Pimpin Rakor LTT Se-Eks Kedu, Irjen Kementan : Bantuan Benih Padi Harus Ditanam dan Dipanen Tahun Ini

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG-Ada hal yang tak biasa dalam kegiatan Rapat Koordinasi Percepatan Luas Tambah Tanam (Rakor LTT) dan Penyerapan Anggaran Kementerian Pertanian se-Eks Karesidenan Kedu pada hari jumat sore lalu (26/06/2020) di aula Disperpa Kota Magelang. Biasanya Rakor LTT berlangsung selama 1-2 hari lamanya. Namun kali ini kegiatan yang dipimpin langsung Inspektur Jenderal (Irjen) Kementan itu berlangsung tidak terlalu lama (sekitar 1,5 jam), tetapi tetap berjalan penuh hikmat. Hadir dalam kegiatan ini Kepala Dinas lingkup Pertanian dari Kabupaten/Kota se-eks Karesidenan Kedu yaitu Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Kebumen dan Kota Magelang. Sejumlah target percepatan Luas Tambah Tanam Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) untuk seluruh Kabupaten/Kota di eks Karesidenan Kedu disepakati.

Inspektur Jenderal (Irjen) Kementan, Sumardjo Gatot Irianto meminta seluruh Kabupaten/Kota di eks Karesidenan Kedu untuk mendorong percepatan tanam padi pada Musim Kemarau I (MK I) ini. Menurutnya dengan kondisi cuaca Musim Kemarau yang diprediksi basah pada tahun ini, setiap daerah ada peluang untuk meningkatkan Indeks Pertanaman. Musim Kemarau basah tahun ini memunculkan peluang untuk sesekali terjadi hujan. ”Kegiatan bantuan benih padi agar dipercepat proses pengadaan, distribusi dan penanamannya. Bantuan benih yang ditanam harus dapat dipanen maksimal akhir tahun 2020,”jelasnya.


Terkait hal tersebut, Gatot mendorong agar Kabupaten/Kota untuk menerapkan deadline penanaman untuk bantuan benih padi dari Kementan sebelum berakhirnya bulan September tahun ini. Padi yang tanam sebelum akhir September akan dapat dipanen pada bulan Desember. “Target Kementerian Pertanian agar bantuan benih padi tahun ini dapat dipanen pula pada tahun ini, sehingga tidak menjadi temuan pemeriksa (KPK/BPK, red),”tandasnya.

Sementara itu Kadisperpa, Eri Widyo Saptoko dalam momen Rakor yang istimewa ini berharap Kementerian Pertanian tidak melupakan Kota Magelang hanya karena sempitnya lahan pertanian. Eri mengatakan pihaknya terus berjuang menghidupkan sektor pertanian di tengah kenyataan semakin menyempitnya lahan pertanian produktif di Kota Magelang. “Kota Magelang dulu merupakan pusat pemerintahan eks Karesidenan Kedu. Kantor Disperpa saat ini pun dulunya merupakan Kantor Pertanian Wilayah yang membawahi 6 kabupaten/kota. Secara potensi pertanian memang kecil, tapi ojo ditegakno (jangan ditinggalkan, red),”ujarnya dalam sambutan pembuka Rakor.

 

Menanggapi hal tersebut, Gatot yang juga putra daerah Klaten merespon bahwa hal-hal seperti yang disampaikan Kadisperpa sangat penting sebagai masukan bagi Kementerian Pertanian. “Informasi yang seperti ini mudah-mudahan akan sampai dan ditindaklanjuti oleh Pemerintah Pusat (Kementerian Pertanian),”jawabnya

