Pastikan Pupuk dan Pestisida Tersedia Sesuai Prinsip 6 Tepat, Disperpa Kota Magelang Gelar Rakor Tim KP3

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang melalui Tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP3) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) pada hari Senin (18/3) di Aula Disperpa Jl. Kartini No.3. Rapat yang dihadiri lintas OPD itu antara lain menghadirkan tim internal Disperpa (Bidang Pertanian dan Penyuluh Pertanian), Polresta Magelang Kota, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kesehatan (DKK), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dan Bagian Perekonomian. Rapat bertujuan untuk melakukan pengawasan terhadap peredaran dan penggunaan pupuk dan pestisida di Kota Magelang secara terpadu lintas OPD.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko saat memimpin rapat menyampaikan bahwa pupuk dan pestisida merupakan saprodi yang sangat menentukan dalam pencapaian produksi pangan nasional. Pupuk dan pestisida harus tersedia sesuai prinsip 6 Tepat yaitu tepat mutu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat harga, tepat waktu dan tepat tempat. Menurutnya khusus penyediaan pupuk bersubsidi, pihaknya telah memiliki kendali melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) Pupuk Bersubsidi, disamping juga menggandeng hanya 1 Kios Pupuk Lengkap (KPL) Magersari dan mengoptimalkan pemanfaatan Kartu Tani sebagai media pembelian pupuk bersubsidi.

Kota Magelang pada tahun 2019 mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi sejumlah 73 ton pupuk Urea dan 54 ton pupuk NPK Phonska. Adapun harga eceran tertinggi (HET) untuk pupuk Urea Rp 1.800/kg dan untuk pupuk NPK Phonska Rp 2.500/kg. Pembelian dapat dilakukan secara eceran menurut kebutuhan petani pada saat pembelian.

Terkait pestisida, pihaknya mendorong Tim KP3 Kota Magelang aktif mengecek peredaran dan perijinan pestisida yang diperdagangkan di kios. Dia meminta setiap anggota Tim KP3 dapat secara rutin terjun ke lapangan untuk melihat situasi peredaran dan distribusi kedua jenis barang yang dikatergorikan barang dalam pengawasan tsb. “Saya berharap Tim KP3 yang keanggotaannya lintas OPD ini dapat menjalankan peran sesuai tupoksi masing-masing secara rutin (triwulanan), sehingga terjalin sinergi yang baik untuk tercapainya tujuan pengawasan pupuk dan pestisida, “tandasnya.

Terinformasi sepanjang tahun 2018 hingga triwulan I tahun 2019 ini situasi peredaran dan distribusi pupuk bersubsidi dan pestisida di Kota Magelang masih aman dan terkendali. Tidak ada kasus mencolok ditemukan misalnya seperti kelangkaan pupuk, penjualan pupuk bersubsidi melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun pestisida ilegal/tidak terdaftar/kadaluarsa (among_wibowo, red)

         

Kembangkan Pangan Lokal, Disperpa Gelar Pelatihan Olahan Buah-Buahan

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG - Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang tanggal 11-13 Maret 2019 lalu kembali menggelar pelatihan produk olahan berbahan baku buah bagi 45 orang anggota kelompok PKK di Kota Magelang. Kegiatan yang dihelat selama 3 hari tersebut diharapkan dapat mendukung pemantapan ketahanan pangan di Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko menyatakan bahwa pengembangan diversifikasi pangan akan semakin efektif apabila didukung oleh ketersediaan aneka ragam bahan pangan melalui pengembangan pengolahan pangan lokal dan perilaku konsumen. mengkonsumsi aneka ragam pangan. Pemanfaatan pangan lokal yang bersumber dari aneka umbi, sayur dan buah sudah banyak dikembangkan dengan dijadikan olahan pangan.

Buah adalah jenis bahan pangan yang mudah ditemukan dan banyak manfaatnya. Manfaat buah-buahan untuk tubuh sangat banyak dan beragam. Buah umumnya merupakan salah satu kebutuhan untuk hidup sehat, yaitu sebagai sumber vitamin dan dapat mencegah penyakit tertentu. Buah memiliki sifat yang mudah rusak dan mudah busuk, sehingga kadar keawetannya kurang. Oleh karena itu ada baiknya buah-buahan diolah terlebih dahulu. Sehingga lebih awet dan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari buah tersebut.

Meskipun di Kota Magelang belum banyak dibudidayakan aneka tanaman buah-buahan, akan tetapi ketersediaan buah di Kota Magelang dapat tercukupi dari daerah sekitar yang masuk ke pasar Kota Magelang. sehingga masyarakat dengan mudah memperoleh aneka macam buah-buah yang dibutuhkan. Sehingga sangat potensial untuk dikembangkan dalam diversifikasi konsumsi pangan melalui pengolahan pangan berbahan buah-buahan.

