• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Menilik SLPHT Minggu Ke-8: Disperpa Kota Magelang Dorong Penerapan Pengairan Berselang, Pengelolaan Tanaman Refugia Disertai Pemanfaatan Pesnab dan POC

on .

MAGELANG – Memasuki minggu kedelapan pelaksanaan Sekolah Lapang Pengelolaan Hama Terpadu (SLPHT), Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang rabu (02/10/2019) mengintensifkan petani di kelurahan Magelang untuk mengelola tanaman refugia. Pasalnya tanaman yang berupa tanaman bunga matahari dan kenikir itu mampu mengundang hadirnya musuh alami pada budidaya padi sawah. Kondisi ini sangat penting untuk keseimbangan ekosistem lahan sawah dimana kehadiran musuh alami dapat mengimbangi populasi organisme pengganggu tanaman (OPT) di persawahan. Bagi petani hal ini akan semakin menguntungkan untuk mengimplementasikan Budidaya Tanaman Sehat (BTS) pada pertanamannya. Kegiatan diikuti sekitar 25 petani anggota poktan Subur Makmur Magelang, POPT dan Penyuluh Pertanian Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko melalui pesan singkatnya meminta petani menerapkan pengairan berselang. Selain itu petani perlu mengelola tanaman refugia yang sudah ada dan mengoptimalkan penggunaan pestisida nabati (pesnab) dan POC yang diproduksi sendiri oleh petani. Selain ramah lingkungan, penggunaan pesnab dan POC juga minimal biaya. “Langkah yang dilakukan petani ini nantinya sangat penting untuk menuju Budidaya Tanaman Sehat (BTS),”jelasnya.

Sementara itu fasilitator kegiatan, Among Wibowo memotivasi petani untuk lebih jeli dalam pengamatan terhadap hama dan penyakit dan menerapkan pengairan berselang. Pengamatan terhadap hama dan penyakit secara rutin akan meminimalkan terjadinya ledakan serangan OPT pada pertanaman. Pengairan berselang dapat mengefisienkan penggunaan air yang berlebihan dan memberikan kondisi keseimbangan dalam ketersediaan air dan oksigen. Pengairan yang berlebihan di satu sisi dapat merugikan petani dalam beberapa aspek. Antara lain meningkatnya kemasaman tanah (pH tanah) dan meningkatnya serangan OPT utamanya hama sundep (Schirpopaga innotata). “Meningkatnya pH tanah akan menurunkan serapan unsur hara oleh tanaman padi, sedangkan meningkatnya serangan sundep dapat berakibat fatal pada penurunan produksi padi milik petani,”jelasnya.

Terkait pengendalian hama sundep, Among yang juga Penyuluh Pertanian Madya itu merekomendasikan penyemprotan asap cair dari sekali seminggu menjadi 2 kali seminggu. Sebagai upaya antisipasi serangan hama tikus, kelompok tani diharapkan untuk melakukan kerja bakti pembersihan gulma di pematang sawah. Selain itu dia juga mendorong petani untuk dapat membuat sendiri pesnab dan POC. Untuk itu pada kesempatan ini dia memberikan kesempatan kepada Sumadi, salah satu petani di kelurahan Magelang yang telah lulus pelatihan Pertanian Organik dari Bapeltan Soropadan untuk menularkan ilmunya. Sumadi menyampaikan secara teknis praktek pembuatan pestisida nabati (pesnab), POC dan PGPR kepada saudara-saudara taninya yang mengikuti kegiatan SLPHT. Materi yang disampaikan mulai bahan-bahan, cara pembuatan dan aplikasinya pada tanaman padi. “Pembelajaran dari petani kepada petani seperti inilah yang akan lebih membumi dan berdaya guna dalam metode pembelajaran orang dewasa (POD),”ungkap Among.

        Sementara itu Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Ahmad Sholikhun bersama Abdul Z. Rochim, Penyuluh Pertanian Penyelia mengingatkan petani tentang pentingnya untuk kembali mengelola kelembagaan kelompok tani secara benar. Kelompok Tani secara struktur sebenarnya sudah kaya fungsi karena di dalamnya sudah ada sejumlah seksi yang memadai untuk berjalannya aktivitas kelompok. Seperti seksi pertanian, seksi peternakan, seksi perikanan dan seksi alsintan. “Petani perlu memperkuat lembaganya agar dapat lebih eksis dalam kegiatan usahataninya,”katanya. (amw, red)

Peringati World Rabies Day di CFD Rindam, Disperpa-PDHI Jateng 3 Gelar Penyuluhan dan Vaksinasi Rabies Gratis

on .