   Terinformasi kegiatan Rakor yang sedianya dihelat sabtu pagi (27/06/2020) terpaksa dimajukan jumat sore karena ada perubahan jadwal kunjungan. Rombongan Inspektur Jenderal (Irjen) Kementan yang berjumlah sekitar 20 orang itu akan langsung meneruskan perjalanan safari kunjungan ke Cirebon, Jawa Barat setelah kegiatan Rakor di Kota Sejuta Bunga. Sebelumnya, dalam ramah tamah di ruang Kadisperpa, Sumardjo Gatot Irianto ditemani sejumlah pejabat Kementan lainnya tampak berbincang santai bersama Kadisperpa, Eri Widyo Saptoko dan staf. Mulai dari hal ringan seperti pengalaman kuliner di Warung Pak Min hingga pernak pernik pengalaman perjalanan ke sejumlah daerah. Sejumlah hidangan seperti anggur dan makanan khas Magelang mulai getuk gondok, klepon hingga pisang kepok rebus tersaji menyapa mendampingi bincang santai sore itu.  “Terima kasih Pak Kadis, teh dan kopinya mantap,”ucap Gatot kepada Eri disambut tawa yang hadir di ruangan (among_wibowo, red)

Inisiasi Produksi Pakan Murah dan Berkualitas, Disperpa Gelar Pelatihan Teknologi Pembuatan Pakan Ikan dan Budidaya Magot

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang hari selasa-rabu (23-24 Juni 2020) menggelar pelatihan Teknologi Pembuatan Pakan dan Budidaya Magot Bagi Pembudidaya Ikan Kota Magelang di aula Disperpa, Jl. Kartini No.3 Kota Magelang. Kegiatan yang menghadirkan narasumber tunggal Praktisi Perikanan dari Kabupaten Sleman itu diikuti oleh 25 peserta pembudidaya ikan se-Kota Magelang dan dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan untuk antisipasi Covid 19. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menginisiasi peserta agar dapat memproduksi pakan ikan yang murah dan berkualitas. Di sela-sela kegiatan, Disperpa menyerahkan sejumlah penghargaan antara lain Sertifikat Kompetensi Budidaya Perikanan, Sertifikat Webinar dan Surat Keterangan Cara Budidaya Ikan Yang Baik (CBIB).

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutan yang disampaikan Sekretaris Disperpa, Agus Dwi Windarto mengatakan selama ini permasalahan yang dominan untuk keberlangsungan budidaya ikan adalah ketersediaan pakan ikan dan terus meningkatnya harga pakan ikan. Eri menegaskan isu utama yang harus segera dicari solusinya adalah ketersediaan pakan ikan yang berkualitas dan murah. Menurutnya harga pakan ikan pabrikan cenderung terus meningkat sehingga meningkatkan biaya produksi ikan di Kota Magelang. “Salah satu solusi ampuh atas persoalan ini adalah meningkatkan ketrampilan pembudidaya ikan dalam membuat pakan ikan yang berkualitas dan murah,”ujarnya.

Lebih lanjut Eri menjelaskan bahwa di tengah pandemi Covid 19 dimana banyak usaha mengalami penurunan, pelatihan ini diharapkan menjadi solusi untuk mengatasi kebutuhan pakan ikan. Untuk itu ia meminta para peserta pelatihan serius mengikuti pelatihan ini. Hal ini mengingat disamping kuota peserta yang terbatas, materi pelatihan sangat relevan sebagai solusi atas semakin mahalnya harga pakan ikan dari waktu ke waktu. “Saya harapkan selain mampu menerapkan ilmu, peserta dapat menularkan ketrampilannya kepada pembudidaya ikan lainnya yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan kali ini,”harapnya.

Terinformasi kandungan nutrisi dan pemberian pakan memegang peranan penting untuk kelangsungan usaha budidaya perikanan. Penggunaan pakan yang efisien dalam usaha budidaya perikanan sangat penting karena pakan merupakan faktor produksi yang paling mahal. Upaya perbaikan komposisi nutrisi dan perbaikan efisiensi penggunaan pakan juga perlu dilakukan guna meningkatkan produksi hasil budidaya, mengurangi biaya pengadaan pakan dan meminimalkan produksi limbah pada media budidaya. Untuk mencapai sasaran tersebut perlu pemahaman tentang nutrisi dan kebutuhan nutrien, teknologi pembuatan pakan, serta kemampuan dalam pengelolaan pakan alternatif. Berdasarkan permasalahan tersebut salah satu alternatif pemecahannya adalah pembuatan pakan secara mandiri (on farm feed) dengan bahan baku lokal menjadi pilihan dan solusi termurah. Hal terpenting adalah bagaimana cara membuat “Pakan Murah yang Berkualitas”.