Kasi Ketersediaan dan Distribusi Pangan Bidang Pangan Disperpa Kota Magelang, M.Makfud menambahkan bahwa pelatihan digelar untuk meningkatkan keterampilan dan motivasi masyarakat dalam pengembangan diversifikasi tanaman dan pengolahannya. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di 3 lokasi yaitu Aula Disperpa Kota Magelang, SMKN 1 Temanggung dan Dapur Seruni Berbah Kabupaten Sleman DIY.

Selama 3 hari peserta mendapatkan sejumlah materi pelatihan olahan pangan berbahan baku buah-buahan, terbagi menjadi 3 season kegiatan yaitu teori, praktek dan motivasi.

  • Season 1 (hari pertama) teori bertempat di Aula Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang, dengan 2 narasumber yaitu (1) Narasumber dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakartadisampaikan oleh :Dr.Ir. Rofandi Hartanto, M.P. , (2) Narasumber dari SMKN 1 Temanggung
  • Season 2 (hari kedua) praktek pembuatan olahan pangan berbahan baku buah-buahan di SMKN 1 Temanggung. Adapun olahan pangan yang dipraktekkan antara lain dodol papaya, sari buah sirsak, sirup buah jambu biji merah, pisang aroma
  • Season 3 (hari ketiga) observasi lapangan ke Dapur Seruni Dusun Gamelan, Jetak, Desa Sendangtirto, Berbah, Kab. Sleman. Didampingi 2 narasumber yaitu Ratna Perwira dan Suyadi, peserta melakukan observasi lapangan. Dalam observasi lapangan ini, peserta diberikan motivasi untuk melakukan usaha pengolahan pangan dengan bahan organ pohon pisang. Semua organ pohon pisang dapat dijadikan olahan pangan seperti kerupuk kulit pisang, sirup daun pisang, semprong bonggol pisang, manisan kulit pisang, sambal pisang, dendeng bonggol pisang, serundeng pisang, stick jantung pisang dan teh akar pisang. Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan demo/praktek pembuatan sambal pisang.(among_wibowo, red)

Puskeswan Kota Magelang Maju Lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional 2019

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kota Magelang tahun ini (2019,red) berjuang meraih prestasi pada lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional. Lomba pelayanan publik bidang pertanian sub sektor peternakan yang diselenggarakan Kementerian Pertanian tersebut dimulai sejak tahun 2015 dan dilaksanakan dua tahun sekali.

Kepala Puskeswan, drh Heru Trisusila, senin (18/3) membenarkan informasi tersebut. Menurutnya Puskeswan sebagai salah satu unit pelayanan pada Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang itu layak mengikuti lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional yang ke-3 karena memiliki beberapa keunggulan dalam pelayanan. Juara pertama dokter hewan berprestasi tingkat Jateng tahun 2017 itu menerangkan, sebelum menjadi puskeswan yang berkantor di Jalan Pahlawan Nomor 8, statusnya masih unit pelayanan bergabung dengan Kantor  Disperpa Kota Magelang.

Puskeswan Kota Magelang yang saat ini baru menginjak usia tiga tahun (berdiri sejak berdiri 16 Maret 2016) ditangani 3 dokter hewan yaitu drh. Heru Trisusila, drh. Arif Febrianto dan drh. Farida Chandra Kumala serta 5 orang tenaga paramedis dan 3 orang groomer (petugas yang memandikan binatang). Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pelayanan vaksinasi rabies, pelayanan pemeriksaan kebuntingan dan gangguan reproduksi, pelayanan medik reproduksi dengan USG, dan pelayanan kesehatan hewan ( pemeriksaan rawat jalan, operasi bedah minor dan operasi bedah mayor).

Pelayanan lainnya antara lain perawatan hewan (grooming/mandi), inseminasi buatan, rawat inap sehat, rawat inap sakit dan pemeriksaan penerbitan surat keterangan kesehatan hewan. ‘’Jenis binatang yang dilayani meliputi ternak sapi, domba, kambing, ayam, kucing, iguana, ular, kura-kura, burung, ayam termasuk ayam Bangkok dan aneka jenis unggas. Adapun pasien tidak hanya dari Kota Magelang, tetapi juga dari Kabupaten Magelang dan  Kabupaten Temanggung,’’ ujarnya.

