• Magelang Kota Sejuta Bunga
    Berangkat dari sebutan "Sebagai Tuin Van Java" (Kota Kebun atau Tamannya Pulau Jawa), Magelang dijuluki sebagai Kota Sejuta Bunga. Ibarat bunga, Kota Magelang ...
    Read more
  • Ayo Ke Magelang
    Ayo Ke Magelang

    Never Ending Eating-eating & Walking-walking ...

  • Taman Wisata Candi Borobudur
    Taman Wisata Candi Borobudur

    Mari berkunjung ke Taman Wisata Candi Borobudur, objek wisata favorit di Indonesia...

  • Magelang (1)
    Magelang (1)
  • Magelang (2)
    Magelang (2)
  • Magelang (3)
    Magelang (3)
  • Magelang (4)
    Magelang (4)
  • Magelang (5)
    Magelang (5)
  • Magelang (6)
    Magelang (6)
  • Magelang (7)
    Magelang (7)
  • Magelang (8)
    Magelang (8)
  • Magelang (9)
    Magelang (9)
  • Magelang (10)
    Magelang (10)
  • Magelang (11)
    Magelang (11)
  • Magelang (12)
    Magelang (12)
  • Magelang (13)
    Magelang (13)

Wujudkan Generasi Cerdas dan Produktif, Disperpa Kota Magelang Gandeng Dishanpan Jateng Mantapkan Gerakan Konsumsi Pangan B2SA

on .

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah, jumat (22/3) di area Pusat Perbenihan/Perbibitan Senopati, Jurangombo Utara-Kota Magelang menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk “Gerakan Konsumsi Pangan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman)” Tahun 2019. Kegiatan yang dibiayai dari APBD I Provinsi Jateng itu dihadiri langsung Kepala Disperpa Kota Magelang, pejabat struktural Dishanpan Provinsi Jawa Tengah, narasumber Chef PCPI (Persatuan Chef Profesional Indonesia), sejumlah guru dan ratusan siswa dari 4 SD terdekat yaitu SD Negeri Kemirirejo 1, SD Negeri Kemirirejo 3, SD Negeri Jurangombo 1 dan SD Negeri Jurangombo 2. Acara dimeriahkan dengan pembacaan puisi, menyanyikan jingle B2SA, demo olahan B2SA, dialog interaktif dengan siswa SD dan gerakan makan bersama dengan menu B2SA.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anak - anak akan pentingnya konsumsi pangan B2SA dan mendorong anak - anak untuk mengkonsumsi aneka ragam jenis pangan dengan porsi yang seimbang. Gerakan Konsumsi Pangan B2SA ini selain untuk mengenalkan pangan lokal kepada anak-anak, juga dimaksudkan untuk memberikan penghargaan kepada pangan lokal agar lebih sejajar dengan pangan siap saji yang lain.

Manurutnya setiap individu membutuhkan pangan yang berkualitas untuk dapat hidup sehat, aktif dan produktif. Konsumsi pangan yang berkualitas, dikatakannya, dapat diwujudkan apabila makanan yang dikonsumsi sehari - hari mengandung zat gizi lengkap dengan jumlah yang berimbang antar kelompok pangan, serta memperhatikan cita rasa, daya cerna, daya terima dan daya beli masyarakat. “Dengan begitu pola konsumsi pangan sehat atau yang lebih dikenal dengan pangan Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) bisa terwujud di level masyarakat, utamanya anak-anak. Saya yakin, dengan tekad dan kemauan yang keras segala mimpi akan dapat terwujud generasi yang sehat, cerdas, aktif dan produktif.,”ujarnya.

Ditegaskannya saat ini pola konsumsi pangan masyarakat sudah tidak lagi memperhatikan pangan lokal karena terpengaruhi oleh gaya hidup atau pola konsumsi yang sudah tidak terkendali. Padahal pangan lokal masih dapat diolah menjadi produk pangan yang sangat variatif. “Dengan kemampuan inovasi, tampilan dan rasa pangan dengan bahan baku lokal, saya kira akan dapat bersaing dengan pangan dari beras maupun bahan impor,”tandasnya.


            Kepala Dishanpan Provinsi Jawa Tengah dalam sambutan yang dibacakan Kabid Konsumsi dan Penganekaragaman Pangan, Diah Kusumarini mengatakan bahwa Kebijakan Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan sebagaimana tertuang dalam Perpres No.22, ditindaklanjuti dengan Pergub No.41 tahun 2009 yang disahkan untuk peningkatan konsumsi B2SA melalui peningkatan teknologi pengolahan pangan dan pemanfaatan pekarangan perlu adanya dukungan pihak terkait dalam upaya untuk meningkatkan citra, rasa, dan inovasi pangan berbasis pangan lokal.