 

Terpisah Kabid Peternakan dan Perikanan, Hadiono didampingi Kasi Perikanan, Windo Atmoko memaparkan kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan produksi pakan secara mandiri dan meningkatkan produktivitas budidaya perikanan melalui pemanfaatan sumber daya lokal dan limbah organik di sekitar lingkungan peserta. Khusus terkait Budidaya Magot yang notabene sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan ini terinformasi bahwa organisme tersebut berasal dari larva Black Soldier Fly (BSF). Magot dihasilkan pada metamorfosis fase kedua setelah fase telur dan sebelum fase pupa yang nantinya akan menjadi BSF dewasa. “Magot bisa diproduksi dalam waktu singkat dan berkesinambungan dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ikan,”jelasnya.

        Sementara itu narasumber pelatihan, Winarta menekankan bahwa magot merupakan bahan baku pakan yang sangat baik karena mengandung protein tinggi dan berkualitas yang dibutuhkan oleh ikan. Winarta yang juga Penyuluh Perikanan Kabupaten Sleman itu mengatakan pembuatan magot mudah dilakukan oleh siapa saja dengan biaya produksi yang murah dan terjangkau dengan media utama sampah organik. Keistimewaan magot dibandingkan bahan baku pakan alternatif lainnya karena mengandung nutrien yang lengkap dan berkualitas baik untuk ikan. “Lebih praktis lagi, siapapun bisa melakukan produksi magot dengan mudah, cepat dan panen mulai umur 10-24 hari,”pungkasnya. (among_wibowo, red)

Disperpa Kota Magelang-BPTPHP Jateng Gelar Gerdal Padat Karya Pengendalian Hama Tikus Di Kota Magelang

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANGMengawali Tanam Musim Kemarau (MK I) tahun 2020, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang bekerjasama dengan Balai Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (BPTPHP) Provinsi Jateng selama 2 hari mulai hari selasa-rabu, 23-24 Juni 2020 menggelar gropyokan tikus di wilayah Kota Magelang. Lokasi Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tikus dengan pola Padat Karya ini meliputi areal persawahan di kelurahan Magelang seluas 15 hektar dan areal persawahan di kelurahan Tidar Utara seluas 6 hektar. Hadir dalam kegiatan yang menerapkan protokol kesehatan pengendalian Covid 19 ini antara lain Kepala BPTPHP Provinsi Jateng, Lurah Tidar Utara, POPT, Penyuluh Pertanian dan puluhan petani Kota Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko didampingi Sholikhun, Kasi Tanaman Pangan dan Hortikultura ditemui di ruang kerjanya mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah terhadap petani yang terdampak pandemi Covid 19. Ia juga menegaskan komitmen dan dukungannya terhadap kegiatan petani dalam produksi dan penyediaan bahan pangan di Kota Magelang. Petani, lanjutnya, merupakan garda terdepan dalam ketersediaan pangan sehingga perlu terus disupport kegiatannya. Ditegaskannya di era pandemi Covid 19, Disperpa terus melakukan pengawalan dan pendampingan melalui penyuluh pertanian untuk memastikan petani dapat terus beraktivitas secara nyaman dan terselesaikan berbagai permasalahannya. “Dengan potensi sawah yang masih 142,83 ha, dukungan kepada petani sangat berkorelasi dengan upaya-upaya pencapaian target Luas Tambah Tanam (LTT) Kota Magelang yang setiap bulannya rata-rata mendapai 30 hektar,”jelasnya.

Terpisah Kepala BPTPHP, Herawati Prasastyani mengungkapkan kegiatan Gerdal Padat Karya Hama Tikus ini wujud perhatian dan fasilitasi dari Pemerintah (BPTPHP) terhadap petani, khususnya yang terdampak pandemi Covid 19. Petani selain didorong untuk mengendalikan hama tikus secara rutin guna memninimalkan resiko serangan pada pertanaman, juga memperoleh bantuan transport sebesar Rp 100 ribu per orang. “Kegiatan ini diharapkan dapat mengamankan produksi padi di Jawa Tengah, dan petani dapat diringankan beban kehidupannya dari dampak Covid 19,”paparnya.

