• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Viral, Sapuan Petani Tertua Binaan Disperpa Kota Magelang

on .

MAGELANG – Di tengah derasnya arus informasi dan geliat era pertanian 4.0 dimana aktivitas pertanian mulai didorong untuk disesaki para kaum muda dan millenial, Kota Magelang ternyata masih menyisakan petani dari generasi baby boomer. Adalah Sapuan, yang viral sebagai petani tertua binaan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang, dan tidak menutup kemungkinan menjadi petani tertua di Indonesia. Dengan usianya yang menginjak 99 tahun, Sapuan yang tinggal di RW I Kampung Tulung kelurahan Magelang itu saat ini masih setia dengan aktivitas pertanian, mulai mencangkul lahan, menanam hingga panen padi sawah. Mbah Sapuan, demikian beliau akrab dipanggil, tercatat sebagai anggota tertua kelompok tani Subur Makmur Gapoktan Sri Rejeki di Kampung Tulung kelurahan Magelang.

Sapuan berfoto bersama Penyuluhnya di sela-sela kegiatan SLPHT

Ditemui di sela-sela kegiatan Penutupan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) tahun 2019 beberapa hari lalu (21/11/2019), pria kelahiran tahun 1920 dengan 5 orang anak dan lebih dari 15 cucu dan cicit itu sudah mulai menggeluti dunia pertanian sejak tahun 1960. Mbah Sapuan rutin menanam padi sawah 3-4 kesok (sekitar 3000 meter persegi, red) dengan hasil rata-rata 1,2 ton – 1,6 ton Gabah Kering Panen setiap musimnya. Ia bersama kedua adiknya, Samadi (82 tahun) dan Sin Winarto (78 tahun) sama-sama tergabung dalam kelompok tani Subur Makmur Gapoktan Sri Rejeki. Mereka hingga saat ini masih setia menekuni profesi sebagai pejuang pangan, sebuah profesi mulia yang dewasa ini mulai ditinggalkan para millenial. Bahkan kedua adiknya, Samadi dan Sin Winarto, saat ini masih tercatat sebagai operator traktor di kelurahan Magelang.

Sapuan dalam salah satu kegiatan SLPHT

 

Sapuan (pakaian hitam bertopi) bersemangat mengikuti kegiatan SLPHT

Mbah Sapuan yang dikenal akrab dengan Penyuluhnya itu sambil tersenyum menceritakan resepnya awet sehat dan awet muda. Dia mengungkapkan bahwa dirinya hanya memegang dua prinsip, sabar dan nrimo atas apa yang terjadi sepanjang kehidupannya. Menurutnya kedua prinsip itu sangat membantunya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan berpasrah atas baik buruk kejadian yang dialaminya. “Kalau kita sabar dan nrimo ing pandum, mudah-mudahan bisa terhindar dari perasaan kemrungsung dan berbagai macam penyakit ringan dan berat. Saya yakin nanti Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik,”jelasnya.

Sapuan (kedua dari kiri, baju hitam polos bertopi) berpose dengan petani SLPHT lainnya

Mbah Sapuan mencontohkan sepanjang hampir 60 tahun menjalankan aktivitasnya sebagai petani, tidak setiap musim panen ia menerima kenyataan baik sebagaimana yang ia dan keluarganya harapkan. Terkadang, ia juga menerima kenyataan pahit bahwa panenan padi yang sudah di pelupuk mata itu musnah seketika akibat serangan tikus yang merajalela. “ Nggih kados pundi nggih, jaman dulu kalau sudah muncul serangan tikus, hampir dipastikan padi milik petani akan mengalami puso. Sudah tidak tertolong lagi. Namun alhamdulilah saat ini sudah jarang muncul serangan (tikus,red) karena para petani sudah sering melaporkan ke Penyuluh bila ada tanda-tanda serangan tikus,”paparnya.

