Berikan Rasa Nyaman Perayaan Natal dan Tahun Baru, Tim Gabungan Disperpa Gelar Operasi Penertiban Daging Asal Luar Daerah

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG-Tim Gabungan Pemerintah Kota Magelang yang terdiri dari Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa), Satpol PP, Bagian Humas Setda, Polresta Magelang Kota, Kejaksaaan Kota Magelang dan Detasemen CPM Magelang hari selasa (24/12/2019) dini hari menggelar operasi penertiban penjualan daging dan hasil ternak di sejumlah titik rawan dan pasar tradisional di Kota Magelang. Pasar tradisional yang menjadi sasaran operasi antara lain pasar Rejowinangun dan pasar Gotong Royong. Dalam operasi tersebut Tim Gabungan berhasil mengamankan sejumlah bahan asal hewan (BAH) yang dinilai tidak layak dikonsumsi masyarakat. BAH tersebut langsung dimusnahkan dengan cara dibakar di kantor Disperpa Jalan Kartini No.3 Magelang.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko kamis (26/12/2019) di ruang kerjanya mengapresiasi kinerja Tim Gabungan sehingga dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat selama pelaksanaan natal 2019 dan tahun baru 2020, khususnya yang akan membeli daging dan bahan asal hewan lainnya di wilayah Kota Magelang. Eri menyatakan operasi penertiban penjualan daging dan hasil ternak merupakan kegiatan pengawasan peredaran pangan asal hewan yang bersifat rutin dan dijalankan lebih intensif terutama menjelang hari besar keagamaan termasuk natal dan tahun baru. “Operasi penertiban, selain untuk mengedukasi para pedagang daging dan hasil ternak, juga untuk memberikan efek jera bagi para pelaku/pedagang yang melakukan kecurangan,”tegasnya.

Eri menjelaskan bahwa kegiatan Pengawasan Peredaran Pangan Asal Hewan ini didasarkan pada Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2010 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Surat Keputusan Walikota Magelang Nomor : 524/95/112 Tahun 2019 tentang Pembentukan Tim Penertiban Penjualan Daging dan Hasil Ternak Dari Luar Kota Magelang.

Lebih lanjut Eri menambahkan bahwa daging yang berasal dari luar daerah harus dilengkapi Surat Keterangan Kesehatan dan Asal Daging serta harus diperiksa ulang kesehatannya oleh Dokter Hewan dan/ atau petugas di RPH setempat. Demikian halnya bila daging hendak dibawa ke luar daerah. Ia menegaskan terkait peredaran daging setiap orang dilarang menjual, mengedarkan, menyimpan, mengolah daging dan / atau bagian lainnya yang berasal dari daging ilegal, daging gelonggongan, daging oplosan, daging yang diberi bahan pengawet berbahaya yang dapat berpengaruh terhadap kualitas daging dan daging yang tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan dan tidak layak konsumsi. “Jika ada yang terbukti melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut dapat dikenai sanksi pidana dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah),”terangnya.

Terinformasi Tim Gabungan dari 6 instansi itu dalam menjalankan operasi penertiban Penertiban Daging Asal Luar Daerah pada hari selasa (24/12/2019) lalu dibagi menjadi 4 kelompok, dengan sasaran tim 1 berada di Disperpa Jalan Kartini No. 3 Magelang sebagai tim pemantau dan pelaporan, tim 2 beroperasi di pasar Gotong Royong, tim 3 menyisir rute alur distribusi jalannya daging sapi glonggongan di kawasan Karanggading Rejowinangun Selatan dan tim 4 beroperasi di pasar Rejowinangun. Seluruh anggota Tim mulai bekerja pukul 01.00 hingga pukul 07.00 mengingat pada interval waktu tersebut peredaran dan perdagangan daging ke pasar-pasar tradisional mulai ramai.

        Terpisah Kasi Peternakan, Sugiyanto mengungkapkan sejumlah temuan hasil operasi antara lain: 1) pada operasi penertiban di pasar Gotong Royong, Tim melakukan sampling terhadap 2 (dua) pedagang daging asal Boyolali membawa daging yang seberat 6 kuintal. Setelah dilakukan pemeriksaan organoleptik dan laboratorium, daging dinyatakan sehat dan layak diedarkan. 2) pada operasi penertiban terhadap pedaging daging di Karanggading, Tim tdk menemukan adanya kegiatan transaksi penjualan daging sapi asal Boyolali, 3) pada operasi penertiban di pasar Rejowinangun, Tim mengambil sampling 55 kg daging milik salah satu pedagang asal Kelurahan Jurangombo Selatan. Hasil pemeriksaan organoleptik dan laboratorium menunjukkan derajat keasaman daging mencapai pH 6,45 (pH normal daging 5,7-6,1). “Dengan pertimbangan hasil pemeriksaan, seluruh daging disita untuk dimusnahkan. Pemusnahan dilakukan dengan cara dibakar,”tandasnya. (among_wibowo, red)