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang melalui UPT Klinik Hewan dan Lab Keswan hari minggu (29/09/2019) menggelar kegiatan penyuluhan dan vaksinasi rabies gratis di even Car Free Day (CFD) Rindam Magelang. Ratusan pengunjung secara bergantian memadati stand Disperpa untuk sekedar mendengarkan penyuluhan, berfoto booth atau bahkan mengantri vaksinasi rabies untuk hewan kesayangannya. Kegiatan dimaksudkan untuk memperingati World Rabies Day Tingkat Kota Magelang yang jatuh sehari sebelumnya, tepatnya tanggal 28 September 2019. Dalam kegiatan ini Disperpa bekerjasama dengan Persatuan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Wilayah 3 Jawa Tengah.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan Kepala UPT Klinik Hewan dan Lab Keswan, Heru Trisusila menyatakan kegiatan ini untuk mendukung program provinsi Jawa Tengah bebas penyakit rabies. Pelaksanaan vaksinasi rabies di CFD Rindam kali ini melibatkan12 orang Dokter Hewan dari PDHI Wilayah 3 Jateng dan 10 orang tim Puskeswan Kota Magelang. Terinformasi hari ini (minggu, 29 September 2019) Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga melaksanakan kampanye Jawa Tengah Bebas Rabies di CFD Semarang.

Selanjutnya Heru menegaskan bahwa kegiatan penyuluhan tentang penyakit rabies itu untuk mengedukasi warga masyarakat di Kota Magelang. Pihaknya merasa perlu mendidik anak-anak agar memahami dan mewaspadai rabies sebagai salah satu penyakit zoonosis dalam memelihara hewan. Pun halnya dengan kegiatan vaksinasi rabies gratis. Mengingat pentingnya penanganan penyakit rabies, Disperpa melalui UPT Lab Klinik Hewan dan Lab Keswan menyediakan vaksinasi hingga 200 dosis. "Namun karena keterbatasan waktu di CFD kemungkinan tidak semuanya terlayani di CFD,”ujarnya.

Heru menambahkan hingga pukul 10.00 WIB pelaksanaan CFD, karena keterbatasan waktu pihaknya baru menyelesaikan pelayanan vaksinasi rabies untuk 88 ekor hewan kesayangan. UPT Klinik Hewan dan Lab Keswan yang sedang mengikuti Lomba Abdi Bhakti Tani itu akan melanjutkan pelayanan vaksinasi rabies gratis di gedung Puskeswan, Jalan Pahlawan Kota Magelang. Secara rinci ia menjelaskan dari 88 ekor hewan kesayangan yang telah divaksinasi rabies terdiri dari 51 ekor kucing (31 ekor jantan, 20 ekor betina), 12 ekor anjing (8 ekor jantan, 4 ekor betina), 1 ekor kera jantan dan 1 ekor musang. “Mengingat animo masyarakat yang tinggi sementara waktu terbatas, untuk sisa kuota akan kami layani di Puskeswan Kota Magelang hingga target 200 dosis terpenuhi,”imbuhnya. (among_wibowo, red).

      

Disperpa Tebar Bibit Ikan Nila Pada Demplot Mina Padi dan Mina Cabai Gapoktan Sri Rejeki

on .

MAGELANG-Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari jumat (27/09/2019) melaksanakan kegiatan demonstrasi plot (demplot) budidaya Mina Padi dan Mina Cabai di Gapoktan Sri Rejeki Kelurahan Magelang. Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko yang didampingi sejumlah ASN Bidang Ketahanan Pangan, Penyuluh Pertanian dan petani itu menandai dimulainya kegiatan demplot dengan melakukan tebar sekitar 65 kg bibit ikan nila di 2 lokasi lahan yang masing-masing sudah ditanami padi dan cabai rawit. Kegiatan ini dimaksudkan sebagai percontohan untuk mengoptimalkan fungsi lahan sawah sebagai unit produksi komoditas pertanian dan perikanan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani di Kota Magelang.

