• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Genjot Peningkatan Kualitas SDM Pertanian Untuk Urban Farming, Disperpa Kota Magelang Geber Pelatihan Budidaya Tabulampot, Biofarmaka dan Vertikultur

on .

Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang pada bulan Pebruari 2019 menggenjot sejumlah pelatihan Urban Farming bagi masyarakat/penggiat tani Kota Magelang. Pelatihan-pelatihan tersebut antara lain pelatihan budidaya tabulampot, biofarmaka dan vertikultur. Tercatat selama 3 hari mulai 19-21 Pebruari 2019, bertempat di aula Disperpa Jl. Kartini No. 3 Kota Magelang, tak kurang dari 200 orang peserta dibekali ilmu dan ketrampilan tentang Budidaya Tabulampot, Biofarmaka dan Vertikultur. Peserta berasal dari 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Magelang Selatan, magelang Tengah dan Magelang Utara.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko di sela-sela acara menyatakan kegiatan yang merupakan amanat musrenbang Kota Magelang dan pokok-pokok pikiran DPRD Kota Magelang itu sangat penting sebagai modal dasar untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian Kota Magelang dalam mewujudkan dan menggalakkan pengembangan urban farming di Kota Magelang. Kegiatan yang menghadirkan narasumber dan praktisi itu diharapkan mampu memberikan bekal ketrampilan bagi masyarakat/penggiat tani urban farming di Kota Magelang. “Kami berharap ke depan bisa muncul beberapa dari peserta ini yang sukses sebagai pelaku usaha agribisnis di Kota Magelang,”tambahnya.

Seperti diketahui narasumber dan praktisi yang dihadirkan dalam kegiatan ini adalah pakar di bidangnya masing-masing. Narasumber dan praktisi yang dihadirkan tersebut yaitu Suwandi Wihardjo (Erdi Garden Muntilan), H.Gunawan EP (Menoreh Herbal), Dr. Agus Suprapto, SP, MP dan Siti Nurul Iftitah, SP, MP (Untidar). Adapun metode pelatihan menggunakan komposisi 40% teori dan 60 % praktek sehingga diharapkan dalam proses pembelajaran, peserta dapat memperoleh ilmu dan ketrampilan pertanian terapan yang lebih baik.

Pada hari pertama Pelatihan Budidaya Tabulampot, peserta diberikan materi prinsip dasar teori dan praktek budidaya tanaman buah dalam pot (tabulampot) dan teknik perbanyakan tanaman secara vegetatif dengan cangkok, stek, menyambung dan menempel. Selesai pelatihan, setiap peserta memperoleh bahan percontohan untuk dibawa pulang berupa bibit tanaman buah (3 jenis), pot plastik besar, pupuk, vitamin B dan pestisida.

Selanjutnya di hari kedua Pelatihan Biofarmaka, peserta mendapatkan materi pelatihan berupa teori dan praktek budidaya tanaman-tanaman obat/biofarmaka, prospek dan pemasarannya serta praktek pembuatan kosmetik dan jamu untuk pengobatan tradisional/herbal. Diharapkan dengan bekal kemampuan yang diperoleh tersebut peserta terdorong dapat memanfaatkan lahan-lahan tidur milik masyarakat maupun bengkok Pemerintah Kota Magelang. Lahan-lahan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman obat/biofarmaka secara komersial sehingga punya daya ungkit secara ekonomi bagi masyarakat perkotaan. Selesai pelatihan, peserta memperoleh bahan percontohan seperti bibit tanaman biofarmaka dan saprodi pendukungnya.

Sedangkan pada hari ketiga peserta memperoleh Pelatihan Budidaya Tanaman Secara Vertikultur. Manfaat dari pelatihan ini peserta dapat mempelajari dan praktek budidaya tanaman sayuran secara vertikultur. Teknik vertikultur penting mengingat dewasa ini ada tren semakin terbatasnya lahan-lahan pertanian produktif di perkotaan. Teknik budidaya tanaman secara vertikultur diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif bagi masyarakat pertanian di perkotaan tidak terkecuali Kota Magelang. Selain itu produk sayuran yang dihasilkan secara vertikultur juga dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan sayuran skala rumah tangga yang aman dikonsumsi masyarakat karena umumnya dibudidayakan secara ramah lingkungan (among_wibowo,red).

Tingkatkan Pelayanan Pengunjung Kawasan Gunung Tidar, Disperpa Lakukan MoU Dengan PT.Jasa Raharja Putera

on .

MagelangKota,- Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Pertanian dan Pangan dalam upaya meningkatkan pelayanan untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung saat berkunjung ke kawasan Gunung Tidar, pada hari Rabu, 20 Pebruari 2019 di Kebun Bibit Senopati, Jl. Diponegoro Magelang melaksanakan nota kesepahaman (MoU) dengan PT. Jasa Raharja Putera.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, Ir. Eri Widyo Saptoko, M.Si menyatakan bahwa pembayaran premi asuransi pengunjung bersumber dari dana APBD Kota Magelang TA. 2019 sebagaimana diamanatkan UU Nomor 10 tahun 2009 tentang penyelenggaraan pariwisata yang beresiko tinggi diwajibkan untuk menyediakan asuransi bagi pengunjung. Dia menambahkan, dengan pembayaran premi dari Pemerintah, perusahaan yang sudah kenyang pengalaman dalam bisnis asuransi destinasi wisata tersebut wajib memberikan jaminan asuransi kecelakaan bagi pengunjung Kawasan Gunung Tidar.