Komisi B DPRD Apresiasi RPH, Disperpa Pastikan Intensif Edukasi Electric Railing System

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang menerima kunjungan Komisi B DPRD Kota Magelang hari jumat (20/12/2019) dini hari pukul 02.00 WIB. Rombongan wakil rakyat itu meninjau operasionalisasi UPT Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan Laboratorium Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang. Kegiatan bertujuan untuk melihat langsung aktivitas pemotongan hewan di Kota Magelang, terlebih tahun ini modernisasi RPH Kota Magelang sudah dilengkapi dengan railing system. Railing System merupakan sistem penggantungan karkas hewan agar tidak menyentuh lantai sehingga dapat meminimalkan kontaminasi bakteri.

Para wakil rakyat itu pun mengapresiasi pelaksanaan kegiatan penyembelihan hewan yang semakin baik didukung sarana dan prasarana baru seperti Electric Railing System. Rombongan Komisi B juga mendukung upaya Disperpa untuk terus memodernisasi sarana dan prasarana di RPH terbesar ke-7 di Provinsi Jawa Tengah itu sekaligus langkah-langkah untuk melakukan edukasi kepada para pelaku utama peternakan di Kota Magelang. Diharapkan pelayanan kepada masyarakat veteriner di RPH semakin meningkat dan menjadi garda terdepan dalam ketersediaan daging hewan yang ASUH (Aman Sehat Utuh dan Halal) bagi masyarakat.

Kepala Disperpa, Eri Widyo Saptoko hari senin (23/12/2019) menyatakan terima kasihnya atas kunjungan Komisi B DPRD Kota Magelang. Menurutnya kunjungan tersebut dapat memompa semangat dan motivasi instansinya untuk semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di Kota Magelang. UPT RPH Kota Magelang, lanjut Eri, tidak hanya melayani pemotongan hewan dari dalam Kota tetapi juga luar Kota Magelang seperti wilayah Kabupaten Magelang. Terinformasi RPH Kota Magelang yang didirikan sejak tahun 1990 itu terus berkembang hingga sekarang. Setiap harinya rata-rata melayani pemotongan sapi 9-12 ekor. Bahkan menjelang lebaran jumlahnya bisa meningkat hingga 15 ekor sapi per hari. “Setiap tahun kami terus berupaya meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan agar semakin dipercaya masyarakat,”ujarnya.

 

Terkait railing system, Eri menjelaskan operasionalisasinya dilengkapi 9 unit katrol elektrik dan 1 unit timbangan digital. Keberadaan railing system ini sangat menunjang upaya pencapaian sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV). Terinformasi railing system secara elektrik berfungsi untuk menggantung karkas atau hewan setelah disembelih sehingga memudahkan proses kelet (menguliti, red). Manfaatnya agar air dan darah dapat turun ke bawah dan keluar dari leher ternak yang telah disembelih. Nantinya proses pengulitan tidak lagi diletakkan di bawah sehingga kualitas daging lebih bersih, sehat dan awet. Diharapkan dengan sistem ini akan mempercepat proses pelayanan pemotongan hewan.

Namun demikian Eri mengungkapkan sarana dan prasarana yang baru (railing system, red) perlu didukung dengan peningkatan pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Dirinya tak menampik bahwa dalam kunjungan tersebut, para pimpinan Komisi B mendukung perlunya pelatihan bagi petugas operasionalisasi peralatan tersebut bagi pelaku usaha pemotongan dan petugas RPH. “Kami akan terus melakukan sosialisasi, pendampingan dan peningkatan kompetensi petugas yang akan menjalankan peralatan tersebut,”tandasnya.

      Di tempat terpisah, Kepala UPT RPH dan Lab Kesmavet menambahkan terkait proses penanganan hewan yang akan disembelih, pihaknya mengawali proses itu dengan memeriksa kesehatan hewan. Awalnya hewan yang akan dipotong ditenangkan dulu, dicek kesehatannya dan selanjutnya penyembelihan. Setelah hewan disembelih dilakukan pengecekan pasca penyembelihan. “Jadi kami tidak sekedar melayani pemotongan ternak saja, tetapi juga pencegahan beredarnya daging tidak sehat seperti daging glonggongan, kontaminasi cacing dan lainnya,”tukasnya. (among_wibowo, red)

Mengenal Lebih Dekat Olahan Aloe vera Selmutz, Produk Unggulan Kota Magelang Binaan Disperpa

