• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Disperpa Kota Magelang-Republik Terwelu Gelar Sarasehan Edukasi Kelinci Rex

on .

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan Urban Farming di Kota Magelang. Hal ini tampak dalam sinerginya dengan komunitas Republik Terwelu untuk menggelar kegiatan Sarasehan Untuk Edukasi Kelinci Rex. Kegiatan sarasehan yang dilaksanakan kemarin (14/4) di aula Disperpa itu sukses menghadirkan sejumlah pelaku usaha kelinci Kota Magelang (Republik Terwelu). Tampil sebagai narasumber kegiatan, Septian Puguh Widyarko, pakar kelinci Rex, yang juga menjabat Presiden Indonesia Rex Rabbit Comunity.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan, Hadiono menyatakan tujuan kegiatan sarasehan adalah untuk melakukan edukasi dalam mainframe Urban Farming. Selain itu pertemuan juga sebagai upaya persiapan Lomba Battle Of Giant 2 yang akan digelar pada tanggal 9 Nopember 2019 di Bakorwil Magelang. Disperpa, lanjutnya, akan terus memberikan pendampingan dan dukungan kepada komunitas-komunitas ternak, termasuk komunitas kelinci. Hal ini tak lepas dari kondisi lahan pertanian di Kota Magelang yang semakin menyempit. “Kami mengharapkan pengembangan urban farming dapat menjadi salah satu solusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik sebagai penghasilan utama maupun penghasilan sampingan,"tegasnya.

 

Ketua Panitia Sarasehan, Aryono Septa didampingi Basuki dari komunitas Republik Terwelu berpendapat bahwa edukasi yang tepat sasaran dengan narasumber yang berkompeten akan memberikan hasil yang maksimal. Menurutnya hal-hal yang bersifat edukasi ini sangat mendasar dan penting bagi peternak kelinci. “Semakin banyak peternak kelinci insyaAllah semakin banyak rejeki bagi kita semua,”katanya.

Sementara itu narasumber sarasehan, Septian Puguh Widyarko menyatakan dirinya sengaja mengulas tuntas cara pemilihan bibit hingga cara memaksimalkan potensi kelinci, baik untuk breeding for fun maupun untuk lomba dalam sarasehan ini. Menurutnya banyak ilmu yang perlu dipelajari mulai dari aspek pakan sampai dengan aspek pemilihan warna kelinci untuk breeding. "Harapan saya semoga peternak kelinci kota Magelang semakin paham dan mau beternak kelinci Rex, karena beternak jenis ini tidaklah susah, dan hasilnya pun sangat bagus terutama bulu karpetnya,”jelasnya.

Sejumlah peserta sarasehan menyatakan puas dengan edukasi kali ini. Salah satu peserta, Fuad Pengot Mochanafi warga Trunan Tidar Selatan mengatakan bahwa ilmu terkait budidaya kelinci Rex ternyata banyak dan variatif. “Ilmu yang didapat sangat banyak mulai dari pemilihan bibit hingga pemilihan warna dalam mengawinkan induk kelinci sehingga sangat membantu saya dalam breeding," ungkapnya.

Rio, peserta lainnya dari Pinggir Wates menambahkan dirinya mendapatkan banyak pencerahan terkait ilmu tentang keseimbangan pakan. Dikatakannya keseimbangan pakan dapat memberikan hasil yang maksimal untuk kualitas kelinci. “Jadi pakan yang baik itu ternyuata bukan hanya pelet namun juga rumput kering yang punya peran sentral dalam breeding kelinci Rex,"tukasnya. (among_wibowo, red)

Disperpa Kota Magelang Gerakkan KWT Demi Perkuat Ketahanan Pangan Masyarakat

on .

*Edisi HUT Kota Magelang ke-1113

“Ayo Ke Magelang 2020 Menuju Kota Magelang Moncer Serius”

(Bagian II)

 

MAGELANG-Wajah Kota Magelang terus berubah seiring kemajuannya sebagai Kota Jasa. Kendati demikianPemerintah Kota (Pemkot) Magelang terus berupayamemperkuat ketahanan pangan di masa depan. Sebagai upaya pengembangan Integrated Urban Farming, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) memiliki sejumlah action plan untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat Kota Magelang.Melalui Bidang Ketahanan Pangan, Disperpa gencar melaksanakan pembinaan dan pendampingan Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Saat ini jumlahnya mencapai 17 KWT se-Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko melalui Kabid Ketahanan Pangan, Taat Suciati menjelaskan dengan adanya KRPL masyarakat didorong untuk memanfaatkan pekarangan lahan sempit di lingkungannya dengan budidaya tanaman sayuran, peternakan dan perikanan. Orientasi kegiatan ini secara internal untuk meningkatkan peran serta masyarakat ,khususnya kaum hawa, dalam menggeluti dunia pertanian perkotaan. Di sisi lain, menjawab permasalahan krisis ruang terbuka hijau. Selain berkontribusi meningkatkan ruang terbuka hijau, KRPL masyarakat juga berkonrtibusi terhadap produksi sayuran, ternak dan ikan serta mengurangi pengeluaran belanja keluarga,” ujarnya.

