, baik lokal maupun ekspor, secara analisis ekonomi menguntungkan bahkan dapat memberdayakan masyarakat banyak.dan mampu menciptakan agribisnis pendukung hulu-hilir (Industri media, pengolahan, kompos, dll)

Dalam kesempatan tersebut Sumedi juga memaparkan jenis dan manfaat sejumlah jamur antara lain jamur Tiram, Ling zhi, Kuping dan Shiitake. Secara umum jamur berkhasiat untuk proses pencegahan dan pemulihan sejumlah penyakit berat seperti stroke, syaraf, jantung dan kanker. Selain dikonsumsi segar, jamur juga dapat diolah menjadi sirup, campuran teh/kopi, keripik dan berbagai olahan lainnya.

Ditanya kunci sukses agribisnis jamur tiram, Sumedi mengatakan sabar dan tekun, disamping juga memahami kebutuhan hidup jamur tiram. Dia menambahkan, merawat jamur ibaratnya merawat bayi sehingga perlu kesungguhan untuk memahami kehidupan jamur. “Kunci awalnya pada media, sterilisasi media dan lokasi budidaya. Selanjutnya perlu senantiasa menjaga suhu (kurang dari 30 C) dan kelembaban (60-80%), serta ventilasi udara dan kebutuhan yang minimal terhadap sinar matahari,”tandasnya.

       Sementara narasumber lainnya, Faris Ikmawanto melanjutkan strategi pemasaran jamur bisa melalui pemasaran secara offline maupun online. Produsen jamur harus pandai memilih jenis media pemasaran yang tepat. Menurutnya strategi pemasaran yang tepat dapat memperluas segmen pasar dan meningkatkan volume penjualan. Tak kurang ada 6 langkah yang dapat dilakukan untuk mensiasati pemasaran jamur tiram antara lain penentuan target pasar, mempertahankan kualitas jamur tiram, melengkapi dengan label dan kemasan yang menarik, menjaga kontinyuitas pasokan, diversifikasi ukuran kemasan bilamana jamur dipasarkan dalam bentuk segar dan menawarkan beragam inovasi produk kuliner serba jamur. “Semuanya monggo bisa dipilih sesuai dengan sikon masing-masing unit usaha agribisnis,”pungkasnya. (among_wibowo,red).

Disperpa Kota Magelang Akan Modernisasi RPH Dengan Electric Railing System

on .

MAGELANG - Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang akan memodernisasi UPT Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dengan Electric Railing System. Tujuannya untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat veteriner mengingat selama ini RPH menjadi garda terdepan dalam ketersediaan daging hewan yang ASUH (Aman Sehat Utuh dan Halal) bagi masyarakat.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko menyatakan UPT RPH Kota Magelang tidak hanya melayani pemotongan hewan dari dalam Kota tetapi juga luar Kota Magelang seperti wilayah Kabupaten Magelang. Terinformasi RPH Kota Magelang yang didirikan sejak tahun 1990 itu terus berkembang hingga sekarang. “Setiap tahun kita upayakan peningkatan kinerja dan kualitasnya agar semakin dipercaya masyarakat,”ujarnya.

 

Sebagai wujud peningkatan pelayanan tahun 2019 ini Disperpa menyiapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 250 juta untuk memperbaiki lantai area penyembelihan dengan bahan yang berkualitas dan tidak licin. Tahun ini pula kita akan hadirkan railing system secara elektrik untuk menggantung karkas atau hewan setelah disembelih untuk proses kelet (menguliti, red),”katanya.

Eri menginformasikan bahwa anggaran untuk Electric Railing System dibiayai dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Pertanian tahun 2019 senilai Rp 890 juta. Fungsi alat ini untuk menggantung hewan setelah disembelih dan proses pengulitan. Manfaatnya agar air dan darah dapat turun ke bawah dan keluar dari leher ternak yang telah disembelih. “Nantinya proses pengulitan tidak lagi diletakkan di bawah sehingga kualitas daging lebih bersih, sehat dan awet. Harapan kami sistem ini akan mempercepat proses pelayanan pemotongan hewan,”tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala UPT RPH Diana Widiastuti menambahkan UPT RPH stiap hari beroperasi untuk memberikan pelayanan prima kepada masyarakat veteriner terutama pada saat penyembelihan yang berlangsung dini hari setelah jam 00.00 WIB hingga pagi hari. Saat ini pihaknya menyiagakan sejumlah Juru Sembelih Halal (JULEHA) setiap harinya. Adapun pedagang yang dilayani setiap hari adalah para pegadang daging di sejumlah pasar tradisional di wilayah Magelang.

Diana menyatakan setiap hari, RPH Kota Magelang rata-rata melayani pemotongan sapi 9-12 ekor bahkan menjelang lebaran jumlahnya bisa meningkat hingga 15 ekor sapi per hari. Terkait biaya Diana menjelaskan bahwa sesuai Perda, 1 ekor sapi, kuda, babi dan kerbau jantan Rp 25 ribu. “Kalau sapi dan kerbau betina non produktif Rp 35 ribu/ekor,”jelasnya.

Terkait proses penanganan hewan yang akan disembelih, Diana mengatakan RPH mengawali proses dengan pemeriksaan kesehatan hewan. Awalnya hewan yang akan dipotong ditenangkan dulu, dicek kesehatannya dan selanjutnya penyembelihan. Setelah hewan disembelih dilakukan pengecekan pasca penyembelihan. “Jadi kami tidak sekedar melayani pemotongan ternak saja, tetapi juga pencegahan beredarnya daging tidak sehat seperti daging gelonggongan, kontaminasi cacing dan lainnya,”tukasnya. (among_wibowo, red)