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG – Olahan Aloe vera atau lebih dikenal dengan Lidah Buaya mulai menunjukkan geliat sebagai produk unggulan olahan pertanian di Kota Magelang. Salah satu merk ternama adalah Selmutz milik Cory Febri. Ditemui di rumahnya Wates Prontaan RT 05/RW 03 Magelang hari selasa (10/12/2019), Cori menceritakan awal mula dirinya menekuni usaha olahan Aloe vera. Berawal dari sejumlah pelatihan budidaya hingga teknik pengolahan Aloe vera yang diikutinya di Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang sejak tahun 2015, Cori berhasil mengembangkan sejumlah produk olahan berbahan baku Aloe vera. Dengan bendera merk SELMUTZ, ia sukses melakukan diversifikasi olahan Aloe vera menjadi antara lain serbuk instan Aloeverase, selai Aloe vera, nata de Aloe dan cake Aloe vera.

Lebih lanjut Cori Febri menjelaskan pospek olahan Aloe vera masih sangat terbuka mengingat respon masyarakat sangat positif atas kehadiran olahan non beras itu. Terbukti sejak menjadi binaan Disperpa pada bulan April 2016 lalu, produk buatannya laku keras di sejumlah even di dalam dan luar Kota Magelang. “Saat ini melalui pasar online dan reseller, selai Aloe vera dan serbuk instan Aloeverase merk SELMUTZ rata-rata per bulan laku terjual hingga 150 packing. Omzet per bulan berkisar 3-4 juta,”ungkapnya.

Kesuksesan mengembangkan produk olahan Aloe vera, rupanya menular positif pada sang empunya produk. Sejak tahun 2018, Cori seringkali didapuk sebagai narasumber pada Kegiatan Pelatihan Pembuatan Produk Olahan Aloe vera di Disperpa Kota Magelang, Balai Pelatihan Pertanian Provinsi Jawa Tengah di Soropadan, Temanggung dan PKK Kota Magelang. Selain itu rumah produksinya juga kerap menerima kunjungan masyarakat dari luar daerah seperti Kabupaten Magelang, Kabupaten Semarang dan Kabupaten Tulungagung. “Mereka datang untuk membuktikan dan minta dilatih proses pembuatan produk olahan Aloe vera untuk dikembangkan di daerahnya masing-masing,”tegasnya.

Ditanya kendala yang dihadapinya, Cori mengatakan sejauh ini pemasaran dan ketersediaan bahan baku masih menjadi permasalahan yang perlu segera diatasi. Terkait pemasaran, dirinya berharap banyak promosi dan pemasaran online mampu mendongkrak penjualan produknya. Sementara untuk bahan baku, Cori berupaya untuk menggandeng pelaku budidaya Aloe vera di Kota Magelang. “Saya berharap sinergi dengan pembudidaya Aloe vera seperti Mas Bowo di Tidar Campur (Tidar Selatan, red) dapat terus berkembang,”tandasnya.

 

Terinformasi mengkonsumsi lidah buaya (Aloe vera) secara rutin diyakini memiliki puluhan khasiat kesehatan. Sepuluh khasiat utama itu antara lain sebagai anti oksidan, menyembuhkan luka bakar, mengurangi plak gigi, mengobati kanker tenggorokan, mengurangi konstipasi, menurunkan gula darah, menghidrasi tubuh, menutrisi tubuh, meningkatrkan fungsi lever dan mengendalikan asam lambung. Selain bermanfaat untuk kesehatan tubuh kita, lidah buaya secara spesifik juga membantu merawat kecantikan kulit.

Dikutip dari sejumlah sumber, Ahli kecantikan dari India, Dr. Deepali Bhardwaj mengungkapkan bahwa lidah buaya kaya akan vitamin C, E, dan beta karoten yang diperlukan kulit untuk selalu sehat. Lidah buaya bisa melembabkan kulit tanpa membuatnya berminyak atau melindungi kelembaban kulit di tengah udara dingin. Manfaat lidah buaya untuk kulit lainnya adalah berguna untuk menghilangkan noda kulit, mengobati luka bakar, hingga mengatasi stretch mark. Selain itu lidah buaya juga mengandung enzim proteolytic yang bisa memperbaiki sel kulit mati di kulit kepala. Zat ini juga memberi manfaat lidah buaya untuk menyembuhkan kerontokan rambut, melembabkan rambut, dan menjadikannya kuat.

      Tak berhenti disini, lidah buaya juga dapat digunakan untuk membantu program penurunan berat badan. Fenomena ini diperkuat oleh Britt Brandon, penulis buku The Everything Guide to Aloe Vera for Health. Brandon mengungkapkan bahwa lidah buaya akan meningkatkan efektivitas diet karena tingginya kandungan asam amino, enzim, dan sterol di dalamnya. Menurutnya lidah buaya juga tinggi protein yang terbukti mampu meningkatkan perkembangan otot dan memberikan suntikan energi ketika menjalani program diet.