Disperpa, lanjutnya juga terus berupaya meningkatkan angka Pola Pangan Harapan (PPH) dan pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) di Kota Magelang. Upaya ini sejalan dengan program diversifikasi pangan, agar masyarakat tidak tergantung hanya pada konsumsi beras. KWT didorong untuk membudidayakan tanaman sumber pangan lokal, seperti singkong, jagung, midro, uwi dan talas. Selanjutnya bahan tersebut diolah menjadi makanan dengan tampilan menarik dan bergizi tinggi.

Taat Suciati menegaskan saat ini juga sedang disusun Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang Pengembangan Pangan Lokal. Perwal tersebut diharapkan menjadi payung hukum bagiDisperpa ketika mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan pangan lokal. Sehingga Kota Magelang dapat lebih fokus dalam pengembangan dan pengolahan pangan lokal (diversifikasi pangan).”Setelah adanya perwal, kami akan melakukan sosialisasi kepada pengusaha katering agar mengolah pangan lokal, termasuk untuk jamuan rapat kedinasan,”tandasnya.


Ditempat terpisah, Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan, M.Makfud menambahkan bahwa untuk memperkuat sektor pangan, sejumlah kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kota Magelang juga mendapatkan bantuan pemerintah melalui APBN maupun APBD. Terbaru ada 2 poktan, Ngudi Makmur I (Kramat Selatan) dan Marsudikismo (Cacaban) memperoleh bantuan masing-masing gabah 2,5 ton untuk kegiatan layanan tunda jual.

       Sementara itu gapoktan Sri Rejeki (Magelang), tambahnya, sedang dalam tahap pengusulan memperoleh bantuan alsintan untuk kegiatan off farm senilai 100 juta plus dana operasional 60 juta melalui kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM). “Targetnya gapoktan dapat mensuplai beras kemasan @5 kg sejumlah 50 ton setahun ke Toko Tani Indonesia yang ada di Kota Magelang dengan harga yang terjangkau masyarakat,”tandasnya. (among_wibowo,red)

Intregated Urban Farming, Strategi Disperpa Kota Magelang Perkuat Pembangunan Pertanian Perkotaan

on .

*Edisi HUT Kota Magelang ke-1113

“Ayo Ke Magelang 2020 Menuju Kota Magelang Moncer Serius”

(Bagian I)

 

MAGELANG- Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang memiliki upaya tinggi dalam mendongkrak dan memperkuat pembangunan pertanian perkotaan demi menjaga ketahanan pangan di masa depan. Sistem pertanian perkotaan atau urban farming dianggap menjadi solusi tepat untuk menjawab tantangan jaman. Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) sebagai OPD teknis sektor pertanian di Kota Magelang. bertekad mewujudkan Kota Magelang sebagai kota kecil yang mampu menunjukkan eksistensinya di dunia pertanian, sekalipun dihadapkan dengan semakin berkurangnya luas lahan pertanian.

Kota Magelang saat ini merupakan bagian dari kawasan Puwomanggung (pengembangan Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Magelang, Kota Magelang dan Kabupaten Temanggung) sesuai Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Provinsi Jawa Tengah. Kota yang dikenal sebagai Kota Gethuk ini terus berinovasi demi menangkap peluang-peluang emas atas kebijakan itu.

Kepala Disperpa Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko mengklaim bahwa integrated urban farming (pertanian perkotaan terpadu) yang akan diterapkan di Kota Magelang berbeda dengan daerah lain. Implementasinya merupakanketerpaduan suatu kolaborasi antara pertanian, pangan, peternakan dan perikanan. “Tapi sentralnya, tetap pada pertanian dan pangan,” kata Eri (12/4) di kantornya.

Eri tidak menampik, kawasan perkotaan lambat laun semakin padat. Luas lahan pertanian (sawah dan tegalan) di Kota Magelang pada tahun 2018 tersisa sekitar 161,34 hektar dengan rincian luas lahan sawah142,83 hektar dan luas lahan tegalan 18,51 hektar. “Semakin terbatasnya lahan membuat kegiatan berkebun jarang ditemukan di kota, belum lagi masyarakatnya disibukkan dengan aktivitas pekerjaan,”ujarnya.

Menurutnya, masyarakat dapat memanfaatkan lahan sempit seperti pekarangan rumah menjadi lahan produktif. Selain dapat memenuhi kebutuhan konsumsi harian. Berkebun di sekitar tempat tinggal juga bersifat rekreasi. “Untuk lahan yang sempit, aktivitas bisa dimulai dengan menanam cabai, tomat, terong atau sayuran seperti selada dan sawi. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mencoba jenis tanaman lain sebagai variasi,” bebernya.

