• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Diaudit DKP Provinsi Jateng, Dua Kelompok Binaan Disperpa Kota Magelang Berpeluang Raih Sertifikat CBIB

on .

MAGELANG- Tim Auditor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah hari Senin (15/07) menggelar audit terhadap Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang. Kegiatan audit dilaksanakan di 2 lokasi, yakni di areal kolam budidaya Pokdakan Tidar Manfaat Barokah Kelurahan Tidar Utara dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Nusa Indah 3 Kelurahan Jurangombo Utara. Hal ini membuka peluang kedua kelompok tersebut untuk meraih sertifikat Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB).

Tim Auditor DKP Provinsi Jawa Tengah terdiri dari 2 (dua) orang, yaitu Arif Rahman Hakim dan Rohita Arum. Kegiatan tersebut dikawal langsung Kabid Peternakan dan Perikanan Disperpa, Kasi Perikanan dan Penyuluh Perikanan Magelang Selatan. Turut hadir dalam kegiatan audit, sejumlah pengurus dari kedua kelompok baik Pokdakan Tidar Manfaar Barokah maupun KWT Nusa Indah.

Koordinator Auditor DKP, Arif Rahman menerangkan bahwa pelaksanaan audit dilakukan untuk seluruh tahapan dalam kegiatan budidaya ikan. Antara lain persiapan wadah/kolam budidaya, pemilihan benih, pemberian pakan, penggunaan obat-obatan dan proses pemanenan hasil. Arif menceritakan lebih lanjut, dampak budidaya ikan terhadap lingkungan di sekitar juga menjadi unsur dalam proses audit oleh tim. Ruang lingkup Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) antara lain keamanan pangan pada usaha pembesaran ikan, penggunaan pakan dan obat-obatan, keamanan pangan pada saat panen dan pasca panen, verifikasi, tindakan koreksi dan pencatatan usaha pembudidayaan ikan. Pengendalian usaha budidaya ikan yang baik diwujudkan dalam penerapan CBIB. “Adapun unit budidaya ikan yang telah menerapkan CBIB akan mendapat sertifikat dari Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP),”imbuhnya.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam pointer yang disampaikan oleh Kabid Peternakan dan Perikanan, Hadiono menegaskan bahwa sektor perikanan masih menjadi salah sektor pembangunan yang berkontribusi dalam penyediaan pangan yang bermutu dan bergizi bagi masyarakat. Karena itu, kualitas dan keamanan produk menjadi faktor penting dalam kegiatan produksi hasil perikanan, utamanya budidaya ikan. “Sertifikasi menjadi indikator penerapan standar mutu untuk memberikan jaminan kepada konsumen, bahwa produk yang disertifikasi telah memenuhi standarmutu yang ditetapkan. Jaminannya diantaranya kualitas dan keamanan baik dari segi proses maupun produk akhir,”ungkapnya.

Sementara itu Kurnia Hardjanto, Penyuluh Perikanan Kecamatan Magelang Selatan menjelaskan bahwa sertifikasi merupakan upaya pemerintah dalam rangka pembinaan dan pengawasan terhadap pelaku usaha agar memenuhi standar mutu produksi pangan. Pendampingan dan pembinaan kelompok perikanan pada Disperpa Kota Magelang, lanjutnya, diarahkan pada penguatan jaminan keamanan dan mutu produk perikanan. Antara lain melalui sertifikasi kegiatan perikanan, mulai Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB), Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) hingga Kelayakan Pengolahan Ikan. “Sertifikasi kegiatan dan produk hasil perikanan ini sejalan dengan program pembangunan daerah yang tercantum dalam RPJMDKota Magelang Tahun 2016-2021,”tandas Kurnia.

Seperti diketahui beberapa waktu lalu, Disperpa mengajukan 2 (dua) kelompok perikanan untuk proses sertifikasi Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB), yaitu Pokdakan Tidar Manfaat Barokah dan KWT Nusa Indah 3. Pokdakan Tidar Manfaat Barokah berlokasi di Tidar Dudan, Kelurahan Tidar Utara, Kecamatan Magelang Selatan. Sedangkan KWT Nusa Indah 3 berlokasi di Jagoan 3, Kelurahan Jurangombo Utara, Kecamatan Magelang Selatan.

