• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

KEMENTAN TANTANG KOTA MAGELANG HASILKAN PRODUK FLORIKULTURA KUALITAS EKSPOR

on .

Kota Magelang boleh mengklaim sebagai kota sejuta bunga kini menghadapi tantangan untuk dapat menghasilkan produk florikultura, baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Tidak tanggung-tanggung, yang memberikan tantangan adalah Direktur Buah dan Florikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Dr. Ir. Sarwo Edi Wibowo, MP saat hadir dalam pembukaan Agri-Flori Expo 2018 hari Jumat, 14 September 2018 di Gedung Ahmad Yani Magelang.

Kementan sejauh ini mendorong setiap daerah untuk mampu menghasilkan produk buah dan florikultura (tanaman berbunga dan hias) yang dapat diekspor. Sebab, pasar luar negeri masih sangat potensial untuk dijelajahi. Ia pun mengajak Pemkot Magelang untuk mulai menghasilkan produk florikultura berkualitas sebagai komoditas ekspor. “Kementan sangat berharap Pemkot Magelang melalui Dinas Pertanian dan Pangan mampu menghasilkan produk florikultura. Apalagi Kota Magelang memiliki roadmap menjadi Kota Sejuta Bunga yang idealnya memiliki basis produksi berbagai jenis bunga yang spesifik,” katanya.

agri flori

Dalam kesempatan itu Sarwo mencontohkan kelompok tani di Slawi, KabupatenTegal, setiap harinya mampu memproduksi 30 kg bunga melati dengan luasan lahan 1.500 m2. Sebanyak 20 kg di antaranya diambil eksportir untuk diekspor bersama hasil produksi dari kelompok lain. Itu baru satu kelompok petani saja,” tuturnya.

Ditambahkannya, Kementerian Pertanian memiliki program pengembangan kawasan buah dan florikultura yang bisa dimanfaatkan daerah-daerah. Termasuk Kota Magelang, yang dilihatnya malah belum mengajukan usulan bantuan ke pihaknya. Padahal, Kementerian Pertanian siap membantu kelompok tani di daerah-daerah dari berbagai aspek mulai bibit, pupuk, hingga pasar.

Dia juga menyampaikan bahwa saat ini negara tujuan ekspor komoditas florikultura mayoritas masih di ASEAN dan sebagian Asia. Namun tidak sedikit pula yang sampai ke Belanda, Amerika Serikat, dan Australia dengan berbagai jenis tanaman berbunga dan hias. Dan yang tak kalah menggembirakan pasar lokal pun masih tetap potensial, seperti Jakarta dan Bandung.

Sementara itu menanggapi tantangan dari Kementerian Pertanian, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mengaku, inspirasi dan tantangan dari Kementerian Pertanian harus ditangkap. Bahkan ia memiliki angan-angan Kota Magelang seperti Kota Tomohon, Sulawesi Utara, yang berhasil mengembangkan florikultura. “Usulan Pak Direktur (Sarwo Edi Wibowo, red) itu bagus, harus ditangkap. Hal ini sejalan dengan ikon yang kita miliki, yakni Kota Sejuta Bunga,” ungkapnya.

Sigit mengakui bahwa slogan Kota Sejuta Bunga saat ini justru ditangkap daerah sebelah (Kabupaten Magelang, red) dengan munculnya beberapa taman bunga masyarakat, seperti taman bunga matahari dan celosia. Bahkan, mampu menjadi destinasi wisata baru yang dengan cepat populer di masyarakat. “Saya justru bangga dengan adanya taman bunga itu. Slogan Kota Sejuta Bunga itu bukan hanya untuk Kota Magelang saja, tapi Magelang secara keseluruhan (Magelang Raya),” lanjutnya.

Khusus untuk Kota Magelang menurut Sigit perlu terus berinovasi untuk mengembangkan konsep pertanian perkotaan (urban farming) yang memanfaatkan pekarangan rumah. Termasuk mengembangkan kampung bunga dan kampung organik di setiap kelurahan di Kota Magelang. (among, red)

GEJUG LESUNG WARNAI PEMBUKAAN AGRI FLORI EXPO 2018

on .

agri

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang belum lama ini menyelenggarakan Agri-Flori Expo 2018 yang dilaksanakan tanggal 14-16 September 2018 di Gedung Ahmad Yani Magelang. Kegiatan dibuka oleh Walikota Magelang, Ir.Sigit Widyonindito, MT, dengan iringan musik 'gejug lesung'. Walikota Magelang didampingi Direktur Buah dan Florikultura Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian RI Dr. Ir.Sarwo Edhy, MM, Wakil Walikota Magelang Dra Windarti Agustina,  Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Ir.Yuni Astuti, MP dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang Ir. Eri Widyo Saptoko, MSi bersama-sama menyanyikan Lagu "Padhang Bulan" bersamaan dengan penampilan beberapa penari.

Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari tersebut tidak hanya berupa kegiatan pameran produk pertanian tetapi juga beberapa kegiatan lomba termasuk lomba aglonema, lomba vlog, lomba terarium dan sejumlah lomba lainnya. Kegiatan juga dimeriahkan dengan bazaar kuliner khas Magelang.

Dalam kesempatan ini Walikota Magelang mengharapkan kegiatan ini dapat menjadi sarana untuk menginisiasi Magelang Kota Sejuta Bunga. Dia meminta pelaku utama dan pelaku usaha tanaman hias/bunga dapat memanfaatkan momentum untuk menumbuhkembangkan usahanyadi sektor agri flori. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, Ery Widyo Saptoko, di sela-sela kegiatan Agri-Flori menambahkan bahwa kegiatan ini juga bertujuan untuk lebih menggiatkan dan menyemarakkan serta memberikan kesempatan petani agri-flori untuk tampil dengan berbagai produksinya.  "Kegiatan Agri Flori Expo ini juga sebagai wadah silaturahim para petani, bahkan juga dapat dimanfaatkan sebagai ajang bertukar-pikiran serta menambah pengetahuan di bidang budidaya agri-flori,"katanya.

Seperti diketahui pasar flori (bunga) di Indonesia saat ini cukup besar. Di Magelang banyak petani flori yang antusias untuk melakukan budidayakan florikultura. Karena itu perlu diidentifikasi dan difokuskan flori-flori apa yang cocok serta banyak diminati masyarakat dan memiliki daya ungkit dari aspek ekonomi masyarakat penggiat tanaman hias/bunga. (among, red)

Menggagas 6 Jurus Pengembangan Komoditas Anggrek Untuk Memperkuat Slogan Magelang Kota Sejuta Bunga Jilid II

on .

Oleh :

Among Wibowo, SP, MMA

Penyuluh Pertanian Madya

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang

 

Kota Magelang sejak tahun 2013 sangat getol membumikan slogan Magelang Kota Sejuta Bunga (MKSB). Namun demikian sejauh ini implementasi slogan MKSB yang diperkuat dengan Perda Kota Magelang Nomor 11 tahun 2014 tentang Branding Kota Magelang itu terbilang masih belum optimal. Setali tiga uang, dukungan dan partisipasi masyarakat di Kota Magelang pun terasa masih belum tampak nyata untuk menggenjot slogan MKSB. Slogan MKSB sebagai wujud penataan kota secara komprehensif juga masih belum terlihat geliatnya di tingkat Kota maupun lingkungan masyarakat di Kota Magelang. Padahal ini penting demi mewujudkan pembangunan Kota Magelang sebagai kota yang bersih, indah dan berwawasan lingkungan dengan ikon utama bunga. Kota yang indah dan asri dengan keberadaan beragam bunga yang ditanam di tempat-tempat strategis dan taman-taman kota.

Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah belum adanya maskot (ikon) tanaman bunga yang menjadi ciri khas sekaligus mencirikan eksotisme tanaman bunga Kota Magelang. Padahal menurut sejarah, dulunya Magelang dikenal sebagai sentra penghasil tanaman hias, utamanya anggrek. Tanaman anggrek khas Magelang sudah sejak lama digemari dan diburu masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sebenarnya menjadi potensi yang tidak boleh diabaikan untuk mengangkat kembali pengembangan tanaman anggrek sebagai komoditas unggulan guna memperkuat slogan MKSB.

Sebagai salah satu komoditas hortikultura yang penting, anggrek memiliki nilai ekonomi dan estetika tinggi. Selain itu anggrek punya daya tarik tersendiri dibandingkan tanaman hias lainnya sehingga banyak diminati konsumen di dalam dan luar negeri. Bunga anggrek merupakan bunga tropis yang paling banyak dimanfaatkan dalam peradaban masyarakat modern dan terus berkembang karena keragaman dan ciri khasnya. Kebutuhan terhadap bunga anggrek dewasa pun juga kian meningkat seiring dengan banyaknya event-event penting, seperti perhelatan pernikahan, lebaran, natal, tahun baru, dan ulang tahun. Belum lagi kebutuhan untuk karangan bunga, untuk ucapan selamat dan rangkaian bunga meja untuk hotel, restoran, perkantoran dan bank.