            Provinsi Jawa Tengah, berdasarkan data Dishanpan, kaya akan potensi pangan lokal yang telah dikenal se-nusantara, sebut saja ubi kayu, jagung, dan ubi jalar yang hampir terdapat di seluruh wilayah Jawa Tengah. Masih banyak lagi pangan lokal yang belum optimal dalam pemanfaatannya antara lain sukun, ganyong, garut, uwi dan kacang-kacangan.

Dari aspek indikator keberhasilan konsumsi pangan, skor Pola Pangan Harapan (PPH) di Jateng, tahun 2018 mencapai 87,30 dari target 87. Namun bila dicermati per kelompok jenis pangan untuk padi-padian perlu diturunkan dan umbi-umbian, buah dan sayur serta pangan hewani perlu ditingkatkan.

Untuk itu solusinya konsumsi Pangan B2SA diharapkan dapat menjadi budaya (life style ) dalam masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif. “Saya berharap hasil dari Gerakan Konsumsi Pangan B2SA kepada anak-anak Sekolah Dasar pangan lokal dapat berdaya guna dan berhasil guna untuk mendukung peningkatan kualitas SDM Pembangunan dan mewujudkan Kedaulatan Pangan di Jawa Tengah,”ujarnya. (among_wibowo,red)

Upaya Penuhi Kroto Pakan Ternak, Disperpa Kota Magelang Gelar Pelatihan Budidaya Semut Rang-Rang

on .

MAGELANG-Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari selasa-rabu, 19-20 Maret 2019 di Aula Disperpa menyelenggarakan pelatihan budidaya semut rang-rang bagi masyarakat. Peserta pelatihan sejumlah 40 orang berasal dari 3 kecamatan di Kota Magelang.Tujuan kegiatan adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi SDM peternakan dalam budidaya semur rang-rang, mengingat potensi pasar kroto untuk sumber pakan ternak (burung) dalam trend yang positif.

 

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko, dalam samnbutannya menyatakan bahwa dalam manajement usaha budidaya ternak, pakan merupakan faktor penting untuk peningkatan produksi dan produktivitas ternak, baik ternak produksi (pangan) serta hobiis atau kesayangan. Kroto sebagai pakan burung kicau ketersediaannya sangat terbatas dan belum banyak orang yang mengusahakan budidaya semut rang-rang sebagai penghasil kroto. “Untuk memenuhi pakan burung yang berupa kroto ini, Disperpa Kota Magelang terpanggil untuk menggelar pelatihan budidaya semut rang-rang bagi masyarakat peternakan sehingga ketersediaan pakan kroto bisa dipenuhi oleh masyarakat Kota Magelang sendiri,”ujarnya.

Berkenaan dengan pelaksanaan pelatihan, Eri menyatakan bahwa pelatihan dilaksanakan selama 2 hari di Aula Disperpa dan Orientasi Lapangan (OL) ke Yogyakarta. Pada hari pertama peserta diberikan teori materi tentang budidaya semut serta teknis dan prospek bisnis budidaya semut rang-rang yang disampaikan oleh Polbangtan Magelang. Pada hari kedua peserta mengikuti praktek lapangan ,melalui kegiatan OL di pembudidaya kroto yang beralamat di Patihan, Bantul, Yogyakarta. “Kami berharap peserta dapat melihat, mengetahui dan mengaplikasikan pengetahuan budidaya semut rang-rang yang telah dipraktekkan baik dari teknis penataan kandang rak dan pemeliharaan koloni semut rang-rang,” tambahnya.

Di penghujung kegiatan, peserta pelatihan selain mendapatkan bukti sertifikat hasil pelatihan, juga mendapat bahan percontohan berupa paket toples semut rang-rang untuk dibudidayakan di rumah. Terkait bahan percontohan untuk peserta, Eri menandaskan bahwa pihaknya (Disperpa Kota Magelang) akan terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada peserta budidaya semut rang-rang sehingga bahan percontohan tersebut dapat berkembang menjadi usaha produktif yang dapat memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani ternak. (among_wibowo, red)

Liputan Khusus : Aloe vera Kota Magelang, Studi Tiru Goes to Batu-Jawa Timur

on .

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang memperkuat branding komoditas Aloe vera di Kota Magelang. Setelah beberapa waktu lalu menggelar pelatihan Aloe vera selama 3 hari di Aula Disperpa, minggu kemarin (12-15 Maret 2019), sejumlah 40 orang penggiat Aloe vera angkatan IV dari 3 kecamatan di Kota Magelang mengikuti kunjungan dan pelatihan studi tiru ke binaan Dinas Pertanian Kota Batu Provinsi Jawa Timur.

Kegiatan yang didanai dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tersebut merupakan hasil Musrenbang Kota Magelang dan Pokok-Pokok Pikiran Komisi B DPRD Kota Magelang. Rombongan yang dipimpin Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto itu disambut langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono didampingi para Kepala Bidang lingkup Dinas Pertanian Kota Batu.