Sementara itu POPT Kota Magelang, Made Redana menilai sampai sejauh ini, hama tikus di Kota Magelang belum signifikan serangannya pada pertanaman padi sawah. Namun demikian kegiatan gropyokan perlu terus dilakukan agar populasi hama tikus dapat dikendalikan. Menurut Made, petani perlu mewaspadai serangan hama tikus khususnya pada musim pancaroba dari musim penghujan ke musim kemarau seperti saat ini. Secara umum biasanya hama tikus mengalami perkembangan cukup signifikan pada musim pancaroba. “Pelaksanaan gropyokan tidak hanya untuk membasmi tikus saja, tetapi juga menutup sarang tikus yang berada di tanggul pertanian,”katanya.

Terkait pelaksanaan kegiatan ini, terinformasi ada 2 jenis racun tikus yang digunakan yaitu Tiran dan Sidarat. Tiran bersifat racun pernafasan digunakan untuk mengendalikan tikus di lubang-lubang aktifnya, sedangkan Sidarat sebagai umpan yang dicampurkan dengan makanan sesuai preferensi tikus. Penggunaan Tiran lebih efektif dilaksanakan pada saat tanaman sudah memasuki fase generatif, sedangkan Sidarat efektif digunakan pada saat awal tanam hingga tanaman menjelang memasuki fase generatif. “Agar lebih efektif, maka pelaksanaannya dapat dilakukan secara kombinasi dengan melibatkan banyak orang,” ungkapnya.

 

Pada kesempatan itu Among Wibowo, Koordinator Penyuluh Pertanian Kota Magelang memastikan bahwa di masa pandemi Covid 19, petani akan terus mendapatkan pengawalan dan pendampingan Penyuluh Pertanian selama masa berproduksi. Lebih lanjut Among meminta petani mengintensifkan pengamatan dini terhadap OPT apapun secara bersama-sama. “Kegiatan pengendalian OPT utamanya hama tikus ini penting untuk memastikan petani dapat sukses meraup hasil panen padi yang telah diusahakannya selama 4 bulan,”katanya. (amw, red)

Digelar Sesuai Protokol Kesehatan, Kadisperpa Minta Peserta Pelatihan Urban Farming "Mletik Pikir"

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang tahun ini menggelar pelatihan Urban Farming dalam format berbeda. Selain mengikuti protokol kesehatan, ada hal menarik dari sisi penyelenggaraan kegiatan pelatihan kali ini. Tak pelak, selama 3 hari sejak selasa (09/06/2020) hingga kamis (11/06/2020) 105 peserta mengikuti pelatihan dalam kelompok yang lebih kecil. Setiap hari judul pelatihan yang digelar pun berbeda dengan peserta yang mayoritas juga berlainan. Judul materi pelatihan meliputi Budidaya Lada Perdu, Teknologi Vertikultur hingga Teknologi Hidroponik. Sedangkan peserta pelatihan berasal dari 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Magelang Selatan, Magelang Tengah dan Magelang Utara.
Sejumlah narasumber dari berbagai background pekerjaan seperti dosen, penyuluh pertanian, praktisi hingga pelaku usaha dihadirkan untuk memberikan pencerahan dan motivasi kepada peserta sesuai keahlian masing-masing narasumber. Secara rinci narasumber dan praktisi Pelatihan Budidaya Lada Perdu terdiri dari H.Gunawan EP (Penyuluh Pertanian sekaligus pemilik Menoreh Herbal Salaman) dan Muhammad Bahri (Pelaku Budidaya Lada Perdu, Tempuran). Selanjutnya narasumber dan praktisi Pelatihan Teknologi Vertikultur terdiri dari Siti Nurul Iftitah (dosen Fakultas Pertanian Untidar) danRayndra Syahdan (Pakis). Adapun narasumber dan praktisi Teknologi Hidroponik terdiri dari Puji Sutrisno (Ras Djava Hidroponik, Bandongan) dan Bastian Ari Nugroho (Komunitas Hidroponik Magelang).
Setiap hari, peserta yang hadir mengikuti pelatihan urban farming sesuai protokol kesehatan. Selain disyaratkan memakai masker, sebelum pelatihan mereka di cek suhu tubuhnya dengan thermo gun. Selanjutnya setiap peserta diminta untuk mencuci tangan dengan sabun dan mengikuti kelas sesuai arahan panitia kegiatan. Ke-35 peserta pelatihan dibagi menjadi 2 kelas yaitu kelas in class (teori) di Aula Disperpa dan kelas out class (praktek) di Green House Jl. Kartini. Peserta yang pada sesi pertama mendapatkan materi in class (teori), selanjutnya pada sesi kedua mendapatkan materi out class (praktek). Demikian sebaliknya peserta yang pada sesi pertama mendapatkan materi out class (praktek), pada sesi terakhir mendapatkan materi in class (teori). Hal ini semata-semata demi upaya memutus rantai penyebaran virus Corona (Covid 19) di Kota Magelang.
 