Melihat peluang agribisnis anggrek yang relatif menjanjikan dan potensinya untuk memperkuat slogan MKSB Jilid II di Kota Magelang, Pemerintah Kota Magelang perlu menyusun roadmap langkah strategis pengembangan anggrek sebagai maskot (ikon) bunga Kota Magelang. Langkah strategis Pemerintah Kota Magelang dalam usaha pengembangan agribisnis anggrek untuk memperkuat slogan MKSB perlu diarahkan untuk menciptakan iklim yang mendorong berkembangnya agribisnis dan meningkatnya peluang pasar bagi komoditas anggrek.

Pengembangan agribisnis anggrek merupakan alternatif kebijakan yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengangkat kembali slogan MKSB. Sistem agribisnis perlu menampilkan kegiatan on farm dan off farm secara terpadu, memberi peluang bagi pengembangan agribisnis anggrekdi Kota Magelang sebagai ikon yang akan memperkuat slogan MKSB. Beberapa strategi yang dapat ditempuh antara lain dengan :

1. Menyusun rancang bangun tahapan pembungaan anggrek

Alur kegiatan atau tahapan pembungaan anggrek secara komprehensif perlu disusun mengingat sampai sejauh ini belum ada rancangan detail tahapan pembungaan komoditas anggrek. Berikut adalah tahapan pembungaan anggrek menurut umur bibit (seperti pada Bagan Alur Strategi Pengembangan Agribisnis Anggrek Untuk Memperkuat Slogan MKSB) yang dapat dilakukan untuk pengembangan agribisnis komoditas anggrek : 

a.Pembesaran bibit anggrek botolan ( 0 HST) menjadi anggrek umur 6 bulan

Pada tahapan ini anggrek botolan hasil kultur jaringan dipindah tanam (transplanting) ke media single pot dan selanjutnya sebaiknya dilakukan pemeliharaan di Green House milik Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang selama kurang lebih 6 bulan

b. Pembesaran bibit anggrek umur 6 bulan menjadi bibit anggrek umur 12 bulan

Setelah bibit anggrek berumur 6 bulan, pembesaran bibit anggrek hingga berumur 12 bulan dapat memberdayakan mitra pelaku utama dan pelaku usaha binaan Disperpa Kota Magelang. Pelaku utama dan pelaku usaha dapat memperoleh nilai tambah secara ekonomi dari usaha pembesaran bibit anggrek pada tahap kedua ini.

c. Pembesaran bibit anggrek umur 12 bulan menjadi bibit anggrek umur 18 bulan

Tahapan selanjutnya dengan pola yang sama dapat dilakukan seperti tahapan kedua, selama 6 bulan berikutnya hingga bibit anggrek berumur 18 bulan. Pelaku utama dan pelaku usaha juga dapat memperoleh nilai tambah secara ekonomi dari usaha pembesaran bibit anggrek pada tahap ketiga ini.

d. Inisiasi pembungaan anggrek di dataran tinggi (lebih dari 1000 m dpl)

Pada tahapan akhir ini, keterlibatan Disperpa Kota Magelang sangat vital dengan menyiapkan lahan untuk inisiasi pembungaan anggrek di lahan dataran tinggi (lebih dari 1000 m dpl). Bibit anggrek remaja yang sudah berumur 18-20 bulan, baik produksi Disperpa maupun binaan Disperpa yang siap berbunga dibawa ke lokasi lahan tersebut selama sekitar 2-3 bulan hingga serempak berbunga (keluar knop/tangkai bunga secara serempak). Selanjutnya bibit dapat dibawa kembali ke Kota Magelang untuk dipasarkan ke konsumen. Pemasaran dapat melalui swalayan anggrek yang direncanakan di area kantor Disperpa Kota Magelang, Kampung Anggrek maupun pemasaran online dan offline untuk sejumlah kegiatan, antara lain festival anggrek, kontes anggrek dan usaha rental anggrek.

Catatan : BAGAN ALUR SESUAI PADA NASKAH KAJIAN ISU STRATEGIS 2019

 

2.Menumbuhkembangkan kampung anggrek

Inisiasi Kampung Anggrek di Kota Magelang akan sangat menarik untuk dikembangkan mengingat banyak sekali koleksi bunga anggrek khas Magelang seperti jenis Phalaenopsis, Dendrobium, Cattleya dan Vanda tricolor. Kampung Anggrek masih sangat jarang terutama untuk lokasi budidaya dan koleksi jenis yang lengkap. Saat ini baru rintisan di Kelurahan Tidar Selatan dan Kedungsari. Kampung Anggrek di Tidar Selatan dan Kedungsari diharapkan tidak hanya sebagai destinasi wisata tani tetapi dapat menjadi media pembelajaran masyarakat dan wisata belanja bunga anggrek.