       Disinggung regenerasi petani, Mbah Sapuan berharap anak-anak muda untuk tidak ragu menekuni usaha pertanian. Ia meyakini nantinya para millenial akan dapat menggantikan peran generasinya lebih baik dan lebih maju. “Kulo kinten dados petani niku pahalane kathah, kehidupane berkah manfaat. Wontene teknologi sakmeniko, lare-lare enom saged ndadosaken usaha pertanian langkung sae lan maju,”tandasnya. (among_wibowo, red).

Kadisperpa Tutup Giat SLPHT, Panen Ubinan Padi Kota Magelang Ciptakan Rekor Baru 12,64 Ton/ha

on .

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang resmi menyelesaikan rangkaian kegiatan SLPHT tahun 2019 di Kelurahan Magelang dengan kegiatan Panen Ubinan Simbolis di lahan SLPHT seluas 1.200 meter persegi. Hasil panen ubinan padi sawah menunjukkan hasil yang sangat signifikan, 12,64 ton GKP/hektar, melebihi rata-rata hasil capaian petani yang hanya di kisaran 7,5-8 ton GKP/hektar. Kegiatan dihadiri unsur Disperpa, BPS Kota Magelang, Koramil Magelang Tengah, Kecamatan Magelang Tengah, Kelurahan Magelang, petani peserta SLPHT serta petugas POPT dan Penyuluih Pertanian.

Kepala Disperpa Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko dalam sambutannya setelah kegiatan panen ubinan simbolis memaparkan Kota Magelang sebagai wilayah terkecil di provinsi Jawa Tengah, masih memiliki kontribusi dalam penyediaan pangan khususnya beras di Jawa Tengah meskipun tidak cukup signifikan terhadap peningkatan produksi padi nasional. Sampai saat ini, lanjut Eri, sektor pertanian masih berkontribusi positif terhadap perekonomian di Kota Magelang. Sekitar142,83 ha lahan pertanian masih berbentuk sawah irigasi teknis yang potensial untuk pengembangan sektor pertanian, khususnya tanaman pangan dan hortikultura, peternakan dan perikanan. “Sasaran produksi padi sawah tahun ini (2019) adalah 2.359ton GKP. Angka ini diperoleh dari target luas panen 397 ha dengan rata-rata produktivitas lahan 5,947 ton GKP/ha,”tegasnya.

Dalam kesempatan itu Eri mengapresiasi capaian hasil panen ubinan yang tembus 12,64 ton GKP/hektar. Angka tersebut, katanya, adalah rekor ubinan tertinggi yang pernah dicapai petani. Sebelumnya 3-4 tahun lalu di Tidar Utara angkanya baru tembus 10,8 ton GKP/hektar. “Ada peningkatan produksi sekitar 58% dari rata-rata produksi ubinan petani pada musim yang sama,”ungkapnya.

Terkait capaian panen ubinan, Eri yang didampingi Sekretaris Disperpa (Susmiyati), Kabid Pertanian(Agus Dwi Windarto), Kabid Peternakan dan Perikanan(Hadiono) dan sejumlah staf Disperpa meminta petani untuk mempertahankan capaian hasil ubinan tersebut. Ia menekankan pihaknya (Disperpa) terus mendorong petani untuk menerapkan prinsip-prinsip SLPHT dalam Budidaya Tanaman Sehat. Sejumlah keuntungan akan diperoleh petani, antara lain peningkatan kuantitas dan kualitas hasil panen padi, perbaikan daya dukung lingkungan sawah sekaligus pelestarian keseimbangan ekosistem dan rantai makanan di persawahan. “Saya harapkan yang baik diteruskan, jangan pernah berhenti untuk mencoba inovasi baru dan rekomendasi penyuluh pertanian dan POPT,”tegasnya.