   

Tingkatkan Provitas Padi Sawah dan Kembangkan Added Value Anggrek

Sebagai sentral dari kegiatan integrated urban farming, sektor pertanian difokuskan pada peningkatan provitas padi sawah dan pengembangan nilai tambah (added value) tanaman hias. Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto mendorong para petani Kota Magelang untuk lebih memaksimalkan lahan yang ada. Ia mengharapkan Kota Magelang nantinya dapat menjadi sentra benih padi unggul dan sentra beras organik. “Ke depan arah kebijakan Disperpa untuk sub sektor tanaman pangan adalah spesialisasi produksi benih padi varietas unggulan (Magelang Seed Center) dan produksi beras khusus seperti beras organik,”katanya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Madya, Among Wibowo menjelaskan terkait pengembangan tanaman hias di Kota Magelang, konsep pengembangan Kampung Anggrek sangat menarik untuk dijalankan. Mengingat banyak sekali koleksi bunga anggrek khas Magelang, utamanya jenis Vanda tricolor. Menurut Among perlu dilakukan inisisasi tumbuhnya Kampung Anggrek di Kota Magelang. Kampung Anggrek, lanjutnya, diharapkan menjadi destinasi wisata tani, media pembelajaran masyarakat, wisata belanja bunga anggrek dan berfungsi sebagai pusat koleksi bunga anggrek. “Beberapa contoh koleksi anggrek yang dapat dibudidayakan antara lain adalah Vanda, Cattleya, Oncidium dan Dendrobium,”jelasnya.

Bila terwujud, inovasi Kampung Anggrek juga dapat menjadi swalayan anggrek. Pengunjung dapat membeli anggrek berbagai jenis dan ukuran lengkap dengan peralatannya seperti pot dan media tanam yang lain. Mereka dapat memilih sendiri bunga-bunga anggrek yang tersedia. Terinformasi saat ini di Kota Magelang sudah ada rintisan Kampung Anggrek di wilayah Kelurahan Tidar Selatan.

Kampung Anggrek dapat mendukung rencana peningkatan fungsi green house bunga anggrek di Disperpa sebagai swalayan bunga anggrek. Swalayan bunga anggrek memungkinkan buka sampai malam untuk mengakomodir kebutuhan wisatawan yang ingin berbelanja bunga anggrek,” imbuhnya menirukan gagasan dari Kadisperpa beberapa waktu lalu.

Di tempat terpisah, Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH), Ahmad Sholikhun menyatakan pihaknya berupaya memperkuat branding anggrek Kota Magelang dan optimalisasi fungsi Laboratorium Kultur Jaringan (Lab Kuljar). Disperpa, lanjut Sholikhun, tengah menyiapkan roadmap pengembangan anggrek. Saat ini sudah ada rencana untuk mengoptimalkan hasil produksi bibit anggrek dan memberdayakan pelaku usaha tanaman anggrek. “Disperpa juga sedang menyiapkan lahan di daerah dataran tinggi Kabupaten Magelang untuk mendukung proses aklimatisasi atau pembungaan anggrek,”tukasnya.

Disinggung keterlibatan pelaku usaha agribisnis tanaman hias/anggrek dia menyatakan pihaknya terus mendorong mereka untuk kreatif berinovasi sehingga memperoleh keuntungan tambahan dari usaha yang dilakukan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan pelaku yang masih pemula, Disperpa juga intensif memberikan pelatihan-pelatihan tanaman hortikultura tak terkecuali anggrek.

Terinformasi idealnya pembesaran bibit anggrek botolan hasil kultur jaringan dilakukan di Green House Disperpa Kota Magelang hingga kira-kira 18-24 bulan. Selanjutnya untuk menyerempakkan berbunga, tanaman anggrek dipindahkan ke lahan aklimatisasi selama sekitar 2-3 bulan. Setelah berbunga, tanaman anggrek dibawa kembali ke Kota Magelang untuk dipasarkan ke konsumen. Roadmap seperti ini diyakini dapat meningkatkan keuntungan pelaku usaha anggrek di Kota Magelang yang selama ini hanya menjual bibit yang masih kecil hingga remaja.

        Untuk mempermudah pola usaha pelaku usaha akan dibuat pola budidaya dengan pembagian kluster. Para petani anggrek akan dibagi ke dalam beberapa kluster. Yakni menangani usai 0-6 bulan, usia 6-12 bulan, dan usai 12-18 bulan. Dengan spesialisasi penanganan seperti ini, diharapkan perputaran modal bisnis petani anggrek lebih cepat dan lancar. Konektivitas budidaya anggrekpun berjalan. (among_wibowo, red)