Kampung Anggrek ini dapat dipadukan dengan Swalayan Anggrek. Wisatawan dapat leluasa membeli anggrek dari berbagai jenis dan ukuran lengkap dengan peralatannya seperti pot dan media tanam yang lain. Inisisasi Kampung Anggrek di Kota Magelang diharapkan dapat memberdayakan masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat di wilayah tersebut. Bila dikelola dengan baik potensi Kampung Anggrek sangat besar untuk dikembangkan supaya memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat, sekaligus memiliki daya ungkit untuk memperkuat slogan MKSB.

 

3. Menumbuhkembangkan swalayan anggrek

Keberadaan swalayan anggrek akan semakin memperkuat slogan MKSB. Inisiasi swalayan anggrek dilakukan melalui peningkatan fungsi area green house kantor Disperpa Kota Magelang, Jl. Kartini.Nomor 3 Magelang. Komoditas anggrek yang dipamerkan adalah anggrek remaja yang sudah berbunga, hasil inisiasi pembungaan di daerah dataran tinggi. Anggrek berasal dari pengembangan Dinas maupun binaan Dinas.

Swalayan dapat dibuka sampai malam untuk mengakomodir wisatawan maupun hobiis yang ingin berbelanja bunga anggrek. Di swalayan tersebut, pelaku usaha anggrek Kota Magelang dapat memasarkan hasil produksinya kepada konsumen. Konsumen atau hobiis anggrek dapat bertransaksi anggrek secara langsung, sekaligus berkonsultasi terkait budidaya dan pemasaran tanaman anggrek. Anggrek yang dipasarkan sebaiknya diprioritaskan yang sudah berbunga sehingga pelaku usaha dapat memperoleh nilai tambah.

 

4. Inisiasi penyelenggaraan festival dan kontes anggrek

Festival dan kontes anggrek akan mendongkrak kunjungan wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk datang ke Kota Magelang. Mereka diharapkan tertarik berkunjung ke Kota Magelang melalui keindahan dan kecantikan bunga anggrek. Festival dan kontes anggrek dapat mempromosikan dan mengedukasi minat masyarakat terhadap komoditas anggrek. Sejumlah pelaku utama dan pelaku usaha akan memiliki momentum untuk berpartisipasi aktif mengenalkan dan memasarkan komoditas anggrek. Kegiatan ini juga dapat meningkatkan prestise komoditas anggrek sehingga akan meningkatkan nilai ekonomi bagi pelakunya.

Beberapa kegiatan ikutan yang dapat digelar antara lain pameran dan bursa anggrek, demo merangkai anggrek, pelatihan budidaya anggrek, pelatihan menanam anggrek dan klinik kesehatan tanaman anggrek serta lomba mewarnai dan melukis baik untuk dewasa maupun anak-anak. Masyarakat teredukasi komoditas anggrek yang endingnya dukungan masyarakat meningkat terhadap komoditas anggrek sebagai ikon slogan MKSB.

 

5. Pemilihan duta anggrek

Penyelenggaraan even pemilihan Duta Anggrek Kota Magelang diharapkan dapat memperkuat kampanye Ayo Ke Magelang Jilid II melalui slogan MKSB. Pelaksanaannya setiap tahun dapat dikaitkan dengan hari Jadi Kota Magelang. Kriteria utama penilaian peserta lomba diharapkan dapat mengkampanyekan anggrek sebagai ikon MKSB Jilid II. Untuk itu peserta (diprioritaskan usia pelajar) harus memiliki kemampuan pengetahuan tentang anggrek. Penilaian sebaiknya tidak hanya berdasarkan fisik saja tetapi juga pada aspek inner beauty dan kecerdasan pengetahuan para peserta lomba.

Proses Pemilihan Duta Anggrek ada baiknya dibuka pendaftaran secara online. Proses seleksi umumnya meliputi tahap seleksi administrasi, uji kompetensi dan wawancara terhadap peserta. Pada saat uji kompetensi peserta dapat diminta menyiapkan sebuah proposal program dan rencana implementasi kegiatan jika terpilih sebagai Duta Anggrek. Selanjutnya kandidat juara sebelum dikukuhkan sebagai Duta Anggrek diberikan pembekalan terkait 3 hal yaitu Kota Magelang, Anggrek dan MKSB.

 

6. Promosi souvenir anggrek

Tradisi souvenir dewasa ini sudah mulai bergeser dari barang yang tak hidup dikonversi menjadi souvenir hidup seperti bibit anggrek. Bibit anggrek dapat ditradisikan sebagai souvenir pada sejumlah even masyarakat seperti acara pernikahan, acara tasyakuran dan sejenisnya. Manfaat ekonomi bagi pelaku utama (petani) dan pelaku usaha (pedagang) di Kota Magelang semakin meningkat sekaligus memperkuat slogan MKSB (Penulis Kajian Among Wibowo, SP, MMA, dirangkum dari Kajian Isu Strategis Badan Litbang Kota Magelang 2019 ).