Pertemuan pembuka diawali dengan ramah tamah, saling tukar cinderamata dan sharing informasi kedinasan mengenai potensi dan strategi pembangunan pertanian di masing-masing Kota, Batu dan Magelang. Terkait studi tiru, Dinas Pertanian Kota Batu sangat mendukung terjalinnya sinergi dan kerjasama di sektor pertanian antara Kota Magelang dan Kota Batu. Sugeng menyampaikan bahwa strategi pengembangan sektor pertanian di Kota Batu berorientasi klaster (pengelompokan) dan berwawasan wisata. Dicontohkannya, di wilayahnya sudah terdapat kampung padi, kampung anggrek, kampung aloe vera dan masih banyak lainnya. “Semuanya selain berorientasi klaster juga berwawasan wisata, untuk mendukung tagline Kota Wisata Batu,”imbuhnya.

Sementara itu Agus Dwi Windarto mewakili Kadisperpa Kota Magelang sangat mengharapkan peserta dapat menimba ilmu dan praktek budidaya maupun olahan Aloe vera sebanyak mungkin untuk memperkuat branding Aloe vera sebagai idola baru di Kota Magelang. “Kami merasa bersyukur bila nantinya sebagian peserta juga dapat menghasilkan produk olahan Aloe vera sebagai oleh-oleh khas Magelang yang baru,”tambahnya.

Dalam studi tiru ini peserta mendapatkan kesempatan pertama untuk mengunjungi kebun budidaya Aloe vera milik Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Anggalesta di Kelurahan Ngaglik. Di lokasi kebun seluas 0,5 ha tersebut peserta mendalami materi budidaya Aloe vera, permasalahan dan prospek pemasarannya langsung dari narasumber yang sekaligus Ketua Gapoktan, Ali Aji.

Menurut Ali Aji, di Gapoktannya terdapat 6 lokasi budidaya di lahan dan sejumlah lokasi budidaya di polibag. Gapoktan Anggalesta terdiri dari 6 poktan, tetapi yang fokus pada pengembangan komoditas Aloe vera hanya Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Rejeki. KWT Sri Rejeki ini sudah banyak menghasilkan produk olahan berbahan dasar Aloe vera. Tercatat tidak kurang dari 12 jenis olahan yang sudah dihasilkan. “Kesemuanya sudah dipasarkan secara komersial di Pusat Oleh-Oleh maupun pemasaran online,”tandasnya.

Sementara itu Ketua KWT Sri Rejeki, Sumarmi yang juga sebagai narasumber kegiatan ini membenarkan bahwa kelompoknya yang terdiri dari 30an orang anggota itu sudah eksis sejak 2011 dengan banyak produk. Menurut Sumarmi, yang juga akrab dipanggil dengan Bu Mamik itu, resep keberhasilan dan kontinyuitas usaha bersama anggotanya adalah pada pembagian tugas. Setiap anggota tidak ada yang nganggur, semua mempunyai tugas memproduksi 1-2 produk olahan dan tidak sama satu dengan lainnya. “Resep lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah gunakan modal sendiri dan upayakan produk segera memperoleh perijinan (P-IRT) dari instansi terkait,” imbuhnya.

Di penghujung kegiatan, peserta mengikuti praktek pembuatan 3 jenis olahan yaitu stick, nata dan instan Aloe vera. Selama 3 jam, peserta yang terbagi menjadi 3 kelompok itu melaksanakan praktek pembuatan olahan Aloe vera. Hasil praktek dicicipi bersama-sama sehingga masing-masing kelompok dapat mengukur keberhasilannya dalam menyerap ilmu dan ketrampilan dari narasumber.

Sejumlah peserta menyatakan kepuasannya setelah mengikuti kegiatan praktek ini, karena wawasan dan ketrampilan dalam membuat olahan Aloe vera meningkat. Salah satu peserta, Suwartomo mengatakan ada pengalaman baru yang belum pernah dia dapatkan dari pelatihan di tempat lain. Harapan dia selain dapat mengembangkan komoditas Aloe vera secara komersial di Kota Magelang juga menambah persaudaraan dan jejaring sesama penggiat komoditas Aloe vera. “ Ya, harapannya kita semua sebagai peserta ini dapat bekerjasama dan dapat manfaat ekonomi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Magelang,”ujarnya.

 

Peserta lainnya,Cory Febri, atau akrab dipanggil mbak Cory ini sehari-harinya sudah dapat menghasilkan sejumlah produk antara lain stik dan nata punya kesan lain. “Saya berangkat ke Batu dengan satu tujuan, belajar bagaimana caranya membuat instan Aloe vera. Sepertinya itu sangat prospek untuk dikomersialkan di Kota Magelang. Mudah-mudahan bisa sukses seperti harapan saya,”katanya sambil bersemangat. (among_wibowo,red)