 

Ditambahkannya, penerapan pertanian yang ramah lingkungan semakin berkembang karena semakin meningkatnya permintaan pasar terhadap produk-produk yang bebas residu kimia dan trend gaya hidup sehat di kalangan masyarakat perkotaan. Meningkatnya demand beras yang ramah lingkungan perlu ditangkap sebagai peluang usaha bagi petani untuk mengembangkan pertanian padi sawah yang ramah lingkungan. “Konsep dan prinsip SLPHT menjadi jawaban atas fenomena meningkatnya kesadaran masyarakat untuk megkonsumsi produk pertanian yang sehat dan bebas residu,”paparnya.

 

Sumadi, salah satu pengurus poktan Subur Makmur Gapoktan Sri Rejeki Kp. Tulung kelurahan Magelang mengucapkan terima kasih atas kesempatan poktannya mengikuti SLPHT tahun ini. Menurutnya kegiatan SLPHT dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani untuk mengelola hama dan penyakit secara ramah lingkungan dan meniminalkan penggunaan pestisida kimia yang disinyalir sebagai pemicu sejumlah penyakit kanker. “Alhamdulillah dari giat SLPHT ini kami sudah bisa membuat pestisida nabati, agensia hayati dan bakteri merah serta mengembangkan tanaman refugia (bunga matahari, bunga kertas dan kenikir) di pematang sawah,”ujarnya.

        Sementara itu, M.Slamet Haryanto menceritakan resep hasil ubinannya tembus 12,64 ton GKP/hektar tak lain karena perbibitan, olah tanah hingga panen dilaksanakan sesuai SOP. Hal yang tak kalah pentingnya adalah strategi pemilihan varietas. Sebelumnya Slamet direkomendasikan Penyuluh Pertanian untuk memilih varietas Ciherang. Pasalnya, berdasarkan pengalaman sebelumnya, Ciherang sangat cocok dan berproduksi optimal pada saat musim kemarau. “Dengan kombinasi prinsip-prinsip SLPHT, serangan OPT dapat diminimalkan dan produksi padi saya bisa maksimal,” tandasnya. (among_wibowo, red)

Kadisperpa Kota Magelang Targetkan Petani Transisi Beralih Ke Pertanian Organik

on .

MAGELANG – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang terus mendorong transisi petani menuju pertanian organik dengan menggelar Pelatihan Pembuatan Pestisida Nabati dan Agensia Hayati selama 2 hari, senin-selasa (18-19/11/2019) di aula Disperpa. Kegiatan diikuti 30 petani perwakilan dari 18 kelompok tani se-Kota Magelang. Tampil sebagai narasumber antara lain I Made Redana dan Taufik Saleh (POPT/Laboratorium PHT Kedu) serta Sam Wahyono dan Among Wibowo (KJF Penyuluh Pertanian pada Disperpa).

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutannya yang didampingi Kabid Pertanian, Agus Dwi Windarto menerangkan meskipun potensi pertanian di Kota Magelang sangat kecil, tapi tetap memiliki kontribusi secara nasional. Seberapapun angkanya, lanjut Eri, kontribusi petani dalam produksi pangan tetap ada. Untuk itu petani juga tetap perlu menjaga keseimbangan alam dan rantai makanan dalam upaya mencapai produksi pangan yang optimal. Solusinya pertanian ramah lingkungan diimbangi optimalisasi lahan melalui teknologi vertikultur, hidroponik dan teknologi lainnya. Disperpa hadir untuk memastikan kebutuhan petani dapat tercukupi untuk berproduksi di sektor pertanian dengan baik. “Saya berharap petani mulai menekuni pertanian yang ramah lingkungan, syukur-syukur dapat bersertifikasi organik,”tegasnya.

Eri mengatakan untuk mengarah menuju pertanian ramah lingkungan, bahkan pertanian organik, petani harus meningkatkan kompetensi dalam pembuatan pestisida nabati dan agensia hayati. Selain itu, petani perlu mengembangkan budidaya tanaman refugia seperti bunga matahari, bunga kertas, kenikir dan keluarga kacang-kacangan. Tanaman-tanaman tersebut dapat menjadi tanaman perangkap yang mengalihkan serangan hama dari tanaman utama. “Hadirnya musuh alami akan sangat memudahkan pengedalian hama dan penyakit selama masa produksi,”jelasnya.