           Pokdakan Tidar Manfaat Barokah (TMB) yang dibentuk pada tanggal 9 September 2013 dan diketuai M. Dzaky Zamani memiliki visi untuk“Mewujudkan Tidar Dudan Sebagai Sentra Lele Yang Bermanfaat Serta Barakah”. Pokdakan TMB memiliki kegiatan utama pembesaran ikan lele, dengan dukungan unit usaha lainnya berupa unit pembenihan skala rumah tangga dan unit pengolahan ikan. Potensi produksi ikan kelompok untuk saat ini adalah 1 ton/tahun. Adapun KWT Nusa Indah 3 yang diketuai Nur Kholifah Budiase memiliki visi untuk “Terwujudnya KWT Nusa Indah 3 yang mandiri dan produktif serta mampu mensejahterakan anggota”. Kelompok Wanita ini memiliki kegiatan pembesaran ikan lele, dengan dukungan unit usaha lainnya berupa pengolahan dan pertanian. Potensi produksi ikan kelompok untuk saat ini adalah 500 kg/tahun. (among_wibowo, red)

Disperpa Kota Magelang–DKP Jateng Tebar 275 Ribu Benih Ikan Di Perairan Umum Kota Magelang

on .

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah menggelar tebar benih ikan (restocking) nila, nilem, tawes dan karper di perairan wilayah Kota Magelang pada Jumat lalu (12/07). Kegiatan diikuti pemangku wilayah, pemuka dan tokoh masyarakat, komunitas perikanan Pepiling Sungaiku, kelompok pembudidaya ikan, Masyarakat Perikanan Kota Magelang (MPKM), mahasiswa Universitas Tidar Kota Magelang dan warga masyarakat sekitar. Adapun titik kumpul di bantaran Sungai Manggis, jalan Barito Nomor 2 Kelurahan Kedungsari Kecamatan Magelang Utara Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko melalui Kasi Perikanan, Windo Atmoko mengatakan benih ikan yang ditebar mencapai 275 ribu ekor. Benih ikan berasal dari kegiatan Pengelolaan dan Pengembangan Cabang Dinas Kelautan Wilayah Selatan DKP Provinsi Jawa Tengah. Benih ikan ditebar di 27 titik di seluruh perairan umum Kota Magelang. Menurutnya kegiatan tebar benih ikan akan menjadi agenda rutin berkelanjutan yang dilaksanakan di perairan umum Kota Magelang dengan melibatkan seluruh kalangan masyarakat dan berbagai pihak terkait nantinya. Pengelolaan perairan umum, lanjutnya, sebagai salah satu upaya kegiatan perikanan dalam memanfaatkan sumberdaya secara berkesinambungan sehingga perlu dilakukan secara bijaksana. “Kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan umum melalui kegiatan penangkapan dan budidaya punya kecenderungan semakin tidak terkendali, dimana jumlah tangkap tidak lagi seimbang dengan daya pulihnya,”jelasnya. 

Windo menambahkan kegiatan restocking ini juga sudah dilakukan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun demikian tetap perlu adanya dukungan dari pihak terkait khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing melalui instansi dan pelaku usaha perikanan. Adapun manfaat kegiatan restocking ini terutama menambah stock ikan tangkapan untuk ditebarkan di perairan umum yang dianggap telah mengalami krisis akibat padat tangkap atau tingkat pemanfaatannya yang berlebihan. “Jadi perlu saya pertegas bahwa tujuan restocking selain menambah stock ikan agar dapat dipanen sebagai ikan konsumsi, juga bertujuan mengembalikan fungsi dan peran perairan umum sebagai ekosistem akuatik yang seimbang,”ujarnya.

        Terinformasi Disperpa Kota Magelang menjalin kerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Tengah untuk menyelenggarakan kegiatan tebar benih ikan (restocking) di perairan wilayah Kota Magelang. Kegiatan ini memiliki 3 tujuan sekaligus. Pertama untuk menambah populasi ikan dalam perairan. Kedua untuk mengembangkan jenis ikan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk konsumsi atau pemancingan. Dan ketiga untuk menjaga keseimbangan populasi ikan di perairan. Adapun alasan pemilihan komoditas ikan yang ditebar berupa nila, nilem, tawes dan karper dengan pertimbangan keempatnya dikenal sebagai ikan lokal yang dapat berkembang di perairan Kota Magelang. (among_wibowo, red)

Belum 2 Jam, 200 Kg Beras Medium Produksi Mitra Binaan Disperpa Ludes Diserbu Pengunjung CFD Rindam

on .