 
Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko dalam sambutan pembukaan Pelatihan Urban Farming ini mengharapkan penerapan teknologi sebagaimana dalam pelatihan ini dapat menjadi solusi efektif mensiasati keterbatasan lahan produktif di wilayah Kota Magelang. Untuk itu Eri meminta peserta untuk dapat menimba ilmu dan ketrampilan dalam pelatihan ini sebaik mungkin. Lebih lanjut Eri juga mendorong semua peserta yang mengikuti pelatihan untuk mletik pikir (bahasa jawa, red). Mletik pikir yang dalam bahasa Inggris sering diungkapkan sebagai Think Outside The Box (Berpikir Di Luar Kotak) itu berupaya untuk mendorong peserta agar mampu untuk berpikir di luar kebiasaan umum untuk meraih kemajuan. “Kota Magelang itu secara wilayah kecil, sehingga perlu inovasi-inovasi dari Bapak Ibu semua agar potensi pertanian Kota yang kita cintai ini bisa tampil dan dikenal di level Nasional,”kata Eri kepada peserta pelatihan.
 
 
 
Eri mencontohkan inovasi yang sudah dilaksanakan Disperpa di area halaman kantor Disperpa antara lain demplot hidroponik melon, semangka, kangkung, sawi dan seledri. Alhamdulillah hasilnya memuaskan untuk tahap awal. Selain memuaskan, demplot mampu memberi bukti bahwa untuk berhasil dalam pertanian perkotaan, keterbatasan luas lahan masih dapat disiasati dengan inovasi teknologi seperti hidroponik dan vertikultur. Inovasi semacam ini menurut Eri sangat berguna sebagai contoh riil bagi masyarakat Kota Magelang yang akan didorong untuk mengembangkan urban farming di lingkungannya masing-masing. “Selamat mengikut pelatihan, semoga sukses menimba ilmu dan saya berharap nanti di sela-sela mengikuti pelatihan dapat menyempatkan diri untuk melihat demplot hidroponik yang ada di Dinas,”tandasnya.
 
 
Terinformasi pelatihan Urban Farming di Kota Magelang diharapkan mampu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pertanian. Terlebih Disperpa juga sedang gencar-gencarnya membumikan dan menggalakkan pengembangan urban farming di Kota Magelang. Metode pelatihan yang menggunakan komposisi 40% teori dan 60 % praktek diyakini dapat mendukung proses pembelajaran peserta untuk memperoleh ilmu dan ketrampilan pertanian terapan yang lebih baik. Ditambah lagi sesudah mengikuti pelatihan, setiap peserta memperoleh bahan percontohan untuk dibawa pulang antara lain bibit lada perdu, media, polibag, paket lengkap teknologi hidroponik kapasitas 20 tanaman, pupuk AB Mix, vitamin B dan pestisida.
 
 
       Dengan bekal yang lebih dari cukup itu, peserta berbekal kemampuan yang diperoleh dari pelatihan diharapkan terdorong untuk memanfaatkan lahan-lahan tidur miliknya maupun bengkok Pemerintah Kota Magelang. Lahan-lahan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman lada perdu, pengembangan teknologi vertikultur dan hidrooponik secara komersial sehingga punya daya ungkit secara ekonomi bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. (among_wibowo, red).