         Lidah buaya, baik saat dikonsumsi atau dioleskan getahnya mengandung banyak manfaat sehat. Pastikan bahwa lidah buaya yang akan digunakan adalah lidah buaya segar sehingga manfaatnya akanmaksimal. (among_wibowo, red)

Raih Nilai Tertinggi, Puskeswan Kota Magelang Sabet Plakat Utama Abdibaktitani Kementan Tahun 2019

Ditulis oleh pertanian on . Posted in Berita

MAGELANG- Pemerintah Kota Magelang melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) kembali meraih prestasi membanggakan di bidang pertanian. Adalah Puskeswan (UPT Klinik Hewan dan Laboratorium Keswan) yang menorehkan prestasi nasional itu dengan menyabet peringkat pertama penghargaan Abdibaktitani Tahun 2019 untuk kategori Unit Kerja Pelayanan Publik (UKPP) Berprestasi Utama. Penyerahan Penghargaan Abdibaktitani Tahun 2019 dihelat pada hari jumat (29/11/2019), dirangkaikan dengan Upacara HUT Korpri Tingkat Kementerian Pertanian RI. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo secara simbolis menyerahkan langsung penghargaan kepada para pemenang, sementara plakat diserahkan oleh Kepala Biro Organisasi Kementerian Pertanian.

Kepala Disperpa Kota Magelang, Eri Widyo Saptoko mengapresiasi penghargaan Abdibaktitani yang diraih Puskeswan (UPT Klinik Hewan dan Laboratorium Keswan). Menurutnya lomba atau penghargaan ini diharapkan dapat memudahkan tercapainya sasaran pembangunan dan reformasi birokrasi, sekaligus menginisiasi peningkatan kualitas pelayanan publik di bidang pertanian. Pemberian penghargaan Plakat Utama Abdibaktitani tahun 2019, lanjutnya, diharapkan akan dapat memotivasi peningkatan semangat perbaikan dan inovasi pelayanan menuju pelayanan prima. “Untuk itu saya bersyukur atas raihan Plakat Utama Abdibaktitani. Saya berharap Puskeswan tidak cepat berpuas dan terus berbenah demi terwujudnya pelayanan prima yang lebih baik kepada masyarakat Kota Magelang,”tegasnya.

Kepala UPT Klinik Hewan dan Laboratorium Kesehatan Hewan, Heru Trisusila yang mewakili Kepala Disperpa Kota Magelang dalam penerimaan penghargaan tersebut menjelaskan bahwa prestasi yang diukir Puskeswan Kota Magelang dalam ajang penghargaan Abdibaktitani tahun 2019 sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian No 786/KPTS/KP.590/M/11/2019 tertanggal 22 Nopember 2019. Puskeswan, lanjutnya meraih peringkat pertama dengan nilai tertinggi 89,22, menyisihkan lebih dari 40 UKPP di seluruh Indonesia. “Dari keikutsertaan yang pertama kali ini, Puskeswan Kota Magelang langsung berhasil meraih peringkat pertama Plakat Utama,”katanya

Heru mengungkapkan dalam kesempatan ramah tamah dengan Mentan Syahrul Yasin Limpo dan sejumlah pejabat eselon I di lingkungan Kementerian Pertanian, di mata Mentan semua yang hadir sebagai penerima penghargaan adalah representasi UKPP berprestasi. Ia menceritakan, Mentan yang akrab disapa SYL itu juga mengucapkan selamat kepada para penerima penghargaan. “Selamat kepada para penerima penghargaan, yang datang kesini berprestasi berarti sudah mampu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik dan sesuai aturan,”ujar Heru menirukan statement Mentan SYL.

     Dijelaskannya, penghargaan Abdibaktitani merupakan ajang penilaian UKPP Berprestasi sekaligus untuk menilai kualitas pelayanan. Salah satu point penting dalam penilaian itu adalah inovasi yang diterapkan dalam mendukung pelayanan. Setelah diraihnya Plakat Utama Abdibaktitani, lanjutnya, Puskeswan akan semakin fokus dalam upaya perbaikan dan peningkatan pelayanan kepada pasien. Setiap UKPP perlu melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan sebaik-baiknya untuk membantu masyarakat dalam pelayanan yg diberikan. “Sesuai arahan pak Mentan, lini pelayanan dalam bekerja perlu mengimplementasikan 3 hal yaitu Maju, Mandiri dan Modern sehingga dapat mendukung program-program dari Kementerian Pertanian. Harmonisasi juga perlu terus dilakukan antara Pusat dan Daerah,”pungkasnya. (among_wibowo, red)