Heru menegaskan terkait tarif pelayanan harganya relatif  terjangkau. Menurutnya untuk biaya pelayanan kesehatan Rp 30 ribu, bedah minor Rp 50 ribu, bedah mayor Rp 100 ribu, inseminasi buatan Rp 30 ribu, rawat inap sehat Rp 25 ribu/hari, rawat inap sakit Rp 35 ribu/hari dan biaya USG Rp 60 ribu. ‘’Untuk makanan binatang bawa sendiri atau beli di koperasi Puskeswan. Karena makanan binatang seperti kucing tidak sama, tergantung pemiliknya,’’ tandasnya.

Terinformasi rata-rata pasien yang dilayani Puskewan setiap tahunnya mencapai 630 hewan baik hewan piaran, ternak dan lainnya. Penyakit hewan kecil kebanyakan disebabkan virus seperti muntah, angka kematiannya tinggi untuk kucing. Hewan besar seperti sapi biasanya cacingan.

Di akhir wawancara, terkait persiapan menghadapi lomba Abdi Bhakti Tani Tingkat Nasional tahun ini, Puskeswan terus mempersiapkan empat aspek penilaian yang terdiri atas 22 sub aspek. ‘’Syaratnya harus mempunyai indeks kepuasaan masyarakat (IMP) yang dikeluarkan Bagian Organisasi Pemkot Magelang, nilai minimal 75. Nilai Puskeswan Kota Magelang 78,23,’’ terangnya (among_wibowo, red)

Aloe vera, Komoditas Idola Baru di Kota Magelang

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG,-Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang melalui kegiatan Pengembangan Urban Farming menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Lidah Buaya (Aloe vera)di lahan sempit selama 3 hari mulai 4-6 Maret 2019. Rangkaian kegiatan ini diikuti 70 peserta dari 3 kecamatan di Kota Magelang. Tampil sebagai instruktur antara Sutardi,Api, MMA (Widyaiswara Bapeltan Soropadan) dan Imam Rodli, SPt, MMA (Pimpinan P4S Rama Vera, Wates- Kulon Progo DIY) dan Cory Febry Astuti (Selmutz Magelang). Seperti biasanya metode pelatihan menggunakan komposisi 40% teori dan 60 % praktek tentang budidaya dan pengolahan Aloe vera yang lebih baik.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Bidang Pertanian, Agus Dwi Windarto menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting sebagai modal dasar peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian Kota Magelang untuk mewujudkan pengembangan komoditas ikonik Aloe vera dalam rangka menunjang pengembangan kegiatan Urban Farming di Kota Magelang. Kegiatan yang menghadirkan sejumlah narasumber dan praktisi itu diharapkan mampu memberikan bekal ketrampilan bagi masyarakat di Kota Magelang. “Kami berharap ke depan bisa muncul beberapa dari peserta ini yang sukses sebagai pelaku agribisnis Aloe vera di Kota Magelang,”tambahnya.

Terkait pelaksanaan kegiatan, dijelaskan Agus, pada hari pertama peserta menerima materi Dinamika Kelompok dan Praktek Budidaya Aloe vera. Kemudian pada hari kedua dilanjutkan dengan materi Olahan Aloe vera dan praktek pengolahan Aloe vera menjadi ice cream, nata de aloe dan teh Aloe vera. “Selanjutnya untuk lebih memberikan wawasan tentang diversifikasi dan legalisasi produk, pada hari terakhir peserta diberikan bekal praktek pengolahan Aloe vera menjadi selai dan minuman squash serta materi Perijinan Sertifikasi P-IRT.

Salah satu instruktur pelatihan, Imam Rodli menjelaskan bahwa kiat sukses menjalani bisnis Aloe vera adalah niat ikhlas, ketekunan dan inovasi. Ditambahkannya, komoditas Aloe vera secara budidaya sangat mudah dirawat, sedangkan secara pasca panen relatif mudah dilakukan dan tidak memerlukan biaya yang terlalu mahal. “Dua kunci lainnya yang tak kalah penting adalah membangun jejaring antar pelaku agribisnis Aloe vera baik di dalam maupun di luar Kota Magelang dan memenuhi batas skala usaha, “tandasnya.

       Sementara itu perwakilan peserta pelatihan, Supartomo, di sela-sela kegiatan mengharapkan agar Disperpa secara kontinyu memberikan pembinaan dan pendampingan komunitas penggiat Aloe vera di Kota Magelang. “Saya mewakili peserta yang hadir, mohon agar Dinas dapat menjembatani kebutuhan peserta setelah pelatihan sehingga dapat terus berkembang ilmu, ketrampilan dan usahanya dalam budidaya, pengolahan dan pemasaran Aloe vera. Syukur-syukur nantinya peserta juga difasilitasi (diajak, red) untuk kunjungan lapang ke lokasi dan industri Aloe vera di luar daerah, khan peserta bisa semakin berkembang wawasannya,”ujarnya. (among_wibowo,red).