Senada dengan Kadisperpa, narasumber pertama sekaligus POPT Kota Magelang, I Made Redana menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem lahan sawah dengan melestarikan kehadiran musuh alami dapat mengimbangi populasi organisme pengganggu tanaman (OPT) di persawahan. Hal ini akan memudahkan petani dalam implementasi Budidaya Tanaman Sehat (BTS) pada pertanamannya. Dalam kesempatan ini Made menegaskan temuan riset bahwa penyakit kanker ternyata lebih banyak disebabkan oleh residu pestisida pada makanan yang dikonsumsi masyarakat daripada akibat faktor genetik. “Saat ini kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang bebas pestisida semakin meningkat dan lazim menjadi gaya hidup, sehingga sangat tepat bagi petani untuk berbudidaya pertanian yang sehat dan ramah lingkungan,”ujarnya.

Sementara itu, Taufik Saleh, narasumber dari Laboratorium PHT Kedu memperkuat kompetensi petani Kota Magelang dengan pelatihan pembuatan sejumlah variasi pestisida nabati dan agensia hayati. Antara lain praktek pembuatan Plant Growth Promoting Regulator (PGPR), Pil KB Tikus dengan bahan baku utama Gadung dan Ragi Tape dan Pupuk Organik Cair (POC) yang murah dan praktis. Setelah pembuatan, Taufik juga memperagakan cara aplikasinya di lahan persawahan petani. “Memang sedikit ribet, tapi kalau petani sudah tahu manfaatnya dan biaya pembuatannya murah, saya pastikan tertarik untuk mengaplikasikannya,”paparnya.

Lain halnya dengan Among Wibowo, narasumber yang juga Penyuluh Pertanian Madya itu memotivasi petani untuk lebih jeli dalam pengamatan terhadap hama dan penyakit dan menerapkan tahapan budidaya pertanian yang ramah lingkungan secara baik dan benar. Antara lain persiapan lahan, perbibitan, pengairan berselang dan sistem tanam organik secara SRI. Pengamatan rutin terhadap hama dan penyakit dapat meminimalisir ledakan serangan OPT pada pertanaman. Pengairan berselang dapat mengefisienkan penggunaan air dan keseimbangan dalam ketersediaan air dan oksigen. “Pengairan yang berlebihan akan meningkatnya kemasaman tanah (pH tanah) dan meningkatnya serangan OPT utamanya hama sundep (Schirpopaga innotata) yang dapat berakibat fatal pada penurunan produksi padi milik petani,”jelasnya.

Terkait pengendalian hama sundep, ia merekomendasikan penyemprotan asap cair 1-2 kali seminggu. Sebagai upaya antisipasi serangan hama tikus, petani dapat melakukan kerja bakti pembersihan gulma di pematang sawah, disamping memanfaatkan pil KB yang sudah direkomendasikan narasumber sehari sebelumnya. “Saya mendorong petani untuk dapat membuat sendiri pesnab dan POC, seperti yang sudah mulai dilakukan di Kampung Tulung-Magelang,”tandasnya.

        Sementara narasumber terakhir, Sam Wahyono (Penyuluh Pertanian Madya) mengingatkan pentingnya petani untuk mengelola kelembagaan kelompok tani. Pelaksanaan pertanian yang ramah lingkungan dapat lebih sukses bila terorganisir melalui kelompok tani yang secara struktur sudah kaya fungsi. Di dalamnya sudah ada sejumlah seksi yang memadai untuk berjalannya aktivitas kelompok. Seperti seksi pertanian, seksi peternakan, seksi perikanan dan seksi alsintan. “Petani perlu memperkuat lembaganya agar dapat lebih eksis dan terarah dalam usahatani yang ramah lingkungan,”katanya. (amw, red)