Di sela-sela kegiatan tebar bibit ikan, Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko menyatakan kegiatan demplot ini sebagai tindak lanjut dari kegiatan Pelatihan Mina Padi dan Studi Tiru Mina Padi dan Mina Cabai di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Muda dusun Samberembe, desa Candibinangun, kecamatan Pakem kabupaten Sleman beberapa waktu lalu. Kegiatan demplot dilaksanakan di 2 kelurahan, Magelang dan Cacaban. Pelaksanaan kegiatan demplot di kelurahan Magelang dilakukan jumat (27/09/2019) pada 2 unit petak sawah. Demplot Mina Padi dilasanakan di lahan seluas 800 meter persegi milik Toni Utomo, sedangkan demplot Mina Cabai dilaksanakan di lahan seluas 500 meter persegi milik Sin Winarto. Adapun demplot Mina Padi di kelurahan Cacaban baru akan dilaksanakan menyusul pada awal bulan Oktober mendatang,”jelasnya.

Eri menegaskan Disperpa terus berupaya memunculkan inovasi-inovasi baru di sektor pertanian demi terwujudnya kesejahteraan petani yang lebih baik. Salah satunya dengan mengkombinasikan budidaya komoidtas pertanian dan perikanan dalam satu lahan. Diakuinya, inovasi dan kreatifitas merupakan kunci utama dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan pertanian produktif di Kota Magelang yang dari waktu ke waktu semakin menyusut. “Disperpa menolak menyerah terhadap semakin terbatasnya lahan produktif, kami (Disperpa) akan terus menunjukkan kinerja (inovasi) yang terbaik dengan keterbatasan lahan yang ada demi terwujudnya peningkatan kesejahteraan petani,”tandasnya.

Terinformasi data terakhir lahan pertanian produktif Kota Magelang (sesuai hasil pendataan Badan Informasi Geospasial dan sinkronisasi dengan BPN Kota Magelang) hanya menyisakan 161,34 hektar dengan rincian 142,83 hektar sawah dan 18,51 hektar tegalan. Lahan tersebut tersebar secara spot-spot di wilayah Kota Magelang, kecuali Rejowinangun Selatan, Panjang dan Kemirirejo. Terkait situasi tersebut, Disperpa sedang berupaya mengoptimalkan fungsi lahan pertanian dengan memperkuat inovasi-inovasi dan mengembangkan urban farming sebagai salah satu solusi jitu menghadapi penyusutan lahan pertanian di Kota Magelang.

Terkait kegiatan Mina Padi, Kabid Pangan, C.Dwi Ratri didampingi Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan, M.Makfud mengungkapkan harapannya kegiatan ini berjalan sukses sehingga dapat menjadi contoh bagi petani di lokasi kelurahan lainnya. Menurutnya usaha tani Mina Padi maupun Mina Cabai bila diusahakan dengan benar akan dapat menambah pendapatan petani. Kalau biasanya, petani hanya bisa panen padi atau cabai saja, maka dengan usaha tani Mina ini petani juga memperoleh hasil ikannya. Bahkan, lanjutnya, kalau merujuk pengalaman petani di Sleman itu dari lahan Mina Cabai seluas 500 meter persegi, mereka dapat memperoleh uang sekitar 9 juta rupiah. “Kita harapkan petani mencontoh keberhasilan di Sleman. Semoga dalam 2-3 bulan ke depan petani sudah dapat memanen ikannya dalam ukuran siap konsumsi,”tambahnya.

       Sementara itu Toni Utomo dan Sin Winarto, keduanya petani pelaksana demplot menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Disperpa yang telah mempercayakan kegiatan demplot kepada mereka. Di tengah-tengah kegalauan yang hinggap akibat keterbatasan air irigasi, keduanya menuturkan masih optimis untuk bisa mengikuti jejak keberhasilan petani di Sleman. “Mudah-mudahan dengan kehadiran langsung Kepala Dinas, demplot kami dapat menjadi contoh yang baik bagi sederek tani di Kota Magelang,”imbuhnya (among_wibowo, red)