 

Menurut Eri, pemberian jaminan asuransi ini merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk melindungi pengunjung apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan ketika berkunjung ke Gunung Tidar. “Bagi pengunjung yang mengalami kecelakaan dengan akibat cedera ringan/luka akan mendapatkan santunan berupa biaya pengobatan maksimal Rp 2 juta, sedangkan bila pengunjung mengalami cacat tetap atau meninggal dunia diberikan santunan maksimal Rp 10 juta.

Langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Magelang tersebut, lanjutnya, dimaksudkan pula untuk menyongsong “Ayo Ke Magelang 2020” sekaligus memperkuat branding “Magelang Kota Sejuta Bunga”. Kawasan Gunung Tidar yang berada pada ketinggian sekitar 500 m dpl yang saat ini dikelola UPT Kawasan Gunung Tidar selain berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang bernuansa spiritual/religi, juga mulai melakukan inventarisasi plasma nutfah tanaman bekerjasama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk rintisan menjadi kawasan Kebun Raya. Hal ini diharapkan dapat semakin mendukung terwujudnya branding “Magelang Kota Sejuta Bunga”.

Tren positif peningkatan jumlah pengunjung ke kawasan Gunung Tidar mulai tampak pada tahun 2018. Berdasarkan data yang direalese UPT Kawasan Gunung Tidar, jumlah kunjungan ke lokasi “Pakuning Tanah Jawa” tersebut pada tahun 2018 meningkat drastis dari tahun-tahun sebelumnya mencapai 97 ribu orang dan ditargetkan semakin meningkat pada tahun 2019 dan puncaknya diharapkan terjadi pada tahun 2020 saat pencanangan visit Magelang dengan tagline “Ayo Ke Magelang 2020”.

Guna menunjang target tersebut, selain fasilitas asuransi untuk pengunjung, Pemkot Magelang melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) saat ini terus membenahi berbagai fasilitas fisik yang antara lain direncanakan Gardu Pandang dan Monumen Tanah Air Satu Bangsa sehingga ke depan lokasi calon Kebun Raya tersebut menjadi lebih menarik dan semakin diminati pengunjung, baik untuk tujuan wisata religi maupun wisata edukasi pertanian (plasma nutfah). (among_wibowo,red)

 

Magelang Rabbit Road Show: Menggali Potensi Agribisnis Baru di Kota Magelang

on .

Paguyuban Guyup Rukun Peternak Kelinci (GRPK) Magelang dengan dukungan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang pada hari minggu lalu (2 Desember 2018,red) sukses menggelar Magelang Rabbit Road Show di Artos Mall Magelang. Ratusan anggota GRPK se-Magelang hadir mengikuti kegiatan tersebut untuk membiasakan diri bertransaksi jual-beli, sekaligus beradu dalam kontes. Hal ini mengingat di Kota Magelang meski sudah mulai banyak bermunculan peternak kelinci, namun masih kurang mendapat edukasi. Terutama terkait usaha jual-beli yang pada saat ini dinilai cukup menjanjikan sebagai ladang bisnis.

Ariyono Septa, Ketua Panitia Kegiatan menyatakan, sejak berdirinya pada Desember 2017 lalu sampai sekarang anggota yang bergabung dalam GRPK mencapai 150 peternak. Rata-rata setiap anggota memiliki 4 ekor berpasangan yang potensial terus berkembang. “Peternaknya banyak, tapi tidak banyak yang mengerti bisnisnya. Kebanyakan malah sering tertipu pengepul/tengkulak yang mengaku kelinci tidak laku dan berharga murah, sehingga peternak rugi,” ujarnya di sela road show.

kelinci

Dalam kesempatan itu dia menambahkan, tengkulak seringkali membeli kelinci potong di peternak dengan harga per ekor yang tidak sampai ratusan ribu rupiah. Padahal, seharusnya kelinci dibeli dengan harga per kilogram yang mencapai Rp 35.000-Rp 50.000 per kilogram. “Rata-rata kelinci dijual setelah sampai sekitar 3 kilogram atau berusia 3 bulan. Kalau peternak punya sepasang dan sebulan beranak 4-12 ekor, maka bisa dihitung berapa rupiah yang bisa didapat setiap bulan. Dari pengalaman, peternak bisa mengantongi omset Rp 4-5 juta/bulan,” katanya.

Dengan dukungan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang, kesadaran berbisnis ini yang coba dipertegas kepada peternak kelinci. Para peternak di Magelang berkumpul untuk berbagi ilmu bersama, sekaligus melakukan penjualan langsung ke pengunjung mall. “Kami adakan juga kontes untuk jenis Flemish Giant, New Zealand dan Rex. Flemish Giant diikuti 19 ekor, New Zealand 24 ekor, dan Rex 7 ekor. Penilaian memakai standar Arba (American Rabbit Breeding Asociation) dengan juri Erdos Pinilih,” jelasnya.

Di tiga jenis itu, para peserta beradu guna memperebutkan gelar Best of Breed dan Best Opposite Breed. Peserta sangat antusias mengikuti kontes ini, sehingga untuk jenis Flemish Giant mampu memecahkan rekor nasional sebanyak 19 ekor. “Event di Magelang selalu memecahkan rekor nasional dan diperhitungkan di Indonesia bersama Bandung. Ini tidak lepas dari sejarah kelinci berkualitas banyak datang dari Magelang dan Bandung, mengingat jaman Presiden Soeharto dulu kelinci benar-benar dikembangkan di sini,” imbuhnya. (among, red)