MAGELANG – Stan Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang di Car Free Day (CFD) Rindam minggu (14/07) kembali menuai perhatian masyarakat. Memasarkan beras Toko Tani Indonesia (TTI) produksi Gapoktan Sri Rejeki Kelurahan Magelang, tidak sampai 2 jam stok 200 kg beras medium itu ludes diserbu pengunjung CFD. Puluhan pengunjung silih berganti membeli beras yang hanya dibanderol Rp 8.800/kg atau Rp 44.000 per kemasan 5 kg itu. Respon positif masyarakat tersebut tentu saja bermakna ganda bagi kinerja Disperpa. Selain berkontribusi dalam pengendalian harga beras di Kota Magelang, Disperpa juga berhasil meningkatkan level kinerja Gapoktan binaan Disperpa (Sri Rejeki, red) menjadi Gapoktan produsen beras subsidi bagi Toko Tani Indonesia (TTI) di Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko melalui Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan, M.Makfud menyatakan pihaknya mengapresiasi promosi beras medium pada kegiatan CFD sehingga dapat meraih respon positif dari masyarakat pengunjung. Menurutnya kegiatan CFD sangat penting untuk ajang mempromosikan semua bentuk layanan maupun produksi yang dihasilkan oleh Disperpa, baik melalui UPT maupun mitra binaannya. “Alhamdulillah kali ini kami sudah dapat mempromosikan sekaligus ujicoba pemasaran beras medium produksi Gapoktan Sri Rejeki.,”ungkapnya.

Makfud menjelaskan soal kegiatan penyediaan beras medium untuk Toko Tani Indonesia, Kota Magelang memang mendapatkan alokasi satu Gapoktan sebagai operator kegiatan Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM), yaitu Gapoktan Sri Rejeki. Kementerian Pertanian, lanjutnya, melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) memberikan bantuan dalam bentuk alat dan mesin pertanian untuk prosesing beras senilai kurang lebih Rp 100 juta (saat ini masih proses pengadaan di tingkat Provinsi) dan dana operasional Rp 60 juta. Namun saat ini kegiatan penyediaan beras medium sudah berjalan dan mampu memproduksi sekitar 4 ton beras medium dalam kurun waktu 2 bulan terakhir.

Dia menambahkan pertimbangan dilaksanakannya kegiatan LUPM tidak lain karena seringnya harga komoditas pangan mengalami fluktuasi yang dapat merugikan petani, pelaku distribusi, dan konsumen baik secara ekonomi maupun kesejahteraan. Permasalahan utama yang terjadi selama ini yaitu tingginya disparitas harga antara produsen dan konsumen yang mengakibatkan keuntungan tidak proporsional antara pelaku usaha. “Harga yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjamin petani (produsen) mendapatkan harga yang layak, sehingga diperlukan keseimbangan harga yang saling menguntungkan, baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen,”katanya.

 

Penyuluh Pertanian Magelang Tengah, Among Wibowo selaku pendamping kegiatan LUPM Gapoktan Sri Rejeki menambahkan berdasarkan permasalahan yang sudah disampaikan oleh Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan itulah Kementerian Pertanian pada akhirnya melakukan terobosan sebagai solusi permanen mengatasi gejolak harga pangan melalui kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM). Menurutnya kegiatan tersebut dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok strategis, rantai distribusi pemasaran yang terintegrasi agar lebih efisien, harga konsumen dapat ditransmisikan dengan baik kepada harga petani (produsen), informasi pasar antar wilayah berjalan dengan baik, mencegah terjadinya Patron-Client (pemasukan pangan ke pasar suatu wilayah hanya boleh dipasok oleh pelaku usaha tertentu) dan mencegah penyalahgunaan marketpower oleh pelaku usaha tertentu. “Kegiatan LUPM secara tidak langsung berperan dalam mengatasi anjloknya harga pada masa panen raya dan tingginya harga pada saat paceklik. Selain itu LUPM menjadi instrumen Pemerintah untuk menahan gejolak harga dalam situasi tertentu, sebagai mekanisme yang berkelanjutan baik pada saat suplai melimpah dan kurang atau sebagai stabilisator, dalam menjaga pasokan pangan pemerintah bersama masyarakat,”jelasnya.

        Ditempat terpisah, pengurus Gapoktan Sri Rejeki M.Slamet Haryanto menegaskan kegiatan LUPM di Gapoktan Sri Rejeki, sudah berjalan hampir 2 bulan dan mensupply sekitar 4 ton beras medium ke sejumlah TTI di Kota Magelang. Bahkan sampai bulan Juli ini, produk berasnya 2 kali dipromosikan Disperpa di Soropadan Agro Expo 2019 dan CFD Rindam. Gapoktannya berkomitmen terus memproduksi beras medium untuk TTI. Semoga nantinya bantuan alsintan untuk prosesing dalam jangka panjang dapat memberi nilai tambah untuk panenan petani di Kota Magelang, khususnya di Gapoktan Sri Rejeki,”timpalnya (amw, red)